Thursday, October 11, 2012

TOK, TOK, TOK!


TOK, TOK, TOK!
KRING!!!
Hoaam. Pagi Dunia. Aku Vina, umurku sudah 15 tahun. Tapi hidupku masih saja membosankan.
TOK, TOK, TOK!
"Vina! Bangun dong buruan, Nak! Udah jam segini. Haduh, kalo kamu telat nanti mama lagi yang ditelfon sama sekolah. Dipanggil sama sekolah, malu kan sama orang tua murid yang lain. Kamu itu ya perempuan tapi bangunnya siang mulu..."
Blablablabla. Itulah mama. Banyak bicara. Sudah berapa kali aku bilang kalau itu semua membosankan? Gak akan buat aku berubah juga kok.
Matahari pagi mengintip dari balik gorden jendela kamarku. Mengajakku untuk berhenti mengulat dibalik selimut. Dasar matahari!
Kupaksa diriku bangkit dari kenikmatan malam, tempat tidurku yang paling nyaman. Sahabatku. Dia yang selalu mendengarku tanpa mengguruiku.
Setelah mandi, dan menyiapkan segala hal untuk berangkat ke sekolah, aku pergi ke ruang makan berniat untuk menggambil setangkap roti untuk dimakan dijalan. Tapi saat sampai di ruang makan, ada hal yang ganjil disitu.
Ada Papa.
"Oh, Papa udah pulang ya?" Ujarku.
"Iya dong. Kamu gak seneng emangnya?" Tanya Papa dengan sumringah.
Aku menarik salah satu bangku, dan duduk untuk ngobrol dengan Papa sambil menikmati sarapan. "Ya, senenglah. Akhirnya, pulang juga.."
Ruang makan pun sunyi. Aku tahu, Mama dan Papa pasti sudah merasakan kekecewaanku. Mereka jarang ada waktu untukku, bahkan hampir tidak pernah ada. Lalu, mereka ingin membayar semuanya dengan sarapan pagi ini?
Andai mereka benar-benar merasakan kesedihanku.
Papa pun angkat bicara untuk memecah keheningan. Tapi ia memulainya dengan salah.
"Nanti kalau liburan, Papa janji akan ajak kamu dan mama jalan-jalan. Mau kemana? Lombok? Bali? Atau mau ke luar negeri? Kemana? Australia? Singapore? Tenang saja--"
"Papa cukup!" Aku lelah mendengar semua itu. Papa dan Mama tahu itu.
Huh, Papa. Sosok yang banyak bicara juga. Membosankan. Sudah berapa kali aku katakan bahwa semua itu gak akan merubah apapun? Aku tahu, Papa pasti tetap akan ingkar. Semua janji itu, tidak mengubah apapun.
Aku berangkat meninggalkan mereka tanpa kata.[]
TOK, TOK, TOK!
"Masuk." Guru piket pun mengizinkanku masuk ke ruangannya. Huh, masalah lagi. Aku telat.
"Vina, duduk sini." Ia mempersilahkan aku untuk duduk di depan mejanya. Aku duduk dengan segan.
"Pak, saya boleh masuk pelajaran hari ini kan Pak? Saya menyesal sekali udah telat. Pak, tolong ya Pak?"
Pak Gusti menggebrak meja. "Menyesal? Catatan terlambatmu sudah berlembar-lembar! Dan saya bosan mendengar kata-kata menyesal kamu! Kamu ngerti gak sih apa arti kata menyesal sebenarnya? Dasar bodoh! Kamu dipulangkan!"
Ya! Aku juga bosan dengar bapak yang mengoceh terus! Aku bosan dengar kata bodoh yang harus keluar dari mulut bapak. Sudah berapa kali aku bilang bahwa hujatan itu pun tidak akan mengubah apapun? Aku tidak akan bisa menjadi pintar dengan kata bodoh.
Tapi aku tidak mengatakannya. Aku menunduk dan menahan kekesalanku dengan genggaman kepalan tangan yang sangat kuat.
"Saya benar-benar ingin sekolah pak hari ini."
"Ha--" Pak Gusti baru ingin berbicara tapi ketukan pintu memotongnya.
TOK, TOK, TOK!
"Ya. Masuk!"
"Ehm," terlihat dari balik daun pintu seorang pria jawa yang tampan. Dia Dani. "Misi Pak."
Dani masuk dan menyalami Pak Gusti. "Gini Pak, tadi ada titipan surat dari teman saya, dia hari ini tidak masuk karena sakit. Ini Pak." Dani menyodorkan sebuah amplop, dan Pak Gusti langsung merebutnya.
"Ah, pasti si Juned lagi! Banyak sekali catatan absennya karena sakit. Dasar anak lenje!" Dan Pak Gusti pun berlalu dengan ocehannya untuk mengambil arsip catatan absen Juned.
Seiring Pak Gusti hilang di balik daun pintu menuju ruang arsip, ruangan piket pun sunyi. Aku dan Dani berbicara dalam diam.

Hai, Dan. Apa kabar?
Hai, Vin. Kabar baik nih. Lo gimana?
Baik-baik aja kok. Gimana di kelas?
Wah alhamdulillah deh. Di kelas? Sepi gak ada lo.
Yakin nih? Giliran ada gue aja, dicuekin. Kan gue kangen sama lo—

"Vin," Dani pun memecah khayalanku. "Telat lagi ya?"
"Mm, iya." Aku menjawab seadanya. Akhir-akhir ini memang hubunganku sama Dani sedang tidak baik. Tunggu, tunggu. Jangan salah paham ya. Kami hanya teman. Hanya teman sekelas. Hanya..
TOK, TOK, TOK!
"Misi Pak Gustiiii," melongok dari balik daun pintu.. Ah! 3 cewek menjijikan ini! Mereka Jenny, Jenna, dan Jinny. 3 cewek kembar yang amat kompak. Kompak cantiknya, tapi boong. Kompak hebohnya, kompak gosipnya, kompak cerewetnya, kompak cemprengnya!
"Hai Vinaa!" Suara melengking Jenny pun menodai telingaku. Ah! Ada 1 keluarga Jonathan saja sudah menggangku. Ini ada 3 yang kembar pula! Ini. Membunuhku.
"Telat lagi ya?" Tanya Jenna dengan gaya centilnya.
Aku bangun dari tempat duduk dan berjalan keluar. Tanpa menghiraukan mereka.
"Ih kok keluar sih! Mau kemana?" Ujar Jinny.
"Balik lah. Haha dia kan di pulangin. Gak bisa sekolah! Hahaha." Jenny menimpalinya.
"Asik kali ya, di rumah. Atau jalan-jalan aja ke Mall? Kabur sama pacar aja!" Sekarang aku sudah tidak peduli siapa yang bicara. Aku terus melangkah meninggalkan mereka.
"Ih, emang Vina punya pacar ya? Ada yang mau?"
"Ohiya, hahahaha!"
BRAK!!
Aku meninggalkan mereka dengan satu bantingan pintu yang menggetarkan seisi ruangan. Meninggalkan mereka dalam kesunyian semu. []
TOK, TOK, TOK!
"Assalamualaikum." Aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Hari ini telah diawali dengan hal-hal buruk. Ya, sebenarnya sama seperti hari-hari sebelumnya.
TOK, TOK, TOK!
Siapa sih? Baru saja aku duduk di ruang tamu, mencoba membuka sepatu dan kaos kaki yang sudah terasa sempit.
"Iya, sebentar." Aku berjalan untuk membuka pintu. Aku buka dan ternyata ada Mario dibaliknya.
"Eh, Mario. Gak sekolah lo? Ngapain jam segini ke rumah gue?"
"Ada juga gue yang nanya, cantik. Kenapa kamu gak masuk sekolah?"
"Telat. Lo?"
"Penasaran banget ya? Haha aku lagi males aja. Terus gue denger kabar dari anak-anak di kelas kalo kamu gak masuk. Kompak banget sih, hehe." Dia mencolek daguku.
"Ih! Apaansi."
"Ohiya, Mama kamu mana? Ini dari mami aku." Mario menyodorkan sebuah katalog berlian.
Mario. Cowok matre yang kebetulan tampan dan berlimpah harta. Pacarnya segudang, dan aku tahu benar niatnya mendekatiku akhir-akhir ini. Jualan.
Ibunya menjual berlian. Dan mama gila kan hal itu. Aku yakin, ibunya memanfaatkan hubunganku dan Mario agar Mama mau jadi langganan dia. Ah! Busuk!
"Vin, tau gak?" Tanya Mario seraya mengambil tanganku.
Aku melepasnya. "Iya tau, pasti lo mau bilang kalo gue seindah berlian."
Ia mencoba meraih tanganku kembali, tapi kutepiskan sentuhannya. "Iya, Vin. Tau gak sih sejak pertama gue liat kamu, kamu itu.."
Blablabla.
Aku bosan dengan semua itu! Sudah berapa kali aku bilang bahwa semua sandiwara dan rencana busuk kalian tidak akan mempengaruhi diriku untuk mempercayai kalian? Aku muak!
"Kok gue gak ditawarin masuk sih?" Mario mulai mendekatiku dan mencoba merangkulku.
"Ih. Lo apaansih! Udah sana pulang. Gue lagi mau sendiri!"
BRAK!!
Aku mengusirnya.
Huh. Aku lelah. Kucoba duduk santai di kursi panjang ruang tamu. Kucoba memejamkan mata meninggalkan semua dusta..
TOK, TOK, TOK!
TOK, TOK, TOK!!
"Iya sebentar!" Baru saja aku mencoba tenang, ada saja gangguannya. Siapa lagi sih?
"Misi Dek, kita dari Harapan Pelajar. Ini Bimbel yang dijamin lulus 100%! Ada jaminan untuk adik dapat jalur undangan. Dapat Universitas Negeri. Berprestasi di sekolah. Pintar, cerdas--"
"Gak, Pak. Terima kasih. Silahkan pergi." Kataku singkat.
"Wah tapi adik harus coba dulu. Kita ada kelas Fisika besok. Nah adik coba belajar dulu di kelas itu. Kalau enak nanti lanjut. Dan pasti akan enak! Karena pengajar kita alumni Universitas Negeri ternama. Ada UI, UNPAD, ITB, UG--"
"PAK!" Teriakku muak.
Sudah berapa kali sih saya tolak bimbel yang bapak tawarkan? Setiap hari pasti kesini buat nawarin bimbel, gak bosen? Aku aja sudah bosen banget. Dan semua omong kosong promosi bapak, tidak akan mengubah apapun.
"Kata guru saya, saya bodoh. Silahkan bapak pergi dari sini." Ujarku dan wajah kusutku menyertainya pergi meninggalkan rumahku.
Kapan aku bisa istirahat? Sebentar saja. Aku kembali ke sofa untuk mecoba beristirahat. Tanpa gangguan. Sunyi. Senyap. Tenang..
TOK, TOK, TOK!
Ya ampun! Siapa lagi sih? Kubuka pintu, dan ternyata..
"Oh Bibi. Masuk Bi." Kataku lega.

"Bibi cuma mau balikin kunci. Hari ini Bibi gak kerja dulu ya, anak Bibi sakit," ucapnya sambil menyodorkan kunci cadangan rumahku. "Misi neng." Sapanya sambil berlalu pulang.
Huh, bukan siapa-siapa. Kuselonjorkan kembali tubuhku di sofa ruang tamu yang dilapisi beludru merah.
TOK, TOK, TOK!
Ah!!! Giliran siapa lagi sih yang ngancurin istirahatku? 
"Pagi menjelang siang Dek Vina cantik. Mama ada?"
Temen mama? Ngapain sih? Bukannya mama lagi jalan-jalan sama temen-temennya?
"Mm, maaf tante. Mama lagi gak di rumah."
"Oh! Jadi Mamamu itu mau kabur ya dari utang?!"
"Utang? Utang apa tante?" Tanyaku heran.
"Eh! Kamu pikir, tas, sepatu, berlian yang dia beli di tante itu barang murahan? Asal kamu tahu ya! Harganya berpuluh-puluh juta! Katanya orang kaya! Kapan mau bayar? Penipu! Mana Mama kamu? Mana? Hadapi tante kalau memang punya uang buat bayar utang! Mama kamu itu kaya tapi pelit!" Urat pelipisnya bahkan terlihat saat ia bicara.
"Mana sih mama kamu? Biar saya masuk!" Ucapnya sambil berteriak. Kata-katanya tak mati ditelan hiruk pikuk Ibukota.
"Tapi Tante.." Aku gak nyangka Mama menyebabkan ini semua.
"Pasti ngumpet di dalem!" Temen mama yang satu ini pun mulai mendorongku, memaksa untuk masuk.
"Enggak tante. Gak ada! Aku janji aku kasih tau Mama begitu dia pulang nanti." Aku mendorongnya keluar. Dan berusaha membuat mimik semeyakinkan mungkin. Agar perempuan bersasakan rambut tinggi ini pergi dari rumahku.
"OK. Ini terakhir kali!  Awas aja!" Dia pun pergi meninggalkan rumahku. Supirnya telah menunggu dengan mobil mewahnya di sebrang rumahku.
Huh, akhirnya dia pergi juga. Tuhan, berilah aku waktu sendiri sebentar saja. Aku tidak peduli dengan urusan mama! Yang aku pikirkan, aku butuh waktu sendiri. Untuk merenungi hidupku, mecoba kembali hal yang telah kusam.
Aku tunggu beberapa menit dan tidak ada ketukan. Akhirnya, kupikir, aku bisa tenang juga. Kuseleonjorkan kakiku di sofa panjang di ruang tamuku dan kucoba kembali memejamkan mataku..
TOK, TOK, TOK!
AH!! Siapa lagi sih?! Aku biarkan sajalah. Aku lelah! Bisa mengerti tidak sih?
TOK, TOK, TOK!!
TOK, TOK, TOK!!!!
Terserah! Berapa kalipun dan sekeras apapun kau mengetuk pintu itu, tidak akan aku membukanya! Pergi kau!
TOK, TOK, TOK!!!!!
Ah--
"Assalamualaikum. Selamat siang." Suara Dani pun memecah hiruk pikuk di jiwaku.
Dani? Ngapain dia ke rumahku?
Aku dengan cepat meraih pintu. Tapi.. Tunggu. Kurapihkan sedikit rambutku dan menoleh singkat ke kaca jendela yang memantulkan bayangan seorang gadis remaja berseragam putih abu-abu.
"Waalikumsalam. Iya. Sebentar." Jawabku sambil memutar knop pintu.
"Hai, Dan. Ada apa nih?" Tanyaku malu-malu. Ia tampak menawan dengan seragamnya yang sudah sedikit acak-acakan dan rambutnya yang mulai tumbuh lebat.
"Hai, Vin. Ini," Dani menyodorkan telfon genggamku. "Tadi ketinggalan di ruangannya Pak Gusti. Kebetulan pulang cepet juga karena ada rapat guru mendadak gitu di Dinas. Jadi gue anterin deh kesini."
"Oh, ini. Iya, ya ampun, makasih ya." Jawabku salah tingkah dan canggung. Ah teledor banget sih, malu kan ketahuan Dani.
Sebenarnya aku berharap hubungan kami akan membaik.. Ah sudahlah.
Percakapan pun berlangsung dalam diam.

Gimana tadi di sekolah, Dan?
Udah dibilang, sepi deh gak ada lo.
Hahaha. Bisa aja lo.
Ohiya tadi Mario nanyain lo. Dia gak sekolah juga tadi.
Oh orang itu, gausah dibahas deh. Ohiya, Dan..
Iya, Vin?
Gue..
Lo kenapa? Baik-baik aja kan?
Iya iya gue baik-baik aja. Tapi gue..
Ya, Vin?
Gue mau ngomong sesuatu..
Kenapa, Vin?
Gue kang--

"Eh, Vin, sorry nih gak bisa lama-lama. Soalnya harus buru-buru balik, jemput adek gue. Dia pulang cepet juga nih." Ujar Dani canggung. Ya, setelah kesunyian beberapa saat.
"Oh, iya iya. Makasih ya," ucapku salah tingkah, lagi-lagi. "Hati-hati di jalan." Kusunggingkan senyum terbaikku seraya mengantarkan Dani ke depan dan ia segera bergegas pergi meninggalkanku. Sendiri.
Suasana hatiku sedikit membaik karena kunjungan Dani. Kuputuskan untuk kembali ke sofa dan mencoba memenjamkan mata.
TOK, TOK, TOK!
Ah!!! Baru saja satu detik! Untung suasana hatiku sedang baik. Baiklah, akan kubukakan.
"Siapa lagi sih--"
Semua gelap. []

Mulutku diikat. Sekarang aku tidak tahu dimana aku disekap. Yang terakhir aku ingat hanya gelap. Dan Dani, lalu teman mama, Bibi, Bapak Bimbel, Mario..
Mario? Atau teman mama? Bibi? Dani? Gak mungkin. Bapak Bimbel?
Entah siapas di balik pintu tua itu. Dugaanku  salah satu dari mereka, karena mereka yang tahu aku sendirian di rumah. Ah yang jelas aku tidak peduli siapa![]

Mungkin beginilah jalannya. Agar mereka semua akhirnya kehilangan diriku. Matahari mencariku, bulan merindukanku dan bintang butuh kemerlapku.
Mungkin inilah caranya. Agar aku akhirnya merasa diinginkan. Diperhatikan. Sebagai makhluk Tuhan yang butuh kasih sayang.
Selamat malam dunia. Aku Vina. Tenang saja, aku  masih 15 tahun. Jangan bosan ya denganku.[]

<Oleh Gita. Jakarta, Oktober 2012.>

No comments:

Post a Comment