Pagi-pagi sekali aku bangun. Aku berniat melakukan hal bodoh itu.
Maksudku, hal gila! Ya ampun aku gak yakin deh soal itu. Masih meragu.
Tapi, setelah aku selesai mengkhayal, aku mendengar suara orang berjalan. Hei bukan paranormal activity! Yah, mungkin Barbara sudah bangun. Tapi untuk apa? Jadi, aku tidak bisa melaksanakan hal bodoh, maksudku gila, itu sekarang? Oh, atau mungkin bisa dari jendela. Yah benar-benar gila! Aku akan merasa ketakutan seumur hidup bila melakukan hal itu. Oh Tuhan. Aku lupa bahwa aku takut berjalan yang terlalu jauh sendirian. Gak lucu kan bahwa akan terdengar berita pagi “seorang gadis kecil ditemukan di pusat pembuangan sampah?”. Maksudku, aku yakin aku akan tersesat. Dua tahun bukanlah waktu yang lama untuk mengetahui dunia luar. Aku hanya mengetahui seputar desa ini. Desa kecil Wibber. Tidak pernah keluar dari situ. Selama 4 tahun. Oke itu suram sekali.
Ketukan pintu yang terburu-buru terdengar dari arah pintu kamarku.
“Hei Tracy cepatlah bersiap.”
Barbara! Oh ampun deh untuk apa pagi-pagi sekali ke sekolah. Itu bodoh. Aku ingin melanjutkan tiduru, oh mungkin khayalanku. Ahh…
Dia masuk.
“Siapkan beberapa potong baju untuk perjalanan jauh kita. Yah tidak terlalu jauh. Lumayan." Ucap Barbara dengan terburu-buru.
“Apa maksudmu?”
“Kita akan menemui keluargamu.”
“Aku?”
“Ya!”
“Yakin?”
“Yup!”
“Keluarga?”
“Benar. Oh ayolah cepat sedikit!”
Aku sangat senang. Tanpa harus melakukan hal bodoh, mungkin gila, tadi aku tetap bisa bertemu dengan keluargaku! Oh aku tidak bisa bayangkan bagaimana nanti. Oke aku siap untuk mengkhayal. Jadi, keluargaku akan..
“Oh Tracy cepatlah! Kukira kau akan perlu waktu untuk mengucapkan salam perpisahan pada Diana.” Wow. Aku hampir saja lupa! Diana!
Aku langsung berlari ke rumah Keluarga Lewis. Itu lucu. Masih menggunakan piyama. Bodoh. Saat tiba di depan pintu . Aku gugup. Aku mengetuk dan…
Oh My! Itu Diana!
“Diana,”kataku gugup “Aku sangat menyayangimu, maaf atas semua ini.” Aku berbicara bagaikan puisi.
“Apakah ini saatnya?” Diana masih tidak mengerti.
“YA!”
“Oh aku turut bahagia! Apakah kau sudah merancang acaranya. Oh lihat! Biarkan aku membantumu! Dengan gaun putih dan ooh..” katanya terengah-engah.
“Oh tunngu. Apa maksudmu?”
“Tentunya pernikahanmu dengan Tom.”
Itu GILA.
Diana sering sekali mengalami ini. Not connected.
Bayangkan gadis 13 tahun menikah bukan dengan pacarnya. Melainkan degan seorang cowok yang jarang sekali bicara dengannya. GILA.
“Bukan Tom! Menikah? Itu konyol! Tapi ini tentang keluarga.”
“Keluarga? Keluargamu?” Diana tampak sedih.
“Ya. Keluargaku. Barbara akan mengantarku pulang kesana. Pagi ini. Sekarang juga.”
“Oke kau mempunyai keluarga!” Diana berteriak bahagia tetapi sebulir air mata mengalir di pipinya yang merah.
Tanpa sadar, aku mendapati 2 gadis kecil yang menangis tersedu-sedu sambil berpelukan di depan pintu rumah. Oke itu kami.
“Disisi lain aku bahagia ternyata kau masih punya keluarga. Tapi aku akan kehilanganmu.” Diana menangis sesenggukan. Itu berlebihan mengingat kami hanya bersahabat 4 tahun.
“Tapi aku harus Diana. Kau bisa menyuratiku?”
“Mengapa surat? Itu akan terlalu lama. Kita bisa menggunakan internet kan? Kakakku sudah mengajari sedikit tentang itu.”
“Tidak Diana. Aku benar-benar buta tentang itu.”
“Oke Trace. Aku akan sangat merindukkanmu. Oooh…”
Kami merenggangkan pelukan itu untuk menarik napas sedalam-dalamnya karena dalam beberapa menit lagi kami akan berpisah.
“Titip salamku pada teman-teman di sekolah.”
“Termasuk Tom?”
“Mungkin,” Itu membuatku tersenyum “Oh titipkan maafku kepada Cam. Saus bokong?”
“Yeah,” Diana tertawa dan kami berpelukan untuk terakihr kalinya “Daah..”
“Daah..” balasku.
Aku masuk ke dalam mobil kodok Barbara.
Barbie-nama kecilnya- membuka kaca mobilnya dengan susah dan menyarankan aku agar melambaikan tangan pada Diana.
Perjalanan pun dimulai.
“Barbie.”
“Ya akulah Barbienya.” Dia tertawa kecil. Aku juga.
“Barbie, akankah kita ke alamat keluargaku? Kau tahu?”
“Entahlah.” Aku tahu mungkin dia sedang malas untuk menjawab. Tapi aku yakin akan berteu keluargaku. Kata Barbara, aku akan mengingat keluargaku bila aku bertemu dengan keluargaku. Barbie yakin akan hali itu.
“Hei ini.” Dia menyodorkan permen mentos-nya.
“Trims Barbie.” Aku menerimanya.
“Siapa?” Aneh. Untuk apa dia bertanya seperti itu.
“Barbie.”Oh aku tak tahu apakah ini jawaban yang benar atau tidak.
“Oh akulah wanita Barbienya.”
Dia tertawa. Aku tak tahu itu percakapan yang luu atau tidak, aku pura-pura tertawa.
Dia sering seperti itu.Konyol. Maksudku, dia sering mengatakan “Akulah wanita Barbienya.” Bodoh. Semua juga tahu kalau Barbie adalah brand untuk boneka perempuan berbentuk manusia. Bangga sekali dia mempunyai nama kecil seperti itu.Tapi, keren juga sih. Barbie. Nama yang cantik. Sayangnya, Barbie tidak secantik Barbie.
Aku memutuskan untuk berkhayal. Tentunya tentang keluargaku.
Tadinya, aku berniat untuk membaca novel. Tapi aku bosan. Karena Barbara hanya membelikanku satu novel. Aku sudah membacanya hampir 60 kali selama aku tinggal dengannya. Sampai-sampai aku hafal dialog-dialognya. Novelnya sih keren. Judulnya Captain Underpants. Lucu deh. Di desa Wibber, jarang sekali yang suka membaca buku.
Salah satunya Mrs. Ocle. Mrs. Ocle.
Mereka adalah seorang janda tua yang terkenal dengan kedisplinannya. Karena itu, jarang yang ingin berteman dengannya. Tetapi dia mempunyai sebuah perpustakaan kecil yang sangat menakjubkan. Aku boleh meminjam diantaranya, tetapi ada syaratnya. Setiap pulang sekolah aku harus membantunya membersihkan rumah. Yah, itu pekerjaan yang tidak mudah mengingat aku juga seorang pembersih rumah Barbara. Keesokan harinya, sepulang sekolah, aku segera mengganti baju seragamku dengan t-shirt dan celana Hawaii. Saat aku keluar dari rumah untuk menuju rumah Mrs.Ocle, sialnya, Barbie pulang dan memergokiku. Dia bertanya dan aku menjawab sejujurnya. Dia marah besar tetapi bersyukur aku belum sempat ,elakukannya. Barbara sempat mempunyai masalah besar dengan Mrs. Ocle. Walaupun mereka sudah berdamai, tetapi tetap saja Barbie tidak sudi mengunjungi rumah Mrs.Ocle dan juga sebaliknya. Oke tandanya aku dilarang. Dilarang keras. Brarti, tidak ada kesempatan untuk membaca buku. Bodoh. Aku sempat marah kepada Barbie dan menangis sepanjang sore di kamar. Lagipula masalah itu sudah lama dan tidak ada hubungannya denganku. Tetapi saat itu aku sadar. Ada betulnya juga. Yah, kalau aku menjalankan misiku, aku akan sangat kelelahan dan tidak bisa mengerjakan PR-PRku. Mungkin pekerjaan rumah akan tidak terkerjakan dengan baik. Saat itu aku bersyukur atas larangan Barbie dan segera minta maaf padanya.
Tetapi selain aku sudah bosan membaca Captain Underpants, aku juga tidak bisa membaca dalam mobil. Bisa-bisa aku mengotori mobil kodok Barabara yang kotor ini dengan muntahku. Eww..
To Be Continued...
Tapi, setelah aku selesai mengkhayal, aku mendengar suara orang berjalan. Hei bukan paranormal activity! Yah, mungkin Barbara sudah bangun. Tapi untuk apa? Jadi, aku tidak bisa melaksanakan hal bodoh, maksudku gila, itu sekarang? Oh, atau mungkin bisa dari jendela. Yah benar-benar gila! Aku akan merasa ketakutan seumur hidup bila melakukan hal itu. Oh Tuhan. Aku lupa bahwa aku takut berjalan yang terlalu jauh sendirian. Gak lucu kan bahwa akan terdengar berita pagi “seorang gadis kecil ditemukan di pusat pembuangan sampah?”. Maksudku, aku yakin aku akan tersesat. Dua tahun bukanlah waktu yang lama untuk mengetahui dunia luar. Aku hanya mengetahui seputar desa ini. Desa kecil Wibber. Tidak pernah keluar dari situ. Selama 4 tahun. Oke itu suram sekali.
Ketukan pintu yang terburu-buru terdengar dari arah pintu kamarku.
“Hei Tracy cepatlah bersiap.”
Barbara! Oh ampun deh untuk apa pagi-pagi sekali ke sekolah. Itu bodoh. Aku ingin melanjutkan tiduru, oh mungkin khayalanku. Ahh…
Dia masuk.
“Siapkan beberapa potong baju untuk perjalanan jauh kita. Yah tidak terlalu jauh. Lumayan." Ucap Barbara dengan terburu-buru.
“Apa maksudmu?”
“Kita akan menemui keluargamu.”
“Aku?”
“Ya!”
“Yakin?”
“Yup!”
“Keluarga?”
“Benar. Oh ayolah cepat sedikit!”
Aku sangat senang. Tanpa harus melakukan hal bodoh, mungkin gila, tadi aku tetap bisa bertemu dengan keluargaku! Oh aku tidak bisa bayangkan bagaimana nanti. Oke aku siap untuk mengkhayal. Jadi, keluargaku akan..
“Oh Tracy cepatlah! Kukira kau akan perlu waktu untuk mengucapkan salam perpisahan pada Diana.” Wow. Aku hampir saja lupa! Diana!
Aku langsung berlari ke rumah Keluarga Lewis. Itu lucu. Masih menggunakan piyama. Bodoh. Saat tiba di depan pintu . Aku gugup. Aku mengetuk dan…
Oh My! Itu Diana!
“Diana,”kataku gugup “Aku sangat menyayangimu, maaf atas semua ini.” Aku berbicara bagaikan puisi.
“Apakah ini saatnya?” Diana masih tidak mengerti.
“YA!”
“Oh aku turut bahagia! Apakah kau sudah merancang acaranya. Oh lihat! Biarkan aku membantumu! Dengan gaun putih dan ooh..” katanya terengah-engah.
“Oh tunngu. Apa maksudmu?”
“Tentunya pernikahanmu dengan Tom.”
Itu GILA.
Diana sering sekali mengalami ini. Not connected.
Bayangkan gadis 13 tahun menikah bukan dengan pacarnya. Melainkan degan seorang cowok yang jarang sekali bicara dengannya. GILA.
“Bukan Tom! Menikah? Itu konyol! Tapi ini tentang keluarga.”
“Keluarga? Keluargamu?” Diana tampak sedih.
“Ya. Keluargaku. Barbara akan mengantarku pulang kesana. Pagi ini. Sekarang juga.”
“Oke kau mempunyai keluarga!” Diana berteriak bahagia tetapi sebulir air mata mengalir di pipinya yang merah.
Tanpa sadar, aku mendapati 2 gadis kecil yang menangis tersedu-sedu sambil berpelukan di depan pintu rumah. Oke itu kami.
“Disisi lain aku bahagia ternyata kau masih punya keluarga. Tapi aku akan kehilanganmu.” Diana menangis sesenggukan. Itu berlebihan mengingat kami hanya bersahabat 4 tahun.
“Tapi aku harus Diana. Kau bisa menyuratiku?”
“Mengapa surat? Itu akan terlalu lama. Kita bisa menggunakan internet kan? Kakakku sudah mengajari sedikit tentang itu.”
“Tidak Diana. Aku benar-benar buta tentang itu.”
“Oke Trace. Aku akan sangat merindukkanmu. Oooh…”
Kami merenggangkan pelukan itu untuk menarik napas sedalam-dalamnya karena dalam beberapa menit lagi kami akan berpisah.
“Titip salamku pada teman-teman di sekolah.”
“Termasuk Tom?”
“Mungkin,” Itu membuatku tersenyum “Oh titipkan maafku kepada Cam. Saus bokong?”
“Yeah,” Diana tertawa dan kami berpelukan untuk terakihr kalinya “Daah..”
“Daah..” balasku.
Aku masuk ke dalam mobil kodok Barbara.
Barbie-nama kecilnya- membuka kaca mobilnya dengan susah dan menyarankan aku agar melambaikan tangan pada Diana.
Perjalanan pun dimulai.
“Barbie.”
“Ya akulah Barbienya.” Dia tertawa kecil. Aku juga.
“Barbie, akankah kita ke alamat keluargaku? Kau tahu?”
“Entahlah.” Aku tahu mungkin dia sedang malas untuk menjawab. Tapi aku yakin akan berteu keluargaku. Kata Barbara, aku akan mengingat keluargaku bila aku bertemu dengan keluargaku. Barbie yakin akan hali itu.
“Hei ini.” Dia menyodorkan permen mentos-nya.
“Trims Barbie.” Aku menerimanya.
“Siapa?” Aneh. Untuk apa dia bertanya seperti itu.
“Barbie.”Oh aku tak tahu apakah ini jawaban yang benar atau tidak.
“Oh akulah wanita Barbienya.”
Dia tertawa. Aku tak tahu itu percakapan yang luu atau tidak, aku pura-pura tertawa.
Dia sering seperti itu.Konyol. Maksudku, dia sering mengatakan “Akulah wanita Barbienya.” Bodoh. Semua juga tahu kalau Barbie adalah brand untuk boneka perempuan berbentuk manusia. Bangga sekali dia mempunyai nama kecil seperti itu.Tapi, keren juga sih. Barbie. Nama yang cantik. Sayangnya, Barbie tidak secantik Barbie.
Aku memutuskan untuk berkhayal. Tentunya tentang keluargaku.
Tadinya, aku berniat untuk membaca novel. Tapi aku bosan. Karena Barbara hanya membelikanku satu novel. Aku sudah membacanya hampir 60 kali selama aku tinggal dengannya. Sampai-sampai aku hafal dialog-dialognya. Novelnya sih keren. Judulnya Captain Underpants. Lucu deh. Di desa Wibber, jarang sekali yang suka membaca buku.
Salah satunya Mrs. Ocle. Mrs. Ocle.
Mereka adalah seorang janda tua yang terkenal dengan kedisplinannya. Karena itu, jarang yang ingin berteman dengannya. Tetapi dia mempunyai sebuah perpustakaan kecil yang sangat menakjubkan. Aku boleh meminjam diantaranya, tetapi ada syaratnya. Setiap pulang sekolah aku harus membantunya membersihkan rumah. Yah, itu pekerjaan yang tidak mudah mengingat aku juga seorang pembersih rumah Barbara. Keesokan harinya, sepulang sekolah, aku segera mengganti baju seragamku dengan t-shirt dan celana Hawaii. Saat aku keluar dari rumah untuk menuju rumah Mrs.Ocle, sialnya, Barbie pulang dan memergokiku. Dia bertanya dan aku menjawab sejujurnya. Dia marah besar tetapi bersyukur aku belum sempat ,elakukannya. Barbara sempat mempunyai masalah besar dengan Mrs. Ocle. Walaupun mereka sudah berdamai, tetapi tetap saja Barbie tidak sudi mengunjungi rumah Mrs.Ocle dan juga sebaliknya. Oke tandanya aku dilarang. Dilarang keras. Brarti, tidak ada kesempatan untuk membaca buku. Bodoh. Aku sempat marah kepada Barbie dan menangis sepanjang sore di kamar. Lagipula masalah itu sudah lama dan tidak ada hubungannya denganku. Tetapi saat itu aku sadar. Ada betulnya juga. Yah, kalau aku menjalankan misiku, aku akan sangat kelelahan dan tidak bisa mengerjakan PR-PRku. Mungkin pekerjaan rumah akan tidak terkerjakan dengan baik. Saat itu aku bersyukur atas larangan Barbie dan segera minta maaf padanya.
Tetapi selain aku sudah bosan membaca Captain Underpants, aku juga tidak bisa membaca dalam mobil. Bisa-bisa aku mengotori mobil kodok Barabara yang kotor ini dengan muntahku. Eww..
To Be Continued...
No comments:
Post a Comment