Tuesday, April 17, 2012

A Home (4)

Tiga bulan sudah berlalu dari inseiden kurir pos.

Hari-hari berjalan seperti biasanya – yah, banyak kekonyolan yang terjadi – tetapi tidak pada hari ini!

Diperjalanan sepulang sekolah,tepatnya di pusat perbelanjaan OCE yang aku lewati, aku melihat kira-kira 20 orang mengerumuni sesuatu. Awalnya aku tidak penasaran. Tetapi semakin banyakorang yang ikut berkerumun. Aku mengira mungkin ada artis yang kebetulan lewat dan memberikan tanda tangannya ke setiap orang yang lewat. Tapi tidak ada satupun orang yang membawa kamera bila benar yang dikerumuni itu artis. OH! Atau mungkin korban kecelakaan yang di istirahatkan disitu. Ya. Korban tabrak lari. Tapi aku tidak melihat alat p3k maupun kepanikan di wajah mereka. Akhirnya rasa penasaranku bangkit. Aku mencoba menerobos kerumunan orang dewasa yang tinggi-tinggi itu –beberapa diantara orang dewasa itu memiliki bau keringat yang sangat tidaksedap. Mataku tertuju hanya pada satu. Foto. Foto anak berumur 9 tahun dengan rambut hitam, kulit coklat, dan tinggi yang seperti anak umur 9 tahun lainnya. Dibawah fotoitu tertulis: DICARI! Aku rasa anak itu bukanlah maling atau pencuri atau apa. Tapi jelas sekali bahwa keluarganya sangat menginginkan anak itu kembali kepelukan mereka. Tertulis di bawahnya tanggal anak itu hilang. 5 Januari. Dan sudah 4 tahun anak itu hilang! Apa-apaan itu! Mengapa baru sekarang dicari? Tapi mungkin mereka sudah berusaha. Aku dengar-dengar pengumuman ini ada 2 tahun sekali. Pengumuman yang sama. Sama-sama anak ini juga yang dicari. Tapi aku suka tidak peduli. Tapi sekarang peduli. Lagian,kalau pengumuman anak hilang atau sejenisnya,sangat lambat masuk ke desa ini. Ya. Desa ini kecil dan terpencil. Makanya Barbara harus mensekolahkanku ke sekolah di kota yang berjarak 12 kilometer dari rumah.

Aku mengambil kertas pengumuman itu dan berniat memberitahu Barbara. Walaupun mungkin Barbara sudah tahu, karena berita cepat sekali tersebar di desa ini.

Saat aku sampai di rumah. Aku menemukan mobil kodok Barbara sudah terparkir di garasi. Tumban sekali, pikirku. Sepertinya Barbara tidak menyadari kepulanganku karena di tidak menjawab salam yang aku berikan. Aku berniat mengecek keadaannya tapi yang kudapati dia menangis tersedu-sedu di kamarnya.

“Barbara, ya Tuhan, ada apa?” tanyaku khawatir.
Barbara menyadari kedatanganku dan langsung memutuska untuk berhenti menangis.
“Hey cantik. Sini aku hapus air matamu.” kataku sambil menghapus air mata yang egalir di pipinya dengan lagak orang dewasa.

Dia langsung tertawa melihat lagakku. Aneh. Aku tidak sepenuhnya berniat untuk tertawa. Tapi, baguslah.

“Ha-ha. Tidak apa-apa gadis kecil. Mandi dan pakailah baju yang hangat karena cuaca hari sore ini tidak bagus. Segera setelah itu, siapkan hidangan acara minum teh kita.”

“Siap bos! Tapi setelah itu, apakah aku boleh bermain?” tanyaku

“Cuaca tidak mendukung honey.” jawaban yang logis. Tapi…

“Please Barbara. Kita bisa memakai jaket kan? Lagian, tidak terlalu buruk.” pembelaan yang kurang logis memang.

“Memang kau akan bermain apa di taman?”

“Mungkin Hide and Seek.”

”Lagi?” dia mendesah.

Dia membelai rambutku. Tapi rasanya sangat geli.

“Kau sudah tidak pantas untuk bermain seperti itu. Kau sudah remaja. Kau sudah berhalangan bukan? Ayolah.” jawaban yang sangat tidak memuaskan.

“Tapi..” aku kehabisan kata-kata

Dia hanya tersenyum menandakan aku harus menurutinya.

Baiklah.

Aku menurutinya.

Pada saat acara minum teh, aku tidak membahas apapun tentang pengumuman itu.
Pada malam hari, malam minggu, hujan turun. Aku mengamati foto anak itu di kamar itu. Aku sadar satu hal. Anak itu. Anak itu adalah diriku. Sangat mirip. Aku akan segera menanyakannya kepada Barbara.

Tiba-tiba, pintu kamarku diketuk dengan hangat.

“Boleh saya masuk hei gadis kecil yang sudah tidak kecil lagi?” aku tahu itu suara Barbara.

“Tentu wanita dewasa.”

Dia duduk di sebelahku. Menyakan dimana aku menyimpan alat pembersih rumah karena besok temannya akan meminjamnya. Dia juga mengingatkanku untuk selalu berpakaian hangat akhir-akhir ini karena alasan cuaca yang tidak bersahabat.

“Aku tahu Barbara. Aku kan sudah beranjak remaja. Haha.” aku tahu aku menyadarinya, aku sudah remaja.

Dia tersenyum dan bangkit dari tempat tidur. Tepat sebelum dia memutarkan badan ke arah pintu untuk keluar, aku menggapai pergelangan tangannya.

“Barbie. Tolong jawab pertanyaanku.”

Dia duduk kembali dan tersenyum hangat.

“Ada yang perlu saya bantu? Kau butuh pembalut? Atau bra baru? Haha.”

“Tidak.” aku memasang ekspresi se-serius mungkin untuk menahan tawa.”Tanggal berapa kau menemukanku?”

“5 Januari.”katanya dengan santai.

“Dimana kau menemukanku?” tanyaku makin penasaran. Aku terus menginterogasinya.

“Di sebuah festival musik.” Oh, aku tidak tahu kalau di suka musik.

“Bagaimana caranya kau bisa menemukanku?”

“Aku melihat kau sedang di cuci otak dengan seorang bapak tua yang sangat keji. Aku berniat menyelamatkanmu. Dan membawamu pulang.” tampak ekspresi aneh yang dia keluarkan saat mengatakan hal itu.

“Darimana kau tahu namaku?”

“Dari kalungmu. Disitu tertulis huruf V dengan warna ungu. Dan ternyata kau memegang sebuah buku dan disitu tercantum namamu. Violet Tracy. Tidak tercantum nama keluarga.”

Aku terdiam.

“Hei hei. Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi honey?” tanyanya dengan khawatir.
Dia melihat pengumuman itu dan mengambilnya dariku.

Ekspresinya langsung berubah dan dia langsung terdiam. Dia keluar dan menutup pintu kamarku sambil mengucapkan selamat malam. Aku tahu.

Itu diriku.

Keluargaku mencariku.

Tangisku benar-benar pecah. Dikeheningan malam yang dingin. Air mataku mengalir dengan lembut. Aku memutuskan akan pergi menuju alamat yang tertulis di pengumuman itu besok pagi-pagi sekali. Ya ampun itu gila. Maksudku, seorang bocah berumur 11 tahun kabur dari rumah. Benar-benar hal yang bodoh. Oke. Bicarakan itu besok pagi.

Saatnya terlelap.



To Be Continued...

No comments:

Post a Comment