“Untung saja,” ujarku pada Jake setelah
menceritakan semuanya –kejadian dengan para jalang sekolah maksudku,
”Terimakasih.”
“Hanya itu berterimakasihmu?”Jake tersenyum
menggodaku. Aku tahu dia hanya bercanda, karena Jake benar-benar banyak membantuku
akhir-akhir ini. Banyak sekali, dan dia tulus sekali.
“Eh, Jake?”Dan kurasa sekarang saat yang tepat
untuk menanyakan hal ini, oke aku tahu ini terlalu cepat dan terlalu bodoh
–bagaimanapun aku sudah terlanjur bertindak bodoh akhir-akhir ini. Untungya, sekolah telah
berakhir.
Oh ya! Setelah Insiden dengan Para Jalang, aku
berlari ke… Aku nggak tahu, Cuma berlari saja. Tiba-tiba Carter menangkapku.
“Callie,” Carter tampak sangat cemas
melihatku, “Tanganmu!”
“Carter,” dan untung saja saat itu sudah masuk
jam pelajaran berikutnya, hampir tidak ada orang di koridor –hanya Carter yang
dalam perjalanannya balik ke kelas dari toilet dan aku juga bingung mengapa
bisa kebetulan sekali bertemu denganku (kupikir ini yang disebut insting
saudara –itupun kalau benar adanya).
“Aku akan jelaskan semuanya.”Lalu aku
mendengar langkah berlari yang aku tahu dengan segera bahwa itu Jake.
Carter membawaku ke ruang kesehatan sekolah
–dan Jake juga tentunya. Aku beristirahat di tempat tidur Ruang Kesehatan –yang
lumayan nyaman tetapi terus berdecit saat aku menggerakan badan diatasnya – dan
meceritakan semuanya dengan tubuh gemetar luar biasa dan wajah trauma yang nggak keren sama sekali (seperti yang
kulihat di film action, maksudku,
yeah sama sekali nggak gitu, aku malah terlihat sangat buruk –pemain film dalam
ekspresi tegang kadang terlihat lebih keren, tegar, seksi dan sebagainya).
Aku membiarkan perawat sekolah yang
membersihkan dan membalut semua lukaku dengan perban.Perawat dengan muka yang
tua, lusuh dan –tampak tidak tulus bekerja sebagai perawat sekolah yang katanya
hanya digaji sebesar gaji pembersih sekolah– melakukannya dengan TANPA bertanya
penyebab luka-luka mengerikan di tangan kanan dan kaki kiriku.
“Oh tanganmu harus diperban dan sepertinya kau
akan butuh bantuan untuk menulis,” kata perawat tua yang belakangan ini kukenal
sebagai Mrs. Becky Bound, “tetapi kakimu baik-baik saja, hanya sedikit memar.”
Ah untunglah kakiku baik-baik saja. Yeah, aku benar-benar nggak mau kalau harus
pakai tongkat berjalan atau kursi roda ke sekolah.Itu nggak keren.Mungkin kau pikir bisa saja itu ide yang keren, untuk dikasihani cowok-cowok
keren di sekolah, misalnya.Itu memang berlaku, jika kau anggota pemandu
sorak.Kalau aku? Firasatku sih, aku akan telat masuk kelas karena tidak ada yang
akan membantuku naik tangga sekolah –selain Carter, atau….Jake.
Perawat itu berlalu meninggalkan ruang
istirahat itu.Well, untung saja mereka menggaji Perawat ini seperti gaji
pembersih sekolah. Karena jika tidak, Mrs. Bound akan senang dan tulus menjadi
Perawat disini, lalu dia akan tulus mengobati semua murid dan dia pasti
bertanya-tanya mengapa ini atau itu terjadi. Huh, benar-benar sedih dengan
gajinya sepertinya, buktinya dia tidak menanyakan penyebab yang membuat
luka-luka di tangan dan kakiku.
“Ah Callie, kau bilang itu air raksa?”Tanya
Jake –yang dengan wajah sudah lebih tenang, sebagian jari di kantung celana dan
pandangan meerawang ke lantai – padaku karena dari tadi Carter hanya duduk diam
disampingku dengan mengepalkan tangannya sekuat tenaga.
“Yeah, memang apalagi selain itu?” Aku nggak
salah kan? Benar kan? Maksudku, air apa lagi kalau bukan cairan keras? Walaupun
aku nggak yakin benar, tapi aku nggak sebodoh itu.Aku nonton TV, dan beberapa
film kejahatan.Beberapa tokoh antagonis benar-benar melakukan itu.Menyiram
tokoh yang bodoh dengan air raksa atau cairan keras sejenisnya maksudku.
“Kukira itu hanya air biasa,” ujar Jake dan
yeah sayangnya aku memang sebodoh ITU, ketakutan setengah mati sama air biasa,
“setelah aku menutup pintu, aku berniat menguncinya,”
“Dan kau mengunci mereka?”Ucapku terlonjak.
“Nggak.Kunci itu terjatuh dan mereka membuka
pintu itu sebelum aku lari, aku nggak berniat untuk lari juga sih sebenarnya,”
Aku mulai sebal, Jake mulai terdengar sok jagoan disini.
“Lalu mereka keluar dan menyiramku,”
“MEREKA MENYIRAMMU? DENGAN AIR RAKSA?”Teriakku.Carter
menggengam lengan atasku memerintahkanku untuk berhenti memotong cerita Jake
dengan berteriak-teriak air raksa
agar tidak membuat curiga perawat yang sedang berjaga di meja depan.
“Itu air biasa Call,” oh ya aku lupa –ternyata
aku masih terobsesi dengan air raksa,”Tapi sebelum aku ingin membalas kelakukan
mereka dengan menendang bokong si Mohawk Dean, penjaga keliling lewat dan
memberikan kartu hukuman pada Dean. ”Jake terdengar benar-benar ingin
MEMBESARKAN dirinya di depanku dan Carter.
Dan, disini aku sekarang.Berjalan di koridor
sekolah menuju gerbang keluar. Hanya BERDUA dengan Jake –yang terlihat masih
sibuk sendiri dengan pemikirannya sendiri.
(Well, setelah dari Ruang Kesehatan, Jake dan
Carter kembali ke kelas mereka dan kembali menjemputku di Ruang Kesehatan,
tetapi Carter MENDAPAT HUKUMAN, jadi ia harus pergi ke Ruang Guru dan
membiarkanku pulang bersama Jake. Apaan nih? Carter mendapat hukuman? Dan… dia
membiarkanku pulang dengan cowok lain? Maksudku, yeah dia hanya kakakku bukan
pacarku atau apa, tapi aku juga nonton Harry Potter and the Half-Blood Prince,
oke? Aku tahu Ron benar-benar takut Ginny tersakiti dengan cowok lain. Yeah
insting melindungi, bukan?)
“Eh, Jake?Halo?” Tanyaku berkali-kali untuk
membuat Jake tersadar dari pemikirannya –Jake tidak berpikir kotor, kan?
“Um, yeah?”
“Aku tahu, mungkin kita sudah kenal lama,” aku
ingin sekali menanyakan penyebab perubahan pada diri Jake yang menjadi baik
sekali padaku akhir-akhir ini, dan HA aku terlalu gugup jika berdua seperti
ini, “Kau sering datang ke rumah, umm–“
Jake masih tampak bingung. Sama bingungnya
denganku. Aku harus bilang apa lagi!
“OH! Untuk Carter tentunya haha,” aku tertawa,
jelek sekali ya, “Lalu, kau memang berteman dengan Clyte Johnson,”
“Oh, gak penting banget.”Ujar Jake sekenanya
dengan muka yang langsung berpaling ke bawah. Jake… lumayan kerenkan aku bilang? Tipikal cowok yang… beda dengan Clyte
Johnson.
“Well, kau tahu kan betapa BENCInya Clyte padaku,”
aku memperhatikan rambut Jake yang sama coklatnya denganku dan cepat-cepat
menambahkan, “Itu pasti karena dia iri dengan Carter, kan? Hahaha,” Aku ketawa
lagi. Aku bodoh dalam pembicaraan.
Kami sudah sampai gerbang sekolah dan sedang
berjalan keluar menuju halte bus, Jake berpaling padaku dan tampak seperti
ingin mengatakan sesuatu sebelum Clyte Johnson benar-benar lewat di depan kami.
Apasih masalanya denganku sampai harus mengganggu permbicaraan kami?
Bila kau membayangkan Clyte itu keren atau gimana,
kau salah besar. Raut wajahnya jelek sekali. Alis pirangnya sama pirangnya
dengan rambutnya. Belakangan ini aku ingin bilang kalau dia lebih mirip seorang
homo dibandingkan seorang yang akan menindas semua cewek-gak-populer di
sekolah.
Aku menatap Jake. Penasaran apa yang akan
dikatakannya kepada teman buruknya itu.
Tapi ekspresi Jake langsung tegang penuh
kebencian, seperti ingin membunuh, kau tahu? Sebenarnya aku agak takut jika
melihat cowok berekspresi seperti itu.
“Sampai ketemu, pecundang.” Ucap Clyte setengah
teriak dan langsung berlalu menuju lapangan parkir sekolah.
Pecundang? Ah gak masalah. Mungkin mereka
hanya teman yang sedang bertengkar
iya kan? Gak, gak seperti aku dan Morgan. Kami bukan teman lagi DAN kami bertengkar.
Aku kembali menatap Jake dan dia mengepalkan
kedua tangannya sangat kuat sampai-sampai aku bisa melihat pembuluh darahnya
yang menonjol.
Aku hanya diam, Aku takut sekali. Apa mungkin
Jake malu akan Clyte yang menangkapnya basah sedang berjalan dengan
cewek-gak-populer-dan-sering-kena-ejekan seperti ku?
Aku menunduk dan berjalan lebih cepat. “Maaf.”
Dan Jake langsung menyamakan kecepatannya
denganku.
“Ada apa? Maaf?”
“Um aku merepotkan.” Aku berjalan lebih cepat
lagi.Dan ingin menangis–terlebih karena perasaan iri dengan para lajang itu
menyerangku, maksudku, kenapa aku yang selalu menjadi cewek bahan ejekan yang
murahan padahal sebetulnya para pemandu soraklah yang murahan? emenjak aku
‘lebih dekat’ dengan Jake, aku malah lebih sering menangis.Ingat malam pesta
yang berujung dengan sebuah insiden dengan Austin Philps? Lalu, saat di café dan
semua orang mengejekku dengan ‘bibir neraka’? Dan, insiden dengan para
lajang? Lalu, sekarang. Dan aku ingat, semua kejadian itu terjadi hanya kurang
dari satu minggu. Aku nggak ingat tepatnya berapa hari, dan aku nggak mau ingat.
“Dengar, jangan pedulikan Clyte, oke?” Sekarang
aku berhenti berjalan karena tali sepatuku yang lepas. Well, jangan bayangkan
aku berhenti berjalan karena ingin menalikannya kembali, hanya saja, Jake
MENGINJAKnya. Tali sepatuku yang lepas, maksudku.
Dan aku berpaling ke belakang melihat Jake. Dia
sudah tampak lebih baik dan sudah tidak mengepalkan tangannya dengan
kuat-kuat. Dia memasukkan jempol tangan kiri dan kanannya ke dalam saku
celananya kembali.
“Kau pulang bersamaku.” Ujar Jake melepaskan
tali sepatuku dan terus berjalan meninggalkanku di belakang.
Aku mengikat tali sepatuku dan terus berpikir
betapa menyebalkannya Jake sebenarnya. Dia bisa menjadi baik sekali, menakutkan
dan membuat banyak tanda tanya di hidupku yang sebenarnya suda cukup buruk ini.***
No comments:
Post a Comment