Kenapa-semua-ini-terjadi.
Oh Tuhan. Ternyata aku benar-benar payah
“Oh, please God! Apa ini?” Erang Morgan. Morgan adalah temanku. Ok. Maksudku teman baik. Well, sahabat. Tapi apakah aku akan menjadi sahabat yang baik baginya bila dia tahu aku yang ternyata melakukannya –untuk balas dendam (bukan padanya, tentunya)? Tidak. Aku tetap sahabat yang baik, bukan? Yeah, paling tidak akulah yang meminjamkannya jeans Levi’s seksiku (hanya terlihat seksi pada Morgan, tidak pernah padaku).
Morgan sangat populer. Tapi aku tidak. Padahal aku sahabat baiknya? Ya kan? Tapi mengapa? Ok. Fine. Aku tak habis pikir deh. Seharusnya aku juga populer. Hampir semua orang di sekelilingku populer. Well, kakakku, Carter, dia sangat populer. Bayangkan hampir setiap malam telepon rumah berdering hanya untuk “Hai, Bisakah aku berbicara dengan Carter” dan itu semua –setauku– dari cewek-cewek seperti Madison Hoore. Taukah kau? Cewek-cewek pemandu sorak (sepertinya mereka lebih pantas disebut cewek-cewek perebut cowok) itu sangat menggemari Carter.
Tapi tidak aku. Yah, maksudku bukannya aku berharap akan digemari cewek-cewek pemandu sorak seperti Madison Hoore, tentu saja tidak! Bisakah Austin Philps menjadi teman kencanku? Yah itu hanya mimpi. Dialah cowok yang sangat digemari di sekolahku (terutama cewek-cewek seperti Madison Hoore).
“Aku yakin pasti ini perbuatan cewek jalang seperti Madison!” Morgan –sedikit berteriak– masih mengeluh tentang roknya yang basah kuyup karena dia menduduki bangku yang basah. Itu salahnya ,ya kan? Tidak sepenuhnya salahnya sih. Sebenarnya itu salahku. Tidak sepenuhnya juga. Aku hanya membasahi bangku itu. Dengan-Sengaja. Kan aku tidak tahu kalau yang akan duduk disitu adalah Morgan. Ejekan Madison pada jam Olahraga benar-benar memancing emosiku. Awalnya aku hanya tidak sengaja menyeggol bahunya. Tapi malahan dia yang marah walaupun aku sudah minta maaf.
“Hei! Siapa kau beraninya menyeggol bahuku yang seksi ini?” keluh Madison. Jujur bahunya memang seksi. Hampir seluruh bagian tubuhnya, maksudku. Dia terlihat seksi, mulus dan pirang. Rambut pirangnya yang dibelah dibagian tengah dan bergelombang benar-benar cocok dengan tubuhnya yang penuh dengan lekukan indah. Itu salah satu ciri pemandu-sorak-perebut-hati-lelaki-kan? Well, aku iri.
“Aku Callie Hylte. Adiknya Carter Hylte.” Jawabku pada Madison –berharap dia segan padaku karena akulah adik dari (salah satu) cowok yang populer. Dengan tanganku di pinggang, aku berniat menunjukkan bahwa tubuhku tidak kalah dengannya, tapi ternyata aku kalah. Mendengar jawabanku, Madison bukan terkesan alih-alih dia dan kawan-kawan setipenya (perebut cowok –sangat menyebalkan bukan?) malah tertawa keras.
“Apakah aku mendengar Silly Hylte? Oh ya adiknya yang tolol. Hahaha.” Hinanya kepadaku. Mungkin itu lelucon yang sangat lucu –bila aku bukan jadi ‘adiknya yang tolol’. Rasanya aku mau bilang, “Hei! Tubuhmu yang indah menutupi pendengaranmu! Callie bukannya Silly!” tapi aku sedang tidak ingin berdebat. Aku hanya melenggang ke ruang ganti perempuan untuk berganti lalu pergi makan siang –dan juga memikirkan ide untuk balas dendam. Ha. Aku tahu! Saat itu Abby Cheer –cewek jenius tetapi dengan kelakuannya yang aneh dia menjadi cewek yang terkucilkan– tidak sengaja menumpahkan air minumnya ke baju salah satu pemandu sorak . Kebetulan para-cewek-perebut-hati-lelaki itu telah memakai kostum minim mereka untuk menunjukkan formasi baru piramida mereka kepada seantero sekolah di gedung pertunjukkan nanti. Memamerkan setiap jengkal kulit mereka. Kontan Abby mendapatkan kesenangan (Abby sudah pasti benci dengan mereka, dan mereka membenci Abby) karena telah membuat sang pemandu sorak marah besar dan, tentunya, malu. Itu ide yang bagus untuk balas dendam.
Sambil menunggu Morgan, aku menumpahkan(lebih tepatnya, mengoleskan) air –dicampur dengan cairan perekat kertas– di bangku tempat biasa Madison makan siang. Tetapi tiba-tiba Morgan datang dari kelas matematika. Dia bercerita bagaimana malam kemarin Madison meneleponnya dan memamerkan kencannya dengan cowok keren dan kaya raya yang baru dikenalnya pada siang harinya. Morgan ingin menunjukkan bagaimana kesalnya dia dengan duduk di bangku makan siang Madison. OOPS!
“Umm, well, bisakah kau mengecilkan volume suaramu sedikit, Morgan?” Ujarku padanya. Aku merasa bersalah. Jelas itu salahku. Tapi aku tidak mungkin mengakui kebodohanku, kan? Boleh lah menyalahkan Madison sedikit? Tenang, hanya kepada Morgan. “Hei, apa kelasmu setelah ini? Kalau kelas Bebas, berarti kau akan menonton Madison dan piramidanya di gedung pertunjukkan.” Kataku berniat mengalihkan pembicaraan. Tetapi Morgan terus saja berbicara.
“Kau tahu apa ide yang lebih bagus? Tomat busuk di kursi mungkin akan bekerja. Tentunya, sebelum dia menunjukkan piramidanya itu.” Ucap Morgan dengan tawa sinisnya itu. Aku tidak dapat menahan tawaku, membayangkan betapa merah wajah Madison jika penonton melihat warna merah menjijikan di rok bagian belakangnya –tepatnya bokongnya. Tapi aku khawatir, jika itu benar-benar akan terjadi. Oh Tuhan aku akan merasa sangat bersalah jika itu terjadi. Sepertinya ide balas dendam sangat buruk. Well, mengingat aku tidak selalu berhasil. Salah satunya yang tadi. Aku juga pernah berbohong pada Carter, maksudku sering. Aku sering berbohong pada orang. Ya ampun itu semua membuatku merasa bersalah. Tapi beberapa diantaranya untuk kebaikan.
Saat itulah Austin Phipls berjalan arah kami. KAMI! Mungkin bagi Morgan itu biasa saja. Atau mungkin, peluang baginya untuk menjelek-jelekkan nama Madison Moore. Austin pasti mengenal Morgan. Tapi aku? Gak sama sekali deh. Kami sempat menjadi partner Lab saat kelas 9 dulu. Tapi hanya selama 5 menit. Yeah selanjutnya, aku menemukan Madison yang sedang bercanda ria dengannya. Jelas saja dia tidak sempat menanyakan namaku –APALAGI UNTUK BERCANDA.
“Girls, party tonight. Morgan?” Ucap Austin sambil menatap Morgan penuh arti. Oh mata birunya melelehkan semua wanita. Kulit coklatnya yang terbakar matahari sangat keren dipadukan dengan T-Shirt biru dongker dan jeans biru muda.
“Ok. Tunggu aku jam 8 malam. Jemput?” Kata Morgan dengan penuh percaya diri (dan sedikit manja –oh maksudku manja. Tidak sedikit. Bahkan dia meraba tangan Austin. Menggelikan, pikirku).
“Sorry babe,” Jawab Austin dengan tersenyum nakal. Dan dia membalas raba-an tangan Morgan dengan menggenggam tangan –mulus– Morgan penuh arti. Sejurus kemudian aku temukan mereka sedang berciuman. Aku tidak nyangka deh akhirnya kayak gini. Mengapa Morgan berani-beraninya berciuman dan bermesraan di kantin begini? Serius aku mau muntah. Oh ya aku tahu. Diseberang kami ada Madison. Oh Morgan, tapi tidak seperti ini caranya, membuat sahabatmu tidak makan siang karena kau bermesraan dengan Austin Philps di depannya.
“Ehm, ehm.” Dehamku sengaja. Agar mereka berhenti berciuman dan aku bisa makan siang. Aku lapar! Please, jangan buat aku muntah dan kelaparan!!
“Oh maaf.” Kata Morgan kepadaku. Tapi tetap saja mereka masih saling menyunggingkan sennyuman nakal satu sama lain.
“Aku lapar. Ayolah.” Bujukku pada Morgan. Dan sekali lagi, Morgan berbicara seperti tidak mendengarkan apa-apa. Kadang aku heran. Mengapa aku mau sahabatan dengannya sih. Yeah, kecuali karena kepopulerannya.
“Kau ikut kan, Call?” Tanya Morgan kepadaku.
“Yeah, pasti. Aku sudah lapar.”
“Ok. Girls, aku tunggu kalian jam 8,” Seru Austin kepada kami sambil pergi begitu saja. Aku tidak memikirkan pergi kemana dia. Oh ya Madison. Kayak aku peduli saja! AKU LAPAR!
“Pesta, kami datang!” Seru Morgan sambil cekikikan sendiri. Tunggu. Kami?
“Kau saja. Aku tidak.” Ujarku sambil ngeloyor untuk mengambil makanan.
“Apa maksudmu sih? Tadi katamu? “ Oh yeah jelas saja Morgan bingung. Aku mengira ajakan ‘kau ikut kan, Call?’ adalah ajakan makan siang! Pasti aku sudah sangat lapar. Sekarang aku harus katakan apa? Aku tidak ingin ikut pesta. Tepatnya, jika aku harus melihat Austin bermesraan bersama banyak cewek. Dia boleh bermesraan dengan siapapun, tapi kau lebih baik membunuhku jika aku harus melihat itu 100 kali –dan mungkin 50 kalinya adalah dengan sahabatku sendiri. Aku tidak dapat memungkirinya. Aku me-nyuka-i-nya. Lebih dari itu. Mungkin, mengaguminya. Yah hampir seluruh cewek disekolah juga mengaguminya. Tapi, aku lebih dari itu, dan aku.. Oke, aku tidak tahu perasaanku. Aku memang payah. Tidak seperti Morgan atau bahkan si jalang Madison. Atau bahkan tidak sehebat Carter.
“Umm.. Sepertinya aku mendadak tidak enak badan.” Itu benar. Aku lapar sekarang. Kami terus membiacarakan hal itu sambil mengantri untuk mengambil makanan. Dan menu hari itu: Beef Burger, Kentang Goreng, Salad dan Susu. Hmm.. Lumayan, pikirku.
“Mendadak sakit hanya dalam 2 menit. Kau ini kenapa sih?” Kata Morgan dengan kesal.
“Aku tidak apa-apa.”
“Kau harus ikut.”
“Kau ini kenapa sih? Memaksa saja.”
“Ayolah. Carter juga pasti ikut kan? Kau dan kakakmu yang tampan dan populer.”
“Yayaya Carter lagi, Carter lagi,” Ini menyebalkan. Aku berharap ada cowok yang ngomongin aku juga seperti Morgan selalu membicarakan Carter. Tapi bukannya aku berharap ada cowok yang membicarakan aku karena menjadi partner lab yang buruk. “Dengar ya. Aku gak akan ikut! Lagipula aku mau pakai baju lusuh?” Ujarku pada Morgan sambil memandangnya kesal.
“Kau bisa pinjam bajuku, kan? Lagipula aku lihat gaun pesta cantik yang seksi di lemarimu,” Ya, seksi di badanmu. Tidak padaku. Kalau aku pinjam bajumu, entah apa yang harus aku sumpal di bagian dada. “Mau belanja sepulang sekolah?”
“Aku –“ Dia sering sekali memotong perkataanku.
“Wow, sepertinya Madison sedang bersiap untuk tampil menunjukkan piramidanya, Oke, aku makan bareng Austin. Sampai ketemu di pesta nanti malam, sayang,” Seru Morgan. “Oh ya, aku akan menjemputmu.” Dia langsung mengambil makan siangnya dan cabut ke meja Austin duduk –dan 10 cewek lainnya.
Ini memang menyebalkan. Aku harus menyelesaikan PR Biologiku yang seharusnya sudah kukerjakan dari 2 minggu yang lalu. Aku yakin Morgan sudah mengerjakannya. Mungkin menurutmu aku menyontek pekerjaanya? Wow, tidak pada saat seperti ini. Dia pasti tidak mendengarkan apa yang aku omongkan dan sibuk membicarakan Pesta Austin. Lagi pula, aku sudah berjanji tidak menyontek lagi. Dulu aku pencontek yang handal. Hmapir semua soal IPA dan Matematika aku bertanya –bertanya jawaban pada saat ulangan. Tapi sejak tahun ajaran ini, aku merasa bersalah jika menyontek. Entah kenapa. Mungkin Tuhan sudah mengutukku. Aku memang payah. Payah dan Bodoh. Tapi setidaknya, aku mendapat pujian yang bagus di kelas seni, drama, dan olahraga. Mungkin aku tidak sangat berprestasi di bidang seni atau olahraga, aku hanya lumayan di bidang itu.
Jam pelajaran siang tidak terlalu menyenangkan. Maksudku, tidak menyenangkan. Fisika. Biologi. Aku menyesal mengambil pelajaran itu pada siang hari. Lebih baik pada pagi. Maksudku, kau akan lebih mudah menyerap kedua pelajaran tolol itu saat kau tidak mengantuk kan? Ya. Aku tertidur pada jam pelajaran Fisika. Memalukan. Sangat. Hal yang membuat itu bertambah konyol adalah Mr. Braky membangunkanku dengan sebuah pertanyaan. Aku tidak tahu apa. Yang jelas aku menjawabnya dengan, “AKU TIDAK IKUT KE PESTA!” dan semua tertawa. Terlebih-lebih anak cowok jahil golongan Clyte Johnson. Mereka terus menggodaku dengan nyanyian ‘Are You Sleeping?’ versi mereka.
Are you sleeping, Are you sleeping?
Silly Hilte.. Silly Hylte..
Lot of questions waiting.. Lot of questions waiting..
Ding ding dong
Ding ding dong
Konyol!
Oh Tuhan. Ternyata aku benar-benar payah
“Oh, please God! Apa ini?” Erang Morgan. Morgan adalah temanku. Ok. Maksudku teman baik. Well, sahabat. Tapi apakah aku akan menjadi sahabat yang baik baginya bila dia tahu aku yang ternyata melakukannya –untuk balas dendam (bukan padanya, tentunya)? Tidak. Aku tetap sahabat yang baik, bukan? Yeah, paling tidak akulah yang meminjamkannya jeans Levi’s seksiku (hanya terlihat seksi pada Morgan, tidak pernah padaku).
Morgan sangat populer. Tapi aku tidak. Padahal aku sahabat baiknya? Ya kan? Tapi mengapa? Ok. Fine. Aku tak habis pikir deh. Seharusnya aku juga populer. Hampir semua orang di sekelilingku populer. Well, kakakku, Carter, dia sangat populer. Bayangkan hampir setiap malam telepon rumah berdering hanya untuk “Hai, Bisakah aku berbicara dengan Carter” dan itu semua –setauku– dari cewek-cewek seperti Madison Hoore. Taukah kau? Cewek-cewek pemandu sorak (sepertinya mereka lebih pantas disebut cewek-cewek perebut cowok) itu sangat menggemari Carter.
Tapi tidak aku. Yah, maksudku bukannya aku berharap akan digemari cewek-cewek pemandu sorak seperti Madison Hoore, tentu saja tidak! Bisakah Austin Philps menjadi teman kencanku? Yah itu hanya mimpi. Dialah cowok yang sangat digemari di sekolahku (terutama cewek-cewek seperti Madison Hoore).
“Aku yakin pasti ini perbuatan cewek jalang seperti Madison!” Morgan –sedikit berteriak– masih mengeluh tentang roknya yang basah kuyup karena dia menduduki bangku yang basah. Itu salahnya ,ya kan? Tidak sepenuhnya salahnya sih. Sebenarnya itu salahku. Tidak sepenuhnya juga. Aku hanya membasahi bangku itu. Dengan-Sengaja. Kan aku tidak tahu kalau yang akan duduk disitu adalah Morgan. Ejekan Madison pada jam Olahraga benar-benar memancing emosiku. Awalnya aku hanya tidak sengaja menyeggol bahunya. Tapi malahan dia yang marah walaupun aku sudah minta maaf.
“Hei! Siapa kau beraninya menyeggol bahuku yang seksi ini?” keluh Madison. Jujur bahunya memang seksi. Hampir seluruh bagian tubuhnya, maksudku. Dia terlihat seksi, mulus dan pirang. Rambut pirangnya yang dibelah dibagian tengah dan bergelombang benar-benar cocok dengan tubuhnya yang penuh dengan lekukan indah. Itu salah satu ciri pemandu-sorak-perebut-hati-lelaki-kan? Well, aku iri.
“Aku Callie Hylte. Adiknya Carter Hylte.” Jawabku pada Madison –berharap dia segan padaku karena akulah adik dari (salah satu) cowok yang populer. Dengan tanganku di pinggang, aku berniat menunjukkan bahwa tubuhku tidak kalah dengannya, tapi ternyata aku kalah. Mendengar jawabanku, Madison bukan terkesan alih-alih dia dan kawan-kawan setipenya (perebut cowok –sangat menyebalkan bukan?) malah tertawa keras.
“Apakah aku mendengar Silly Hylte? Oh ya adiknya yang tolol. Hahaha.” Hinanya kepadaku. Mungkin itu lelucon yang sangat lucu –bila aku bukan jadi ‘adiknya yang tolol’. Rasanya aku mau bilang, “Hei! Tubuhmu yang indah menutupi pendengaranmu! Callie bukannya Silly!” tapi aku sedang tidak ingin berdebat. Aku hanya melenggang ke ruang ganti perempuan untuk berganti lalu pergi makan siang –dan juga memikirkan ide untuk balas dendam. Ha. Aku tahu! Saat itu Abby Cheer –cewek jenius tetapi dengan kelakuannya yang aneh dia menjadi cewek yang terkucilkan– tidak sengaja menumpahkan air minumnya ke baju salah satu pemandu sorak . Kebetulan para-cewek-perebut-hati-lelaki itu telah memakai kostum minim mereka untuk menunjukkan formasi baru piramida mereka kepada seantero sekolah di gedung pertunjukkan nanti. Memamerkan setiap jengkal kulit mereka. Kontan Abby mendapatkan kesenangan (Abby sudah pasti benci dengan mereka, dan mereka membenci Abby) karena telah membuat sang pemandu sorak marah besar dan, tentunya, malu. Itu ide yang bagus untuk balas dendam.
Sambil menunggu Morgan, aku menumpahkan(lebih tepatnya, mengoleskan) air –dicampur dengan cairan perekat kertas– di bangku tempat biasa Madison makan siang. Tetapi tiba-tiba Morgan datang dari kelas matematika. Dia bercerita bagaimana malam kemarin Madison meneleponnya dan memamerkan kencannya dengan cowok keren dan kaya raya yang baru dikenalnya pada siang harinya. Morgan ingin menunjukkan bagaimana kesalnya dia dengan duduk di bangku makan siang Madison. OOPS!
“Umm, well, bisakah kau mengecilkan volume suaramu sedikit, Morgan?” Ujarku padanya. Aku merasa bersalah. Jelas itu salahku. Tapi aku tidak mungkin mengakui kebodohanku, kan? Boleh lah menyalahkan Madison sedikit? Tenang, hanya kepada Morgan. “Hei, apa kelasmu setelah ini? Kalau kelas Bebas, berarti kau akan menonton Madison dan piramidanya di gedung pertunjukkan.” Kataku berniat mengalihkan pembicaraan. Tetapi Morgan terus saja berbicara.
“Kau tahu apa ide yang lebih bagus? Tomat busuk di kursi mungkin akan bekerja. Tentunya, sebelum dia menunjukkan piramidanya itu.” Ucap Morgan dengan tawa sinisnya itu. Aku tidak dapat menahan tawaku, membayangkan betapa merah wajah Madison jika penonton melihat warna merah menjijikan di rok bagian belakangnya –tepatnya bokongnya. Tapi aku khawatir, jika itu benar-benar akan terjadi. Oh Tuhan aku akan merasa sangat bersalah jika itu terjadi. Sepertinya ide balas dendam sangat buruk. Well, mengingat aku tidak selalu berhasil. Salah satunya yang tadi. Aku juga pernah berbohong pada Carter, maksudku sering. Aku sering berbohong pada orang. Ya ampun itu semua membuatku merasa bersalah. Tapi beberapa diantaranya untuk kebaikan.
Saat itulah Austin Phipls berjalan arah kami. KAMI! Mungkin bagi Morgan itu biasa saja. Atau mungkin, peluang baginya untuk menjelek-jelekkan nama Madison Moore. Austin pasti mengenal Morgan. Tapi aku? Gak sama sekali deh. Kami sempat menjadi partner Lab saat kelas 9 dulu. Tapi hanya selama 5 menit. Yeah selanjutnya, aku menemukan Madison yang sedang bercanda ria dengannya. Jelas saja dia tidak sempat menanyakan namaku –APALAGI UNTUK BERCANDA.
“Girls, party tonight. Morgan?” Ucap Austin sambil menatap Morgan penuh arti. Oh mata birunya melelehkan semua wanita. Kulit coklatnya yang terbakar matahari sangat keren dipadukan dengan T-Shirt biru dongker dan jeans biru muda.
“Ok. Tunggu aku jam 8 malam. Jemput?” Kata Morgan dengan penuh percaya diri (dan sedikit manja –oh maksudku manja. Tidak sedikit. Bahkan dia meraba tangan Austin. Menggelikan, pikirku).
“Sorry babe,” Jawab Austin dengan tersenyum nakal. Dan dia membalas raba-an tangan Morgan dengan menggenggam tangan –mulus– Morgan penuh arti. Sejurus kemudian aku temukan mereka sedang berciuman. Aku tidak nyangka deh akhirnya kayak gini. Mengapa Morgan berani-beraninya berciuman dan bermesraan di kantin begini? Serius aku mau muntah. Oh ya aku tahu. Diseberang kami ada Madison. Oh Morgan, tapi tidak seperti ini caranya, membuat sahabatmu tidak makan siang karena kau bermesraan dengan Austin Philps di depannya.
“Ehm, ehm.” Dehamku sengaja. Agar mereka berhenti berciuman dan aku bisa makan siang. Aku lapar! Please, jangan buat aku muntah dan kelaparan!!
“Oh maaf.” Kata Morgan kepadaku. Tapi tetap saja mereka masih saling menyunggingkan sennyuman nakal satu sama lain.
“Aku lapar. Ayolah.” Bujukku pada Morgan. Dan sekali lagi, Morgan berbicara seperti tidak mendengarkan apa-apa. Kadang aku heran. Mengapa aku mau sahabatan dengannya sih. Yeah, kecuali karena kepopulerannya.
“Kau ikut kan, Call?” Tanya Morgan kepadaku.
“Yeah, pasti. Aku sudah lapar.”
“Ok. Girls, aku tunggu kalian jam 8,” Seru Austin kepada kami sambil pergi begitu saja. Aku tidak memikirkan pergi kemana dia. Oh ya Madison. Kayak aku peduli saja! AKU LAPAR!
“Pesta, kami datang!” Seru Morgan sambil cekikikan sendiri. Tunggu. Kami?
“Kau saja. Aku tidak.” Ujarku sambil ngeloyor untuk mengambil makanan.
“Apa maksudmu sih? Tadi katamu? “ Oh yeah jelas saja Morgan bingung. Aku mengira ajakan ‘kau ikut kan, Call?’ adalah ajakan makan siang! Pasti aku sudah sangat lapar. Sekarang aku harus katakan apa? Aku tidak ingin ikut pesta. Tepatnya, jika aku harus melihat Austin bermesraan bersama banyak cewek. Dia boleh bermesraan dengan siapapun, tapi kau lebih baik membunuhku jika aku harus melihat itu 100 kali –dan mungkin 50 kalinya adalah dengan sahabatku sendiri. Aku tidak dapat memungkirinya. Aku me-nyuka-i-nya. Lebih dari itu. Mungkin, mengaguminya. Yah hampir seluruh cewek disekolah juga mengaguminya. Tapi, aku lebih dari itu, dan aku.. Oke, aku tidak tahu perasaanku. Aku memang payah. Tidak seperti Morgan atau bahkan si jalang Madison. Atau bahkan tidak sehebat Carter.
“Umm.. Sepertinya aku mendadak tidak enak badan.” Itu benar. Aku lapar sekarang. Kami terus membiacarakan hal itu sambil mengantri untuk mengambil makanan. Dan menu hari itu: Beef Burger, Kentang Goreng, Salad dan Susu. Hmm.. Lumayan, pikirku.
“Mendadak sakit hanya dalam 2 menit. Kau ini kenapa sih?” Kata Morgan dengan kesal.
“Aku tidak apa-apa.”
“Kau harus ikut.”
“Kau ini kenapa sih? Memaksa saja.”
“Ayolah. Carter juga pasti ikut kan? Kau dan kakakmu yang tampan dan populer.”
“Yayaya Carter lagi, Carter lagi,” Ini menyebalkan. Aku berharap ada cowok yang ngomongin aku juga seperti Morgan selalu membicarakan Carter. Tapi bukannya aku berharap ada cowok yang membicarakan aku karena menjadi partner lab yang buruk. “Dengar ya. Aku gak akan ikut! Lagipula aku mau pakai baju lusuh?” Ujarku pada Morgan sambil memandangnya kesal.
“Kau bisa pinjam bajuku, kan? Lagipula aku lihat gaun pesta cantik yang seksi di lemarimu,” Ya, seksi di badanmu. Tidak padaku. Kalau aku pinjam bajumu, entah apa yang harus aku sumpal di bagian dada. “Mau belanja sepulang sekolah?”
“Aku –“ Dia sering sekali memotong perkataanku.
“Wow, sepertinya Madison sedang bersiap untuk tampil menunjukkan piramidanya, Oke, aku makan bareng Austin. Sampai ketemu di pesta nanti malam, sayang,” Seru Morgan. “Oh ya, aku akan menjemputmu.” Dia langsung mengambil makan siangnya dan cabut ke meja Austin duduk –dan 10 cewek lainnya.
Ini memang menyebalkan. Aku harus menyelesaikan PR Biologiku yang seharusnya sudah kukerjakan dari 2 minggu yang lalu. Aku yakin Morgan sudah mengerjakannya. Mungkin menurutmu aku menyontek pekerjaanya? Wow, tidak pada saat seperti ini. Dia pasti tidak mendengarkan apa yang aku omongkan dan sibuk membicarakan Pesta Austin. Lagi pula, aku sudah berjanji tidak menyontek lagi. Dulu aku pencontek yang handal. Hmapir semua soal IPA dan Matematika aku bertanya –bertanya jawaban pada saat ulangan. Tapi sejak tahun ajaran ini, aku merasa bersalah jika menyontek. Entah kenapa. Mungkin Tuhan sudah mengutukku. Aku memang payah. Payah dan Bodoh. Tapi setidaknya, aku mendapat pujian yang bagus di kelas seni, drama, dan olahraga. Mungkin aku tidak sangat berprestasi di bidang seni atau olahraga, aku hanya lumayan di bidang itu.
Jam pelajaran siang tidak terlalu menyenangkan. Maksudku, tidak menyenangkan. Fisika. Biologi. Aku menyesal mengambil pelajaran itu pada siang hari. Lebih baik pada pagi. Maksudku, kau akan lebih mudah menyerap kedua pelajaran tolol itu saat kau tidak mengantuk kan? Ya. Aku tertidur pada jam pelajaran Fisika. Memalukan. Sangat. Hal yang membuat itu bertambah konyol adalah Mr. Braky membangunkanku dengan sebuah pertanyaan. Aku tidak tahu apa. Yang jelas aku menjawabnya dengan, “AKU TIDAK IKUT KE PESTA!” dan semua tertawa. Terlebih-lebih anak cowok jahil golongan Clyte Johnson. Mereka terus menggodaku dengan nyanyian ‘Are You Sleeping?’ versi mereka.
Are you sleeping, Are you sleeping?
Silly Hilte.. Silly Hylte..
Lot of questions waiting.. Lot of questions waiting..
Ding ding dong
Ding ding dong
Konyol!
No comments:
Post a Comment