Tuesday, April 17, 2012

Untitled (11)

“Untung saja,” ujarku pada Jake setelah menceritakan semuanya –kejadian dengan para jalang sekolah maksudku, ”Terimakasih.”
“Hanya itu berterimakasihmu?”Jake tersenyum menggodaku. Aku tahu dia hanya bercanda, karena Jake benar-benar banyak membantuku akhir-akhir ini. Banyak sekali, dan dia tulus sekali.
“Eh, Jake?”Dan kurasa sekarang saat yang tepat untuk menanyakan hal ini, oke aku tahu ini terlalu cepat dan terlalu bodoh –bagaimanapun aku sudah terlanjur bertindak bodoh akhir-akhir ini. Untungya, sekolah telah berakhir.
Oh ya! Setelah Insiden dengan Para Jalang, aku berlari ke… Aku nggak tahu, Cuma berlari saja. Tiba-tiba Carter menangkapku.
“Callie,” Carter tampak sangat cemas melihatku, “Tanganmu!”
“Carter,” dan untung saja saat itu sudah masuk jam pelajaran berikutnya, hampir tidak ada orang di koridor –hanya Carter yang dalam perjalanannya balik ke kelas dari toilet dan aku juga bingung mengapa bisa kebetulan sekali bertemu denganku (kupikir ini yang disebut insting saudara –itupun kalau benar adanya).
“Aku akan jelaskan semuanya.”Lalu aku mendengar langkah berlari yang aku tahu dengan segera bahwa itu Jake.
Carter membawaku ke ruang kesehatan sekolah –dan Jake juga tentunya. Aku beristirahat di tempat tidur Ruang Kesehatan –yang lumayan nyaman tetapi terus berdecit saat aku menggerakan badan diatasnya – dan meceritakan semuanya dengan tubuh gemetar luar biasa dan wajah trauma yang nggak keren sama sekali (seperti yang kulihat di film action, maksudku, yeah sama sekali nggak gitu, aku malah terlihat sangat buruk –pemain film dalam ekspresi tegang kadang terlihat lebih keren, tegar, seksi dan sebagainya).
Aku membiarkan perawat sekolah yang membersihkan dan membalut semua lukaku dengan perban.Perawat dengan muka yang tua, lusuh dan –tampak tidak tulus bekerja sebagai perawat sekolah yang katanya hanya digaji sebesar gaji pembersih sekolah– melakukannya dengan TANPA bertanya penyebab luka-luka mengerikan di tangan kanan dan kaki kiriku.
“Oh tanganmu harus diperban dan sepertinya kau akan butuh bantuan untuk menulis,” kata perawat tua yang belakangan ini kukenal sebagai Mrs. Becky Bound, “tetapi kakimu baik-baik saja, hanya sedikit memar.” Ah untunglah kakiku baik-baik saja. Yeah, aku benar-benar nggak mau kalau harus pakai tongkat berjalan atau kursi roda ke sekolah.Itu nggak keren.Mungkin kau pikir bisa saja itu ide yang keren, untuk dikasihani cowok-cowok keren di sekolah, misalnya.Itu memang berlaku, jika kau anggota pemandu sorak.Kalau aku? Firasatku sih, aku akan telat masuk kelas karena tidak ada yang akan membantuku naik tangga sekolah –selain Carter, atau….Jake.
Perawat itu berlalu meninggalkan ruang istirahat itu.Well, untung saja mereka menggaji Perawat ini seperti gaji pembersih sekolah. Karena jika tidak, Mrs. Bound akan senang dan tulus menjadi Perawat disini, lalu dia akan tulus mengobati semua murid dan dia pasti bertanya-tanya mengapa ini atau itu terjadi. Huh, benar-benar sedih dengan gajinya sepertinya, buktinya dia tidak menanyakan penyebab yang membuat luka-luka di tangan dan kakiku.
“Ah Callie, kau bilang itu air raksa?”Tanya Jake –yang dengan wajah sudah lebih tenang, sebagian jari di kantung celana dan pandangan meerawang ke lantai – padaku karena dari tadi Carter hanya duduk diam disampingku dengan mengepalkan tangannya sekuat tenaga.
“Yeah, memang apalagi selain itu?” Aku nggak salah kan? Benar kan? Maksudku, air apa lagi kalau bukan cairan keras? Walaupun aku nggak yakin benar, tapi aku nggak sebodoh itu.Aku nonton TV, dan beberapa film kejahatan.Beberapa tokoh antagonis benar-benar melakukan itu.Menyiram tokoh yang bodoh dengan air raksa atau cairan keras sejenisnya maksudku.
“Kukira itu hanya air biasa,” ujar Jake dan yeah sayangnya aku memang sebodoh ITU, ketakutan setengah mati sama air biasa, “setelah aku menutup pintu, aku berniat menguncinya,”
“Dan kau mengunci mereka?”Ucapku terlonjak.
“Nggak.Kunci itu terjatuh dan mereka membuka pintu itu sebelum aku lari, aku nggak berniat untuk lari juga sih sebenarnya,” Aku mulai sebal, Jake mulai terdengar sok jagoan disini.
“Lalu mereka keluar dan menyiramku,”
“MEREKA MENYIRAMMU? DENGAN AIR RAKSA?”Teriakku.Carter menggengam lengan atasku memerintahkanku untuk berhenti memotong cerita Jake dengan berteriak-teriak air raksa agar tidak membuat curiga perawat yang sedang berjaga di meja depan.
“Itu air biasa Call,” oh ya aku lupa –ternyata aku masih terobsesi dengan air raksa,”Tapi sebelum aku ingin membalas kelakukan mereka dengan menendang bokong si Mohawk Dean, penjaga keliling lewat dan memberikan kartu hukuman pada Dean. ”Jake terdengar benar-benar ingin MEMBESARKAN dirinya di depanku dan Carter.
Dan, disini aku sekarang.Berjalan di koridor sekolah menuju gerbang keluar. Hanya BERDUA dengan Jake –yang terlihat masih sibuk sendiri dengan pemikirannya sendiri.
(Well, setelah dari Ruang Kesehatan, Jake dan Carter kembali ke kelas mereka dan kembali menjemputku di Ruang Kesehatan, tetapi Carter MENDAPAT HUKUMAN, jadi ia harus pergi ke Ruang Guru dan membiarkanku pulang bersama Jake. Apaan nih? Carter mendapat hukuman? Dan… dia membiarkanku pulang dengan cowok lain? Maksudku, yeah dia hanya kakakku bukan pacarku atau apa, tapi aku juga nonton Harry Potter and the Half-Blood Prince, oke? Aku tahu Ron benar-benar takut Ginny tersakiti dengan cowok lain. Yeah insting melindungi, bukan?)
“Eh, Jake?Halo?” Tanyaku berkali-kali untuk membuat Jake tersadar dari pemikirannya –Jake tidak berpikir kotor, kan?
“Um, yeah?”
“Aku tahu, mungkin kita sudah kenal lama,” aku ingin sekali menanyakan penyebab perubahan pada diri Jake yang menjadi baik sekali padaku akhir-akhir ini, dan HA aku terlalu gugup jika berdua seperti ini, “Kau sering datang ke rumah, umm–“
Jake masih tampak bingung. Sama bingungnya denganku. Aku harus bilang apa lagi!
“OH! Untuk Carter tentunya haha,” aku tertawa, jelek sekali ya, “Lalu, kau memang berteman dengan Clyte Johnson,”
“Oh, gak penting banget.”Ujar Jake sekenanya dengan muka yang langsung berpaling ke bawah. Jake… lumayan kerenkan aku bilang? Tipikal cowok yang… beda dengan Clyte Johnson.
“Well, kau tahu kan betapa BENCInya Clyte padaku,” aku memperhatikan rambut Jake yang sama coklatnya denganku dan cepat-cepat menambahkan, “Itu pasti karena dia iri dengan Carter, kan? Hahaha,” Aku ketawa lagi. Aku bodoh dalam pembicaraan.
Kami sudah sampai gerbang sekolah dan sedang berjalan keluar menuju halte bus, Jake berpaling padaku dan tampak seperti ingin mengatakan sesuatu sebelum Clyte Johnson benar-benar lewat di depan kami. Apasih masalanya denganku sampai harus mengganggu permbicaraan kami?
Bila kau membayangkan Clyte itu keren atau gimana, kau salah besar. Raut wajahnya jelek sekali. Alis pirangnya sama pirangnya dengan rambutnya. Belakangan ini aku ingin bilang kalau dia lebih mirip seorang homo dibandingkan seorang yang akan menindas semua cewek-gak-populer di sekolah.
Aku menatap Jake. Penasaran apa yang akan dikatakannya kepada teman buruknya itu.
Tapi ekspresi Jake langsung tegang penuh kebencian, seperti ingin membunuh, kau tahu? Sebenarnya aku agak takut jika melihat cowok berekspresi seperti itu.
“Sampai ketemu, pecundang.” Ucap Clyte setengah teriak dan langsung berlalu menuju lapangan parkir sekolah.
Pecundang? Ah gak masalah. Mungkin mereka hanya teman yang sedang bertengkar iya kan? Gak, gak seperti aku dan Morgan. Kami bukan teman lagi DAN kami bertengkar.
Aku kembali menatap Jake dan dia mengepalkan kedua tangannya sangat kuat sampai-sampai aku bisa melihat pembuluh darahnya yang menonjol.
Aku hanya diam, Aku takut sekali. Apa mungkin Jake malu akan Clyte yang menangkapnya basah sedang berjalan dengan cewek-gak-populer-dan-sering-kena-ejekan seperti ku?
Aku menunduk dan berjalan lebih cepat. “Maaf.”
Dan Jake langsung menyamakan kecepatannya denganku.
“Ada apa? Maaf?”
“Um aku merepotkan.” Aku berjalan lebih cepat lagi.Dan ingin menangis–terlebih karena perasaan iri dengan para lajang itu menyerangku, maksudku, kenapa aku yang selalu menjadi cewek bahan ejekan yang murahan padahal sebetulnya para pemandu soraklah yang murahan?   emenjak aku ‘lebih dekat’ dengan Jake, aku malah lebih sering menangis.Ingat malam pesta yang berujung dengan sebuah insiden dengan Austin Philps? Lalu, saat di café dan semua orang mengejekku dengan ‘bibir neraka’? Dan, insiden dengan para lajang? Lalu, sekarang. Dan aku ingat, semua kejadian itu terjadi hanya kurang dari satu minggu. Aku nggak ingat tepatnya berapa hari,  dan aku nggak mau ingat.
“Dengar, jangan pedulikan Clyte, oke?” Sekarang aku berhenti berjalan karena tali sepatuku yang lepas. Well, jangan bayangkan aku berhenti berjalan karena ingin menalikannya kembali, hanya saja, Jake MENGINJAKnya. Tali sepatuku yang lepas, maksudku.
Dan aku berpaling ke belakang melihat Jake. Dia sudah tampak lebih baik dan sudah tidak mengepalkan tangannya dengan kuat-kuat. Dia memasukkan jempol tangan kiri dan kanannya ke dalam saku celananya kembali.
“Kau pulang bersamaku.” Ujar Jake melepaskan tali sepatuku dan terus berjalan meninggalkanku di belakang.
Aku mengikat tali sepatuku dan terus berpikir betapa menyebalkannya Jake sebenarnya. Dia bisa menjadi baik sekali, menakutkan dan membuat banyak tanda tanya di hidupku yang sebenarnya suda cukup buruk ini.***

No comments:

Post a Comment