Tuesday, April 17, 2012

A Home (1)

Ya, Benar. Selama ini ternyata….

Aku tahu hal itu sejak tadi pagi. Kudapat seorang kurir pos paruh baya yang sedang menunggu dengan muka yang sangat sabar. Karena aku harus menyisir rambutku. Dan kau tahu, itu memakan waktu yang cukup lama.

“Permisi. Ada Ms. Barbara nya?”

“Maaf, tapi ia sedang tidak ada di rumah. Ada apa ya?”

“Ini,” Katanya sambil memberikan satu paket yang agak berat. Aku langsung menangkapnya dengan keberatan. “Itu kiriman dari kantornya.”

“Oh.” Jawaban yang singkat, bukan?

“Silahkan tulis nama anda dan tanda tangan disini," Dia memberikanku secarik kertas yang sudah lusuh.

Aku langsung menuruti perintahnya.

“Kamu? Kamu? Kamu?" Katanya dengan muka yang semakin pucat.

Lama-kelamaan aku kesal. Kata-kata yang baru saja ia ucapkan seperti salah satu bait di salah satu lagu band EsTehHangatManisTawar.

“Aku kenapa?” Kataku dengan penasaran. Sepertinya aku baru saja mengeluarkan ekspresi yang aneh karena seorang bocah yang kebetulan lewat dibelangkangnya menahan tawa sambil berlari-lari menunjuk diriku.

Mr. Percy menceritakan semuanya-aku tahu namanya dari tanda pengenal yang ada di bajunya--

Aku shock. Jantungku berdebar sangat kencang sampai kukira akan copot. Aku pernah menayakan hal itu ke dokter langganan Ms. Barbara. Sayangnya dia berkata, jantungku dan jantung manapun tidak akan copot.

Tepat setelah Mr. Percy meinggalkanku shock di teras rumah, Ms. Barbara pulang. Dia bertanya apa yang baru saja terjadi. Hei, kupikir dia bertanya seperti itu mungkin karena benar, ekspresiku yang aneh.

“Tidak. Hanya seorang kurir pos yang baru saja mengantarkan ini.” Aku membawa paket itu ke dalam rumah dengan seorang wanita karir di sampingku.

“HEY! Kukira isinya akan sekeranjang emas murni. HA-HA. Ayolah. Mengapa ekspresimu begitu?”

“Tidak. Tidak ada apa-apa.” Aku menjawab dengan pucat. Aku belum siap menceritakan ini ke Ms. Barbara. Wanita single yang sudah punya umur untuk menikah tetapi malahan asyik dengan pekerjaannya. Aku takut semua ini terbongkar sebelum aku siap untuk mengatakannya langsung. Karena, kau tahu, Mrs. Barbara hampir selalu tahu pikiranku, ya tentunya kebohonganku. Aku ingat sekali waktu aku sengaja tidak memasukan garam ke sayur sop, dan aku malah memasukkan gula, karena aku sangat penasaran bagaimana rasanya. Temanku bilang, itu akan menjadi sayur sop yang paling mantap sedunia. Niatnya sih bikin kejutan untuk Ms. Barbara. Pas aku coba, Hem rasanya mantap! Mantap gak enaknya deh!! Aku berniat untuk membuang sop itu, tetapi itu tepat saat Ms. Barbara memergokiku hendak membuangnya. Aku mengatakan ada kecoa dan cicak dan semut dan belalang yang baru saja jatuh di dalam sop itu. Padahal kata Diana, temanku yang saat itu mengintip dari jendela dapur, ekspresiku sudah sangat meyakinkan. Tetapi, Ms. Barbara mengetahui semuanya dan menertawakanku. Huh! Aku beci ditertawakan orang dewasa!

“Aku tahu nanti bila kau sudah siap, kau akan menceritakan itu padaku.” Ujarnya sambil jalan terhuyung-huyung ke kamarnya. Aku tahu dia sangat lelah dan mengantuk.

Setelah menyiapkan makan malam, yaitu nasi goreng special a la Tracy. Itu namaku. Tapi aku tidak punya nama keluarga. Karena memang aku tidak punya keluarga- aku memanggil Ms. Barbara agar segera menyantapnya selagi hangat.

“Kau sudah siap belum?” Ucap Ms. Barbara disela-sela acara mengunyahnya. Aku ikut makan bersamanya di meja makan yang sederhana. Dan aku merasa, nasi gorengku kuang asin. Aku mengunyahnya sambil terus memasang ekspresi stay cool.

“A… A.. Aku tidak tahu.” Jawabku dengan gemetaran. Aku sebenarnya merasa sudah siap. Tapi nasi goreng yang di mulutku sekarang menahanku untuk berbicara panjang lebar.

“Kurasa kau sudah siap. Ayolah, kunyah itu perlahan dan minum airmu.” Hampir setiap dia membujukku dia menggunkan kata “Ayolah.”

Aku menurutinya.

“Jadi, tadi Mr. Percy mengatakan apa?”

“Mengapa kau tahu namanya?” Aku agak heran. Dia memang wanita yang lumayan aneh.

“Saat aku berjalan pulang aku berpapasan dengannya, dan aku pikir dia baru saja mengirimkan paket ke rumah, yah aku tidak sengaja melihat tanda pengenalnya.”

“Yah, tadi saat dia tahu namaku, dia langsung memberi tahuku ternyata aku masih mempunyai keluarga. Dan keluargaku mencariku. Dengarkan kata itu! Mereka MENCARIKU!! Ternyata masih ada yang mencari dan menginginkanku!!” Aku tahu, memang saat itu ekspresiku agak berlebihan. “Sekarang tolong ceritakan detailnya padaku sekarang juga!!” Mataku mulai merah dan bibirku mulai bergetar, entah mengapa. “Mengapa aku ada disini waktu aku berumur 9 tahun? Mengapa aku tidak ingat semuanya? Mengapa? Aku mungkin akan ingat bila aku melihat wajah keluargaku. Tapi sekarang aku benar-benar tidak ingat!” Serius deh, saat itu aku terlihat sangat berlebihan. “Ayolah!” Aku membujuknya dengan menggunakan kata-katanya untuk membujukku.

“Maaf. Tapi aku gak bisa.”, mata coklatnya itu sangat mengecewakan karena menunjukkan keseriusan di atas wajahnya yang putih pucat.

Aku tidak mengatakan apa-apa lagi dan langsung berlari ke kamar.

Bayangkan! Bener deh aku gak sanggup menanggung semua ini. Maksudku, bayangkan, kau berumur 11 tahun dan selama 2 tahun hidupmu ditanggung dengan orang asing (walaupun kau hanya seorang pembersih rumah –bisa disebut pembantu), lalu selain itu kau lupa tentang asal-usulmu dan siapa keluargamu, dan pada umur 11 tahun kau baru meyadarinya!! Itu sangat menyakitkan. Di sisi lain aku mungkin mengangis bahagia, karena aku tahu aku masih punya keluarga, di sisi yang lainnya lagi, aku sedih karena tidak mengetahui itu selama ini, dan di sisi yang lain lainnya lagi, aku merasa takut, karena aku takut bila aku bertemu keluargaku, mereka melihat aku sudah berubah dan tidak menyayangiku bahkan membenciku dan menjadikanku seperti sekarang – pembersih rumah. Sekarang sih aku tidak terlalu sakit hati dengan Ms. Barbara karena telah menjadikanku pembersih rumahnya. Karena dia orang asing yang sangat baik sudah ingin mengadopsiku. Memang tidak mudah, memasukkan orang baru dalam hidupmu yang selama ini sendiri. Jadi, aku sangat maklum terhadap Ms. Barbara.

Tangisku pecah dan semakin keras.

Sampai-sampai aku ketiduran dan lupa untuk beribadah malam. Ya Tuhan, aku pasti sangat berdosa.

Pada malam harinya aku terbangun dan langsung menyelesaikan ibadah malamku.

Setelah itu aku bercermin dan mendapati mataku lebam. Tepatnya bengkak karena terlalu lama menangis. Saat itu aku merenung dan kembali duduk di tempat tidurku yag memang tidak terlalu nyaman, hanya kasur kapuk yang beralaskan tikar di bawahnya. Ya. Betul. Tanpa rangka ranjang. Aku mengamati sekeliling kamarku. Kecil. Dengan lantai yang sudah ubin, walaupun bukan marmer. Gorden di kamarku adalah pemberian dari temannya Ms. Barbara. Oh ya! Aku lupa member tahumu satu hal. Terkadang aku memanggil Ms. Barbara dengan panggilan Barbara. Lemariku terbuat dari kayu lapuk yang ditemukan Barbara di gudangnya. Aku menatap kamarku. Aku sangat bersyukur atas semua ini. Tapi…

Aku langsung terlelap.






To Be Continued...

No comments:

Post a Comment