Tuesday, April 17, 2012

A Home (3)

KRING!!!!

YES!!! BELL ISTIRAHAT MAKAN SIANG!!

Tapi aku harus makan sendiri. Karena Diana, Garnet, Pole, Anne sedang berlatih drama. Seharusnya aku ikut. Biasanya juga aku ikut. Tapi kali ini, karena ganti guru, aku tidak ikut. Aku tidak ingin memberatkan Barbara. Karena aku tahu keuangannya sedang morat marit sekarang. Biaya. Betul. Entah kenapa peserta drama harus membayar uang yang tidak sedikit untuk properti.

Saat aku membawa makan siangku ke tempat duduk yang kosong, Merly Moncore –ketua pemandu sorak -- sengaja menabrakku.

“Heh! Kalau jalan tuh yang bener! Ampun deh!” katanya dengan sinis dan melewatiku dengan tatapan yang sangat menyikas dan merendahkan.

Tiba-tiba dia berbalik dan mengatakan sesuatu yang sangat membuat hatiku kembali kelabu.

“Oh ya! Kudengar, kau dicari dengan keluargamu ya? Oh ternyata si gadis pembersih rumah ini mempunyai keluarga!” dia tertawa dan pengikutnya ikut tertawa terbahak-bahak.
HA. LUCU SEKALI! HA-HA.

Konyol. Mataku memerah dan mulutku mulai bergetar.

Biasanya aku melawan dan mulai beradu mulut dengan siapapun yang telah mengejekku. Tapi kali ini tidak. Tidak bisa. Entah.

Aku duduk di pojokkan. Bukan tempat favoritku sih. Tapi lumayan untuk menyendiri.
Aku baru menyadari bahwa lauk makan hari ini adalah nasi, ayam goreng dan tahu bulat, serta sayur buncis. Eww! Buncis?! Gak deh!!

Saat aku ingin menuangkan saus ke pinggiran piringku, tiba-tiba satu lalat besar hinggap di hidungku! Dan itu sangat menjijikan! Aku kaget dan berusaha mengusirnya, sampai akhirnya mahluk kecil itu pergi dan kudapati saus ku muncrat kearah yang salah. Ke baju Cleaning Service yang kebetulan lewat di depanku. Aku sangat menyesal. Karena kudengar dari teman-teman, Cam adalah CS yang paling galak dan jutek! Ya Tuhan. Pasti sangat mengerikan menatap mukanya! Jadi aku memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu agar menghindari menatap wajahnya.

Hampir semua anak di kantin saat itu menatap penasaran apa yang akan selanjutnya terjadi pada diriku bila mumuncratkan saus ke arah Cam.

Hening.

Tapi Cam berlalu seperti tidak terjadi apa-apa. Sepertinya dia tidak menyadarinya. Karena aku memuncratkannya tepat di daerah bokongnya. Yah, kalau dilihat-lihat jadi seperti
perempuan dewasa yang ‘tembus’. HA. Anak- anak menghembuskan napas lega saat Cam sudah tidak terlihat dari ujung koridor dari kntin menuju kelas. Beberapa anak cowok tertawa terbahak-bahak melihat apa yang sudah kulakukan terhadap Cam. HAHAHA. ITU KEREN!

Selesai makan siang, aku berniat untuk melihat latihan drama Diana dan langsung ke kelas. Tapi bell masuk sudah bordering. Jadi aku mengurungkan niatku untuk melihat ke ruang drama.

Sebelum aku masuk, Tom, mengatakan suatu hal yang membuat bibirku tersungging senang.

“Tadi itu keren!” katanya sambil menahan tawa karena Mr. Mitch ingin segera kami masuk.

Yah,kuakui Tom lumayan keren. Dia tinggi. Dan aku mengingat kata-kata manis yang dia lontarkan kepadaku. Dia jarang berbicara padaku. Tetapi, sekalinya dia memberi komentar, sangat memotivasi dan membuat hatiku berbunga-bunga. Dia kan cowok paling populer seantero sekolah. Pasti dia sering di dekatipara pemnadu sorakyang tidakmempunyai rasa malu.

Oh ya, Tom pernah mengatakan warna kulitku indah dan sangat eksotis. Kulitku tidak putih, melainkan coklat. Tetapi para pemandu sorak mengatai diriku seperti kotoran berjalan. Konyol!

Pemandu sorak? Mereka pasti hal yang paling hina! Setiap cewek di sekolah ini yang bukan pemandu sorak pasti diberi julukkan yang menggelikan. Contoh: acar melompat, lendir mencair, upil tak tahu diri, pipis hijau dan masih banyak kata-kata yang tidak pantas. Dan pikir deh! Sombong banget mereka! Cuma pemandu sorak! Harusnya mereka merasa malu dengan setiap perbuatan yang mereka lakukan!

Setahun yang lalu, Diana menangis tersedu-sedu karena dia tidak lulus tes masuk tim pemandu sorak. Aku berikan dia penjelasan dan sejurus kemudian dia menangis karena terlalu banyak tertawa. Perutnya sakit karena terlalu banyak tertawa. Jadi, dia mengaku kepada Mr. Mitch sakit maagnya kambuh dan dia diizinkan untuk meninggalkan kelas terakhir dan langsung pulang. Diana mengaku perutnya sakit sekali jadi dia perlu diantar seseorang. Dia memilih diriku. Aku. Untung saja ada air mata yang mengalir di pipi Diana, jadi aku juga diizinkan. Air mata tawa. HA-HA. Tetapi keesokan harinya Diana benar sakit perut dan aku juga! Kami tidak masuk sekolah dan benar-benar merasa sakit pada perut kami. Kami tahu. Saat kemarin diizinkan pulang pada jam pelajaran terakhir Mr. Mitch, kami tidak benar-benar langsung pulang melainkan jajan cireng di depan sekolah. Kami memasukkan banyak saus karena saus itu sama sekali tidak pedas. Hanya merah. Ampun deh jajan sembarangan!

Dari pengalaman itu, kami mendapat 2 pelajaran. Tidak jajan sembarang dan tidak belajar berbohong!
***

Saat aku pulang, Barbara belum pulang. Sepertinya dia akan pulang malam atau benar-benar tidak pulang malam ini. Bisa saja dia menginap di rumah temannya yang tidak jauh dari kantornya. Aku memutuskan untuk menonton televisi. Acara malam itu tidak ada yang seru kecuali acara ulangannya Glee. Siang hari aku sudah menontonnya. Dan aku bosan. Karena Glee sangat populer, pasti deh, acaranya di ulang-ulang. Ok. Matikan Televisi. Klik.

Sepertinya aku lelah.

Aku terlelap.



To Be Continued...

No comments:

Post a Comment