TOK, TOK,
TOK!
KRING!!!
Hoaam. Pagi Dunia. Aku Vina, umurku sudah 15 tahun. Tapi
hidupku masih saja membosankan.
TOK, TOK,
TOK!
"Vina! Bangun dong buruan, Nak! Udah jam segini.
Haduh, kalo kamu telat nanti mama lagi yang ditelfon sama sekolah. Dipanggil
sama sekolah, malu kan sama orang tua murid yang lain. Kamu itu ya perempuan
tapi bangunnya siang mulu..."
Blablablabla. Itulah mama. Banyak bicara. Sudah berapa
kali aku bilang kalau itu semua membosankan? Gak akan buat aku berubah juga
kok.
Matahari pagi mengintip dari balik gorden jendela kamarku.
Mengajakku untuk berhenti mengulat dibalik selimut. Dasar matahari!
Kupaksa diriku bangkit dari kenikmatan malam, tempat
tidurku yang paling nyaman. Sahabatku. Dia yang selalu mendengarku tanpa
mengguruiku.
Setelah mandi, dan menyiapkan segala hal untuk berangkat
ke sekolah, aku pergi ke ruang makan berniat untuk menggambil setangkap roti
untuk dimakan dijalan. Tapi saat sampai di ruang makan, ada hal yang ganjil
disitu.
Ada Papa.
"Oh, Papa udah pulang ya?" Ujarku.
"Iya dong. Kamu gak seneng emangnya?" Tanya Papa
dengan sumringah.
Aku menarik salah satu bangku, dan duduk untuk ngobrol
dengan Papa sambil menikmati sarapan. "Ya, senenglah. Akhirnya, pulang
juga.."
Ruang makan pun sunyi. Aku tahu, Mama dan Papa pasti sudah
merasakan kekecewaanku. Mereka jarang ada waktu untukku, bahkan hampir tidak
pernah ada. Lalu, mereka ingin membayar semuanya dengan sarapan pagi ini?
Andai mereka benar-benar merasakan kesedihanku.
Papa pun angkat bicara untuk memecah keheningan. Tapi ia
memulainya dengan salah.
"Nanti kalau liburan, Papa janji akan ajak kamu dan
mama jalan-jalan. Mau kemana? Lombok? Bali? Atau mau ke luar negeri? Kemana?
Australia? Singapore? Tenang saja--"
"Papa cukup!" Aku lelah mendengar semua itu.
Papa dan Mama tahu itu.
Huh, Papa. Sosok yang banyak bicara juga. Membosankan.
Sudah berapa kali aku katakan bahwa semua itu gak akan merubah apapun? Aku
tahu, Papa pasti tetap akan ingkar. Semua janji itu, tidak mengubah apapun.
Aku berangkat meninggalkan mereka tanpa kata.[]
TOK, TOK,
TOK!
"Masuk." Guru piket pun mengizinkanku masuk ke
ruangannya. Huh, masalah lagi. Aku telat.
"Vina, duduk sini." Ia mempersilahkan aku untuk
duduk di depan mejanya. Aku duduk dengan segan.
"Pak, saya boleh masuk pelajaran hari ini kan Pak?
Saya menyesal sekali udah telat. Pak, tolong ya Pak?"
Pak Gusti menggebrak meja. "Menyesal? Catatan
terlambatmu sudah berlembar-lembar! Dan saya bosan mendengar kata-kata menyesal
kamu! Kamu ngerti gak sih apa arti kata menyesal sebenarnya? Dasar bodoh! Kamu
dipulangkan!"
Ya! Aku juga bosan dengar bapak yang mengoceh terus! Aku
bosan dengar kata bodoh yang harus keluar dari mulut bapak. Sudah berapa kali
aku bilang bahwa hujatan itu pun tidak akan mengubah apapun? Aku tidak akan
bisa menjadi pintar dengan kata bodoh.
Tapi aku tidak mengatakannya. Aku menunduk dan menahan
kekesalanku dengan genggaman kepalan tangan yang sangat kuat.
"Saya benar-benar ingin sekolah pak hari ini."
"Ha--" Pak Gusti baru ingin berbicara tapi
ketukan pintu memotongnya.
TOK, TOK,
TOK!
"Ya. Masuk!"
"Ehm," terlihat dari balik daun pintu seorang
pria jawa yang tampan. Dia Dani. "Misi Pak."
Dani masuk dan menyalami Pak Gusti. "Gini Pak, tadi
ada titipan surat dari teman saya, dia hari ini tidak masuk karena sakit. Ini
Pak." Dani menyodorkan sebuah amplop, dan Pak Gusti langsung merebutnya.
"Ah, pasti si Juned lagi! Banyak sekali catatan
absennya karena sakit. Dasar anak lenje!" Dan Pak Gusti pun berlalu dengan
ocehannya untuk mengambil arsip catatan absen Juned.
Seiring Pak Gusti hilang di balik daun pintu menuju ruang
arsip, ruangan piket pun sunyi. Aku dan Dani berbicara dalam diam.
Hai, Dan. Apa kabar?
Hai, Vin. Kabar baik nih. Lo gimana?
Baik-baik aja kok. Gimana di kelas?
Wah alhamdulillah deh. Di kelas? Sepi gak ada lo.
Yakin nih? Giliran ada gue aja, dicuekin. Kan gue kangen
sama lo—
"Vin," Dani pun memecah khayalanku. "Telat
lagi ya?"
"Mm, iya." Aku menjawab seadanya. Akhir-akhir
ini memang hubunganku sama Dani sedang tidak baik. Tunggu, tunggu. Jangan salah
paham ya. Kami hanya teman. Hanya teman sekelas. Hanya..
TOK, TOK,
TOK!
"Misi Pak Gustiiii," melongok dari balik daun
pintu.. Ah! 3 cewek menjijikan ini! Mereka Jenny, Jenna, dan Jinny. 3 cewek
kembar yang amat kompak. Kompak cantiknya, tapi boong. Kompak hebohnya, kompak
gosipnya, kompak cerewetnya, kompak cemprengnya!
"Hai Vinaa!" Suara melengking Jenny pun menodai
telingaku. Ah! Ada 1 keluarga Jonathan saja sudah menggangku. Ini ada 3 yang
kembar pula! Ini. Membunuhku.
"Telat lagi ya?" Tanya Jenna dengan gaya
centilnya.
Aku bangun dari tempat duduk dan berjalan keluar. Tanpa
menghiraukan mereka.
"Ih kok keluar sih! Mau kemana?" Ujar Jinny.
"Balik lah. Haha dia kan di pulangin. Gak bisa
sekolah! Hahaha." Jenny menimpalinya.
"Asik kali ya, di rumah. Atau jalan-jalan aja ke
Mall? Kabur sama pacar aja!" Sekarang aku sudah tidak peduli siapa yang
bicara. Aku terus melangkah meninggalkan mereka.
"Ih, emang Vina punya pacar ya? Ada yang mau?"
"Ohiya, hahahaha!"
BRAK!!
Aku meninggalkan mereka dengan satu bantingan pintu yang
menggetarkan seisi ruangan. Meninggalkan mereka dalam kesunyian semu. []
TOK, TOK,
TOK!
"Assalamualaikum." Aku memutuskan untuk pulang
ke rumah. Hari ini telah diawali dengan hal-hal buruk. Ya, sebenarnya sama
seperti hari-hari sebelumnya.
TOK, TOK,
TOK!
Siapa sih? Baru saja aku duduk di ruang tamu, mencoba
membuka sepatu dan kaos kaki yang sudah terasa sempit.
"Iya, sebentar." Aku berjalan untuk membuka
pintu. Aku buka dan ternyata ada Mario dibaliknya.
"Eh, Mario. Gak sekolah lo? Ngapain jam segini ke
rumah gue?"
"Ada juga gue yang nanya, cantik. Kenapa kamu gak
masuk sekolah?"
"Telat. Lo?"
"Penasaran banget ya? Haha aku lagi males aja. Terus
gue denger kabar dari anak-anak di kelas kalo kamu gak masuk. Kompak banget
sih, hehe." Dia mencolek daguku.
"Ih! Apaansi."
"Ohiya, Mama kamu mana? Ini dari mami aku."
Mario menyodorkan sebuah katalog berlian.
Mario. Cowok matre yang kebetulan tampan dan berlimpah
harta. Pacarnya segudang, dan aku tahu benar niatnya mendekatiku akhir-akhir
ini. Jualan.
Ibunya menjual berlian. Dan mama gila kan hal itu. Aku
yakin, ibunya memanfaatkan hubunganku dan Mario agar Mama mau jadi langganan
dia. Ah! Busuk!
"Vin, tau gak?" Tanya Mario seraya mengambil
tanganku.
Aku melepasnya. "Iya tau, pasti lo mau bilang kalo
gue seindah berlian."
Ia mencoba meraih tanganku kembali, tapi kutepiskan
sentuhannya. "Iya, Vin. Tau gak sih sejak pertama gue liat kamu, kamu
itu.."
Blablabla.
Aku bosan dengan semua itu! Sudah berapa kali aku bilang
bahwa semua sandiwara dan rencana busuk kalian tidak akan mempengaruhi diriku
untuk mempercayai kalian? Aku muak!
"Kok gue gak ditawarin masuk sih?" Mario mulai
mendekatiku dan mencoba merangkulku.
"Ih. Lo apaansih! Udah sana pulang. Gue lagi mau
sendiri!"
BRAK!!
Aku mengusirnya.
Huh. Aku lelah. Kucoba duduk santai di kursi panjang ruang
tamu. Kucoba memejamkan mata meninggalkan semua dusta..
TOK, TOK,
TOK!
TOK, TOK,
TOK!!
"Iya sebentar!" Baru saja aku mencoba tenang,
ada saja gangguannya. Siapa lagi sih?
"Misi Dek, kita dari Harapan Pelajar. Ini Bimbel yang
dijamin lulus 100%! Ada jaminan untuk adik dapat jalur undangan. Dapat
Universitas Negeri. Berprestasi di sekolah. Pintar, cerdas--"
"Gak, Pak. Terima kasih. Silahkan pergi." Kataku
singkat.
"Wah tapi adik harus coba dulu. Kita ada kelas Fisika
besok. Nah adik coba belajar dulu di kelas itu. Kalau enak nanti lanjut. Dan
pasti akan enak! Karena pengajar kita alumni Universitas Negeri ternama. Ada
UI, UNPAD, ITB, UG--"
"PAK!" Teriakku muak.
Sudah berapa kali sih saya tolak bimbel yang bapak
tawarkan? Setiap hari pasti kesini buat nawarin bimbel, gak bosen? Aku aja
sudah bosen banget. Dan semua omong kosong promosi bapak, tidak akan mengubah
apapun.
"Kata guru saya, saya bodoh. Silahkan bapak pergi
dari sini." Ujarku dan wajah kusutku menyertainya pergi meninggalkan
rumahku.
Kapan aku bisa istirahat? Sebentar saja. Aku kembali ke
sofa untuk mecoba beristirahat. Tanpa gangguan. Sunyi. Senyap. Tenang..
TOK, TOK,
TOK!
Ya ampun! Siapa lagi sih? Kubuka pintu, dan ternyata..
"Oh Bibi. Masuk Bi." Kataku lega.
"Bibi cuma mau balikin kunci. Hari ini Bibi gak kerja
dulu ya, anak Bibi sakit," ucapnya sambil menyodorkan kunci cadangan
rumahku. "Misi neng." Sapanya sambil berlalu pulang.
Huh, bukan siapa-siapa. Kuselonjorkan kembali tubuhku di
sofa ruang tamu yang dilapisi beludru merah.
TOK, TOK,
TOK!
Ah!!! Giliran siapa lagi sih yang ngancurin
istirahatku?
"Pagi menjelang siang Dek Vina cantik. Mama
ada?"
Temen mama? Ngapain sih? Bukannya mama lagi jalan-jalan
sama temen-temennya?
"Mm, maaf tante. Mama lagi gak di rumah."
"Oh! Jadi Mamamu itu mau kabur ya dari utang?!"
"Utang? Utang apa tante?" Tanyaku heran.
"Eh! Kamu pikir, tas, sepatu, berlian yang dia beli
di tante itu barang murahan? Asal kamu tahu ya! Harganya berpuluh-puluh juta!
Katanya orang kaya! Kapan mau bayar? Penipu! Mana Mama kamu? Mana? Hadapi tante
kalau memang punya uang buat bayar utang! Mama kamu itu kaya tapi pelit!"
Urat pelipisnya bahkan terlihat saat ia bicara.
"Mana sih mama kamu? Biar saya masuk!" Ucapnya
sambil berteriak. Kata-katanya tak mati ditelan hiruk pikuk Ibukota.
"Tapi Tante.." Aku gak nyangka Mama menyebabkan
ini semua.
"Pasti ngumpet di dalem!" Temen mama yang satu
ini pun mulai mendorongku, memaksa untuk masuk.
"Enggak tante. Gak ada! Aku janji aku kasih tau Mama
begitu dia pulang nanti." Aku mendorongnya keluar. Dan berusaha membuat
mimik semeyakinkan mungkin. Agar perempuan bersasakan rambut tinggi ini pergi
dari rumahku.
"OK. Ini terakhir kali! Awas aja!" Dia pun pergi meninggalkan
rumahku. Supirnya telah menunggu dengan mobil mewahnya di sebrang rumahku.
Huh, akhirnya dia pergi juga. Tuhan, berilah aku waktu sendiri
sebentar saja. Aku tidak peduli dengan urusan mama! Yang aku pikirkan, aku
butuh waktu sendiri. Untuk merenungi hidupku, mecoba kembali hal yang telah
kusam.
Aku tunggu beberapa menit dan tidak ada ketukan. Akhirnya,
kupikir, aku bisa tenang juga. Kuseleonjorkan kakiku di sofa panjang di ruang
tamuku dan kucoba kembali memejamkan mataku..
TOK, TOK,
TOK!
AH!! Siapa lagi sih?! Aku biarkan sajalah. Aku lelah! Bisa
mengerti tidak sih?
TOK, TOK,
TOK!!
TOK, TOK,
TOK!!!!
Terserah! Berapa kalipun dan sekeras apapun kau mengetuk
pintu itu, tidak akan aku membukanya! Pergi kau!
TOK, TOK,
TOK!!!!!
Ah--
"Assalamualaikum. Selamat siang." Suara Dani pun
memecah hiruk pikuk di jiwaku.
Dani? Ngapain dia ke rumahku?
Aku dengan cepat meraih pintu. Tapi.. Tunggu. Kurapihkan
sedikit rambutku dan menoleh singkat ke kaca jendela yang memantulkan bayangan
seorang gadis remaja berseragam putih abu-abu.
"Waalikumsalam. Iya. Sebentar." Jawabku sambil
memutar knop pintu.
"Hai, Dan. Ada apa nih?" Tanyaku malu-malu. Ia
tampak menawan dengan seragamnya yang sudah sedikit acak-acakan dan rambutnya
yang mulai tumbuh lebat.
"Hai, Vin. Ini," Dani menyodorkan telfon
genggamku. "Tadi ketinggalan di ruangannya Pak Gusti. Kebetulan pulang
cepet juga karena ada rapat guru mendadak gitu di Dinas. Jadi gue anterin deh
kesini."
"Oh, ini. Iya, ya ampun, makasih ya." Jawabku
salah tingkah dan canggung. Ah teledor banget sih, malu kan ketahuan Dani.
Sebenarnya aku berharap hubungan kami akan membaik.. Ah
sudahlah.
Percakapan pun berlangsung dalam diam.
Gimana tadi di sekolah, Dan?
Udah dibilang, sepi deh gak ada lo.
Hahaha. Bisa aja lo.
Ohiya tadi Mario nanyain lo. Dia gak sekolah juga tadi.
Oh orang itu, gausah dibahas deh. Ohiya, Dan..
Iya, Vin?
Gue..
Lo kenapa? Baik-baik aja kan?
Iya iya gue baik-baik aja. Tapi gue..
Ya, Vin?
Gue mau ngomong sesuatu..
Kenapa, Vin?
Gue kang--
"Eh, Vin, sorry nih gak bisa lama-lama. Soalnya harus
buru-buru balik, jemput adek gue. Dia pulang cepet juga nih." Ujar Dani
canggung. Ya, setelah kesunyian beberapa saat.
"Oh, iya iya. Makasih ya," ucapku salah tingkah,
lagi-lagi. "Hati-hati di jalan." Kusunggingkan senyum terbaikku
seraya mengantarkan Dani ke depan dan ia segera bergegas pergi meninggalkanku.
Sendiri.
Suasana hatiku sedikit membaik karena kunjungan Dani.
Kuputuskan untuk kembali ke sofa dan mencoba memenjamkan mata.
TOK, TOK,
TOK!
Ah!!! Baru saja satu detik! Untung suasana hatiku sedang
baik. Baiklah, akan kubukakan.
"Siapa lagi sih--"
Semua gelap. []
Mulutku diikat. Sekarang aku tidak tahu dimana aku
disekap. Yang terakhir aku ingat hanya gelap. Dan Dani, lalu teman mama, Bibi,
Bapak Bimbel, Mario..
Mario? Atau teman mama? Bibi? Dani? Gak mungkin. Bapak
Bimbel?
Entah siapas di balik pintu tua itu. Dugaanku salah satu dari mereka, karena mereka yang
tahu aku sendirian di rumah. Ah yang jelas aku tidak peduli siapa![]
Mungkin beginilah jalannya. Agar mereka semua akhirnya
kehilangan diriku. Matahari mencariku, bulan merindukanku dan bintang butuh
kemerlapku.
Mungkin inilah caranya. Agar aku akhirnya merasa
diinginkan. Diperhatikan. Sebagai makhluk Tuhan yang butuh kasih sayang.
Selamat malam dunia. Aku Vina. Tenang saja, aku masih 15 tahun. Jangan bosan ya denganku.[]
<Oleh
Gita. Jakarta, Oktober 2012.>
No comments:
Post a Comment