Tuesday, April 17, 2012

Dilema..

DARI PENULIS:
Hi bloggeys! Related to my lastest post, it was about cerita-yang-pingin-kayak-novel-tapi-gak-selesai-selesai karangan gue sendiri yeay! Yah itu gara-gara gue seneng baca novel, dan iseng nyoba. Kata Kirana, Ica, dan beberapa (BEBERAPA) teman gue yang lain sih lumayan hasilnya. Haha bahasa yang gue pake anak muda banget deh. Cenderung novel terjemahan barat. Karena itu yang gue suka baca.

I do love to read Western Novels, karena gue suka penasaran dengan gaya hidup di negara lain, bagaimana kebiasaan disana dan apa yang mereka lakukan untuk menghadapi suatu perkara. Dan karena budget gak memenuhi untuk terus-terusan beli novel bahasa inggris, jadilah belinya yang terjemahan aja. Gue lumayan suka sih sama gaya bahasa yang dipake para penerjemah.

Btw, Kirana girang banget sama Untitled- gue. Aneh ya, padahal agak abal. Ini cerpen yang gue bikin buat iseng ikut lompa cerpen nasional yang akhirnya kalah! Hahaha. Hope u like it guys!


Dilema
“Lisa bisa tidak sih kau matikan laptop dan bantu Ibu di dapur?” Tanya Ibu dengan nada bicara sedikit membentak. Itu hal yang biasa terjadi bagi Lisa.
“Ibu, bisa tunggu bentar tidak sih? Nanti aja deh.” Lisa membentak Ibunya dengan keras. Ibunya hanya bisa menghela napas dengan berat sambil menangis karena bawang merah yang sedang dikupasnya.
“Allycia Renata. Lima belas tahun. Di Jakarta. Enter!” Ucapnya girang saat mengetik di laptop hitamnya yang bermerek tidak terkenal dan menurutnya itu payah banget. Ia sedang daftar untuk satu situs jejaring sosial yang sedang top di sekolahnya.
“Kak! Gantian sama aku dong! Adek juga mau!” Teriak Thalia dari dapur. Ia sedang membantu Ibu mencuci piring. Sebenarnya itu hal terakhir yang Thalia ingin lakukan di dunia, tapi ia sedang membujuk Ibu untuk mengizinkannya pergi nanti malam bersama teman-temannya.
Lisa mengabaikan Thalia yang lama-kelamaan kesal karena tingkah kakaknya. Lisa terus menerus cekikikan tidak bergerak duduk di depan laptopnya. Enrico, yang baru berumur dua tahun pada September lalu, datang menghampiri Lisa dan memeluknya dengan manja. Enrico adalah orang terakhir yang Lisa ingin peluk. Aneh juga karena Enrico yang sangat lucu itu kan adiknya. Ya, adiknya. Adiknya yang suka mengompol dimana-mana. Awalnya sih tidak begitu masalah, pikir Lisa. Tapi seketika raut muka Lisa berubah seratus delapan puluh derajat berbeda. Dari yang awalnya cekikikan seperti kesetrum aliran cinta, berubah menjadi merah dengan cuping hidung yang mengembang-ngembang.  Dan teriakkan si sulung ini pun menggelegarkan seisi rumah.
“AAA!!!” Teriak Lisa karena tiba-tiba lantai di sekitar kakinya basah terbanjiri oleh hasil ekskresi yang dilakukan adik laki-lakinya.
“Lisa! Bisa kau jahit mulutmu? Ibu sedang berkonsentrasi dengan bawang ini!” Bentak Ibu dari dapur. Bila diketahui Lisa adalah anak yang keras kepala dan pembangkang bagaikan api, dia hanya obornya. Jangan ditanya Ibunya, beliau bagaikan api unggun yang menyala-nyala dan siap menerkam siapa saja yang melawannya. Ibunya bersifat terlalu menekan dan selalu ingin anak-anaknya terpantau dengan baik setiap harinya. Emosinya juga tidak jarang meledak-ledak.
Praaang!!!
Thalia tidak sengaja menjatuhkan dua piring sekaligus. “Oops! Maaf bu. Jangan mengamuk gitu. Aku masih bisa keluar sama teman-teman kan nanti malam?”
“Masuk ke dalam kamar! Pelajari baik-baik bagaimana caranya mencuci piring! Kalau kau berani keluar, aku tidak segan membuat peraturan Tidak Boleh Keluar Malam selamanya.”
Di depan laptop, yang terletak di ruang tengah, Lisa masih mengatasi Enrico yang tak henti menangis karena terkejut oleh teriakkan kakaknya dan piring pecah Thalia. Tapi, Lisa sempat-sempatnya menertawakan Thalia yang sudah mencuci dua tumpuk piring kotor lalu memecahkan dua piring dan harus membersihkannya serta tidak ada keluar nanti malam baginya. Merasa kakaknya telah menertawakan sekaligus mengejeknya, Thalia jengkel dan langsung mengambil segengam bawang merah yang telah Ibunya kupas dengan susah payah dan penuh air mata. Dia datang murka ke hadapan kakaknya dan ingin menjejalkan mata Lisa dengan bawang merah.
“Kau boleh satu tahun lebih tua dariku. Kau boleh menertawakanku. Tapi rasakan ini!” Dengan matanya yang bagaikan tomat, bulat dan merah karena marah dan ingin menangis, Thalia mengayunkan tangannya yang penuh bawang merah tepat ke arah mata Lisa. Tapi Thalia terpeleset oleh ompol Enrico yang masih Lisa belum bersihkan juga. Entah bagaimana, itu menyelamatkan Lisa dari amukan Thalia. Tapi malang bagi Enrico, Thalia terpeleset oleh ompolnya dan tangan penuh bawang merahnya itu terayun tidak sengaja menjejalkan bawang yang menyiksa mata itu ke mata Enrico, yang sedang merengek duduk di lantai.
***
“Keadaan siang tadi kacau banget kan?” Ujar Lisa di telepon setelah menceritakan semua yang terjadi pada siang hari kepada sahabat karibnya yang bernama Nessa. Tentu saja Nessa, yang menurut Lisa hidupnya sangat tenang, hanya bisa terdiam kehabisan kata-kata mendengar cerita Lisa.
“Aku tidak pernah hidup sepayah kamu. Aku sangat beruntung hidup di rumah yang luas bagaikan istana ini,” sombong Nessa dengan bangga, “dan tanpa adik yang menyebalkan! Hahaha!”
Lisa sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan kenyataan bahwa dia tinggal di rumah yang kecil. Dua kamar, satu kamar mandi, ruang tengah dapur dan tanpa ruang tamu maupun halaman. Dia jelas tidak banyak mengeluh walaupun rumahnya kecil karena rumahnya adalah sebuah apartemen. Apartemennya tidak jelek, bisa dibilang lumayan. Tapi apartemen itu terlalu kecil untuk hidup di dalamnya dua remaja labil, satu Ibu pekerja keras yang bahkan jika tidak ada kerjaan akan mencari kerjaan itu, dan juga satu bocah kecil yang sedang pada masa nakal-nakalnya atau sering disebut Ibu “Masa Pencarian Amarah Ibu”
Nessa selalu membuat Lisa berpikir tiga kali dalam setiap tindakkannya. Lisa bahkan menjauhi Sheila, tetangganya sekaligus teman dekatnya semenjak duduk di bangku sekolah dasar. Semua yang dilakukan Lisa menjadi keliru sejak dia masuk SMA. Tepatnya setelah dia bertemu Nessa dan perpecahan rumah tangga kedua orangtuanya.
Besok adalah hari yang sangat meneganggkan bagi Lisa. Kekacauan di dalam rumahnya saja sudah membuat Lisa muak setengah mati. Hari penentuan. Bertemu dengan keluarga Ayahnya, untuk pertama kalinya sejak hari perceraian. Lisa sangat gugup akan esok. Hari ini saja, kekacauan sudah menjadi-jadi di dalam apartemen kecilnya yang berperabot serba putih itu, Lisa tidak mau senja membawanya ke esok hari.
Malam itu Lisa tidak boleh pergi keluar. Begitu juga Thalia. Mereka berdua di hukum oleh Ibu. Thalia untuk memecahkan piring, sedangkan Lisa untuk kelalaiannya sehingga menyebabkan Enrico dilarikan segera ke rumah sakit terdekat. Kata dokter Enrico akan baik-baik saja. Dan benar, dia dan Ibu kembali ke rumah pada pukul 07.00.
“Lisa, bisa kau bukakan pintu? Ibu sedang menggendong Enrico. Dia tertidur sangat lelap setelah menangis dua jam berturut-turut,” teriak Ibu dari luar,”dan ada Nessa datang berkunjung.” Teriakkan Ibu sama sekali tidak menentramkan hati atau apa, melainkan membuat hati jengkel.
“Sebentar Bu! Kau bisa sabar sedikit dan tidak berteriak nggak sih?” Ujar Lisa dengan tidak terlalu keras saat mengucapkan kalimat kedua. Dia tahu bahwa kalau Ibunya sampai mengetahui dia berbicara seperti itu di tengah masa hukumannya, dia akan mendapat banyak masalah dengan si nyonya rumah.
“Hai Lisa. Hukuman tidak boleh keluar rumah malam minggu? Menyakitkan. Apalagi dengan kondisi rumahmu yang seperti ini,” kata Nessa, “kau bahkan tidak bisa mengadakan pesta disini.”
“Jangankan pesta, untuk berguling-guling seperti babi gila saja susah!” Ucapnya dan langsung cekikikan dengan Nessa.
Apartemen ini dibeli oleh Ibu Lisa saat masih bekerja di suatu perusahaan terkenal dan tidak harus pulang pada jam makan siang untuk mengecek anak-anaknya, tepatnya sebelum bercerai. Bel apartemen berbunyi untuk sesaat. Menandakkan kunjungan tak terduga. Dia datang. Sheila datang tak terduga pada malam yang tidak begitu baik karena Nessa sedang berada di dalamnya.
“Hai Lisa. Apa kabarmu?” Tanyanya.
“Aku mati!” Jawab Lisa yang langsung mengundang tawa Sheila.
“Kau memang lucu seperti biasanya,”
Nessa tampak tidak senang dengan kunjungannya itu. Dia sangat membenci Sheila, maka dia menghasut Lisa untuk menjauhi Sheila. Entah apa yang membuatnya sangat membenci si kutu buku itu, hanya ia dan Tuhan yang tahu.
“Aku bawakan ini,” Sheila memberi sekeranjang buah dalam rangka kunjungan tetangga. Ayah Sheila adalah seorang pengusaha toko buah di sebuah pasar tradisional. Setiap malam minggu, ia selalu berkeliling mengunjungi rumah teman-temannya yang terdekat. Kebetulan lokasi apartemen Lisa hanya berjarak 300 meter dari kampung tempat Sheila tinggal. Ia tidak tinggal di rumah mewah ataupun sebuah apartemen mahal. Hanya sebuah rumah tua yang sudah reot, yang memberinya rasa syukur luar biasa.
“Trims.” Jawab Lisa singkat. Ia sebenernya senang sekali atas kunjugan sahabat lamanya. Tapi ia tahu bila ia menunjukkan perasaannya di depan sahabat barunya, Nessa akan segera pulang dan Lisa tidak mau itu terjadi. Ia merasa dilema. Seperti hembusan angin dari dua kutub yang berbeda. Sheila dan Nessa.
Lisa sempat bertengkar dengan Thalia hanya karena masalah sepele. Sudah sering mereka lakukan. Bahkan jika suatu hari tanpa pertengkaran, mereka akan mencari hal untuk dipertengkarkan.
“Kau masih suka bertengkar dengan Thalia ya?”
“Begitulah,” jawab Lisa dengan perasaan yang ganjil setiap orang mempertanyakan hal ini. Ia begitu iri dengan tali persaudaraan yang terjalin baik di dalam keluarga sederhana Sheila. “Kau mau minum apa?”
Sebelum Sheila menjawab, Nessa sudah terlalu muak melihat wajah Sheila di dalam apartemen itu. “Nggak usah deh berlama-lama disini! Apartemen Lisa sudah semakin sempit dengan datangnya si babi gila ini! Mau berguling-guling? Langsung hancur deh apartemennya.”
Lisa tidak akan membiarkan dirinya untuk tertawa, tapi ia sudah tidak tahan. Dia tertawa sangat keras dan itu membuat hati Sheila terluka.
***
            “Aku akan kembali nanti siang,” ujar Lisa kepada ibunya.”Jangan pernah biarkan Thalia memasuki kamarku.”
            “Hei! Aku hanya ingin mengambil ikat pinggangku balik!” Teriak Thalia yang usaha mengendap-endap–ke–kamar–Lisa–nya gagal total.
            “Sayangnya, itu milikku,” cibir Lisa. Dia mengambil tas ranselnya dengan berat hati dan membungkus roti bakarnya yang terlihat begitu coklat ke dalam tisu. “Bermimpi saja memilikinya!”
            “Itu milikku! Dasar gila!” Dan mereka mulai berteriak satu sama lainnya.
            “Yaya aku gila, berarti kau adiknya orang gila!”
            “Siapa juga yang mau jadi adiknya orang gila!”
            “Kau, bodoh! Kau bilang aku gila berarti–“
            “Tapi bukan seperti–“
Dan sekarang giliran Ibu yang berteriak. “CUKUP! Kalian memang gila tega-teganya membuatku menjadi gila berada di rumah ini!” Ibu jengkel sekali karena teriakkanya itu tentu membangunkan Enrico yang jelas masih tidur pada pukul 08.00 hari minggu gini. “Lisa, kau lebih baik pergi sekarang, jangan membuang waktu.”
Lisa segera pergi tanpa ingin mengundurnya lebih lama untuk membersihkan ompol Enrico.
***
            Seperjalanan pulang, Lisa hanya bisa memikirkan kata-kata neneknya tadi. Apa yang terjadi diantara mereka tadi. Dan apa yang mereka selisihkan.
“Semua salah Ibumu! Ayahmu berselingkuh juga karena Ibumu! Tidakkah kau pernah menyadari? Oh memang benar Rissa telah mempengaruhi pikiran anak-anaknya untuk membelanya! Dasar  perempuan jalang!” Sudah setengah jam kiranya Nenek Mirna menghasut pikiran cucunya untuk tinggal bersamanya. Segala cara ia lakukan, bahkan dengan menjelek-jelekan pihak lain.
“Jangan pernah melecehkan Ibuku!” Teriak Lisa sangat emosional. Dia sudah tidak tahan. Hampir setiap malam, sejak perceraian kedua orangtuanya tiga bulan yang lalu, Neneknya yang masih berumur lima puluh tahun itu menelponinya terus-menerus hanya untuk membujuknya untuk datang ke rumah mewahnya. Lisa sudah tahu kalau pada akhirnya dia akan dibujuk –atau lebih tepatnya dipaksa– untuk tinggal bersama Neneknya yang kurang ia sukai itu.
“Aku hanya bicara kebenaran. Perempuan cantik dan pintar seperti kau lebih baik tinggal bersamaku disini dibanding dengan si perempuan kasar itu. Dan berhenti menyalahkan kepergian Ayahmu. Mungkin dia tidak sayang pada anaknya. Tapi aku menyayangimu.”
“Kau tidak tahu apa-apa!” Air mata mengalir di pipi Lisa yang sudah sangat pucat. “Dan sayangnya aku bukan anak yang baik, aku tidak akan mau tinggal denganmu!”
“Oh oh! Kau tidak pernah menyadarinya ya? Ibumu benar-benar perempuan kasar! Sampai kau jadi kasar begini!”
“Dia tidak pernah kasar saat masih menikah dengan Ayah! Dia menjadi begitu karena perceraian dan kehilangan jabatannya!” Lisa merasa menang karena dia punya argument yang kuat.
            “Pekerjaannya yang lama sebelum menjadi Sales Promotion Girl ya? Oh manager di sebuah hotel ternama? Aneh jika dia tidak meniduri beberapa lelaki disana!”
Pikiran Lisa kacau dan langsung pergi dengan membanting pintu. Dia bersumpah tidak pernah mau bertemu Neneknya itu lagi.
***
“Apa yang tadi nenekmu katakan?” Tanya Ibu. Ibu memang membenci Nenek Mirna, tapi ia tidak pernah berusaha menjauhi anak-anaknya dari janda tua itu. Bagaimana pun, menurutnya, Mirna adalah nenek dari anak-anaknya. Tapi dia tidak pernah berusaha mempertemukan anak-anaknya dari mantan suaminya yang dia anggap begitu tega.
“Mau tau saja!” Teriak Lisa. Ia juga kaget mendapati dirinya tega berteriak seperti itu ke pada Ibunya yang tengah membersihkan dapur. Pikirannya sangat kacau. Ia begitu banyak dilema. Antara Nessa dan Sheila. Ibunya atau Ayahnya yang bersalah. Ibunya atau Neneknya yang benar. Apartemen kecil atau rumah mewah untuk ditempati. “Berselingkuh saja dengan laki-laki di hotel sana!”
“Beraninya kau bicara seperti itu!” Ibu menampar Lisa dan Lisa menahan tangis keluar dari apartemen dengan membanting pintu.
Ia mendengar Ibunya berteriak minta maaf dan beberapa hal yang sama sekali tidak diperdulikannya lagi. “Lisa! Maafkan aku. Thalia baru saja pulang dari kantor polisi karena tertangkap basah melakukan shoplift. Pikiranku sangat kacau. Maafkan aku!” Lisa bahkan menutup telinganya rapat-rapat.
Lisa menelpon Nessa untuk bertanya kegiatan apa atau tempat apa yang cocok untuk menenangkan dirinya yang sedang kacau ini. Nessa menyarankan Lisa untuk menyusul ke sebuah klub di Kemang.
“Nessa! Ini alkohol! Besok kita masuk sekolah dan tidak mungkin kau tidak terlambat kalau seperti ini dan… dan kau sudah melewati batas keterlambatan di sekolah!”
“Oke. Pertama, ini memang alkohol, bodoh! Kedua, peduli amat kau tentang diriku!”
“Aku ini sahabatmu–”
Nessa meninggalkannya dan menari di lantai dansa dengan seorang pria yang tidak segan untuk melecehkan tubuh Nessa.Lisa hanya bisa diam seribu kata melihat kelakuan temannya.
Seorang pria yang sedari awal Lisa perhatikan, datang menghampirinya. Dia hampir saja mati berdiri mendapati pria keren itu berbicara padanya.
            “Minumlah. Aku yang bayar.” Kata pria yang bernama Danu dan berumur 17 tahun itu.
“Boleh deh.” Lisa seperti sudah dihipnotis. Dia pernah bersumpah untuk tidak pernah mengisap rokok, minum alkohol ataupun menjadi pecandu narkoba. Tapi dunia seakan berjungkil balik malam itu. Wajah Danu benar-benar membutakannya sehingga dia mampu mengahabiskan tiga gelas minuman beralkohol tinggi dan mengisap rokok.
Danu terus menjerumuskan Lisa pada hal yang bahkan tidak pernah Lisa bayangkan. Nessa pulang dengan mabuk berat tanpa memikirkan bagaimana nasib Lisa selanjutnya. Pada gelas ke-empat, Lisa mengeluarkan semua isi perutnya ke wajah Danu. Danu sontak kaget dan meningglkan Lisa dengan umpatan yang kasar. Tapi beruntung bagi Lisa, ia tersadar. Ia harus pulang, tahu kalau Ibunya pasti sangat khawatir mendapati anak gadisnya belum pulang juga sampai pukul satu malam.          
Lisa berlari meninggalkan Danu dan menyadari bahwa Nessa telah meninggalkannya sejak pukul 11 malam. “Sial! Aku ditipu!”
Dia terus berlari dan berlari. Jauh meninggalkan klub tersebut. Klub malam adalah sebuah mimpi buruk baginya. Ia menyadari diri sangat bodoh saat berada disitu. Pada jarak 300 meter ia berlari, dia memutuskan memberhentikan taksi dan pulang dengan selamat ke pelukan Ibunya yang hangat. Taksi itu sudah berhenti dan berada di seberang trotoar tempat Lisa berdiri dengan lunglai. Kepalanya masih sakit sekali, perutnya seakan ingin mengeluarkan lambungnya yang rentan akan penyakit itu dan kaki-kakinya lemas bagaikan tulang-tulangnya akan rapuh saat itu juga.
Lisa sama sekali tidak menyadari adanya mobil sedan yang sedang dalam kecepatan 200 km/jam melaju saat ia menyebrangi jalan raya malam yang sepi. Dan baru diketahui mobil itu sedang ada dalam balapan ilegal.
            Lisa bahkan tidak berteriak saat mobil sedan modifikasi itu mengeluarkan bunyi decitan rem dan membuatnya terpental sejauh 2 meter. Semua gelap baginya. Yang ada hanya wajah Ayahnya yang mencampakkannya. Keserakahannya yang membuat  adiknya terlibat sebuah shoplift. Rengekan Enrico saat Lisa menolak untuk memeluknya. Sheila yang tersakiti hatinya. Tinggal di apartemen dengan Ibunya atau rumah mewah luas bersama neneknya. Dan yang membuatnya lebih merana adalah wajah Ibunya yang menangis saat ia tinggalkan.
***
Isakkan Ibunya yang dalam membuatnya tersadar dari dunia mimpi. Segala doa dipanjatkan oleh Ibunya terkasih. Suara paraunya mengisi ruangan yang serba putih. Dirinya pun ikut menangis terisak mengingat segala perubahan yang terjadi pada dirinya baru-baru ini.
“Maafkan aku,” hanya dua kata yang bisa Lisa katakan.
“Kau sudah sadar? Oh–“
“Bu, aku belum sadar. Jelas sudah.”
“Kau… Oh maafkan aku nak. Aku benar-benar khilaf saat itu. Aku–“
“Aku yang seharusnya minta maaf bu,” isakkan mereka berkurang dan digantikan oleh cekikikan kecil karena mereka menyadari bahwa mereka saling menyalahkan diri mereka sendiri. “Maaf.”
“Kita harus saling memaafkan.” Senyum Ibunya sangat menentramkan hati.
Ibu keluar memberi tahu dokter bahwa putri sulungnya telah tesadar dari koma dua harinya. Dokter memeriksa, semua baik-baik saja. Dan selanjutnya giliran orang-orang tercinta yang bekunjung.
“Kak, kau sadar juga akhirnya. Kau harus tahu betapa kita mengkhawatirkanmu,” ujar Thalia yang girang sekali mendapati kakaknya yang mulai pulih kembali. “Maaf ya.”
“Hai Lisa,” sekarang giliran Sheila. “untung saja kau sudah sadar. Pembalap ilegal itu ditangkap oleh polisi dan dia diwajibkan membayar biaya rumah sakit. Untung sekali ada supir taksi yang berbaik hati, dia membawamu kesini. Pembalap itu mencoba  melarikan diri awalnya, memang gila ya. Ini,” dia menaruh sekeranjang penuh berisi berbagai macam buah-buahan ke atas meja pasien. “aku bawakan buah.”
“Kak, kau sudah sadar?” Oceh Enrico dengan lucunya.
“Hahaha iya iya. Maaf merepotkan,” Lisa tersenyum penuh syukur. “dan terimakasih semua.”
Lisa tahu hidup ini sebenernya hanya memiliki dua pilihan. Kalah atau menang. Kalah dengan pendirian kita yang sebenarnya atau justru menang dengan pilihan yang membuatmu menjadi diri sendiri.
Ayahnya, Neneknya, atau maupun Nessa tidak sama sekali datang menjenguk ataupun menunjukkan batang hidungnya lagi. Itu tidak masalah bagi Lisa. Yang terpenting adalah ia sudah bisa berkumpul kembali dengan orang-orang tercintanya. Saling memaafkan dan memulai lembaran yang baru. Mensyukuri nikmat hidup yang singkat ini.
Jangan pernah lari dari masalah, ketahuilah bahwa tantangan hidup ini membantu kamu untuk menemukan siapa dirimu.
***
You know why I titled it Dilema? Cos, I confused... What title should it be? Dunno... Saya dilema~

No comments:

Post a Comment