Tuesday, April 17, 2012

Untitled (2)

Saat aku pulang, Carter sudah sampai rumah lebih dahulu. Tumben, pikirku. Biasanya di akan ada di Defranto Café bersama cewek-cewek lainnya pada jam segini. Café yang wajib dikunjungi anak muda, terutama golongan populer. Berarti tidak wajib aku kunjungi sepulang sekolah kan? Oke. Di musim gugur seperti ini, udara di luar sangat dingin. Seharusnya aku menemui Carter di Café untuk pulang bareng. Tapi aku sedang tidak mood untuk bertemu Morgan. Yeah, dia pasti ada disana. Dia yang memberiku pesan singkat tentang bagaimana dia harus merebut hati Austin agar mau menjemputnya. Dia terlalu berlebihan. Itu sangat.. yeah well… aku tidak suka.

Aku pulang sendiri menggunakan bis sekolah. Tidak terlalu nyaman. Tapi lumayan. Aku benar-benar sedang tidak berselera untuk melakukan berbagai aktifitas, mengingat nanti malam Austin bakal dikerubutin banyak cewek –setiap hari sih. Tapi ini beda. Ini Pesta. Bisa saja terjadi sesuatu disana. Sesuatu yang mengerikan yang dapat menghancurkan hati seorang perempuan malang yang tidak populer ini.

“Tumben sekali kau sudah pulang. Ada apa?” Tanyaku dengan nada sinis kepada Carter. Dia sama sekali tidak jahat. Benar-benar kakak laki-laki idaman semua adik –terutama perempuan. Dia tampan, pintar IPA dan Matematika –terlebih pada fisika, yang aku anggap tolol, maksudku, bisa saja Albert Einstein melakukan kesalahan, kan? Dia masih manusia, dan mungkin saja itu terjadi (bahkan dia autis). Walaupun kita membuktikannya pada berbagai praktik, tapi bisa saja itu kebetulan? Oke, mungkin pemikiranku sangat konyol– dan jago olahraga –terutama basket– serta fotografi –aku sedikit terganggu dengan hobinya yang satu ini karena terkadang aku suka dijadikan objek fotonya. Dan dia sering mengcandidku. “Demi Tuhan, biarkan aku bergaya!” pintaku padanya setiap dia ketahuan menjadikanku sebagai objeknya. Tapi dia bilang, natural lebih baik. Tidak sedikit fotoku yang mengerikan.

“Tidak ada yang salah. Aku hanya sedang bersiap untuk pesta nanti malam.” Jawabnya dengan sangat baik hati. Nada yang lembut. Tidak seperti aku. Aku jahat. Jahat dan Payah.

“Jadi, kau diundang ke pesta Philps?” Tanyaku lagi dengan tidak heran. Morgan sudah memberitahuku terlebih dahulu. Tapi nada bicaraku, kubuat seolah aku kaget setengah mati.
“Tentu. Bersiaplah. Jam 8 little Callie.”

“Bersiap? Aku tak akan ikut!” Ujarku. “Dan jangan panggil aku dengan little.”

“Maaf. Oh Tuhan. Lihat! Kau 15 tahun sekarang.”

“Ya. Aku 15 tahun dan tidak akan ikut pesta!”

“Aku 17 dan kau 15. Dan kita berpesta.”

“Karena aku 15, berarti aku dibawah umur untuk ikut pesta tolol.” Ucapku padanya dengan nada yang, umm, well, jahat sekali. Dan aku tahu itu alasan yang SANGAT konyol! Aku jahat dan konyol.

“Kau dan 50 temanmu yang lainnya. Kau harus ikut!”

Perdebatan kami diputus oleh Mom.

“Hei, sayang, kau sudah pulang ternyata. Ada tugas sekolah tidak?” Nada bicara Mom selalu menentramkan hati. Mom cantik. Rambutnya coklat bergelombang, kulitnya yang pucat, hidungnya yang mancung dan mungil. Kau tahu? Mom berumur 45 tahun dan hampir tidak terlihat kerutan di kulitnya.

“Tidak.” Jawabku dengan (sangat) singkat. Tidak peduli. Dan berbohong. Tidak sepenuhnya. Karena aku baru ingat aku sudah mengerjakan setengah PR Biologiku. Setidaknya, tidak dikumpulkan besok. Aku bukan tipe seperti Morgan, tidak ingin menunda-nunda tugasnya walaupun tidak dikerjakan dengan dirinya sendiri. Maksudku, dia akan segera menelpon Abby Cheer dan menyalin semua jawabannya hari itu juga. Aku tidak sejahat itu.

Mom langsung beranjak pergi, sibuk pada masakannya di dapur.

Carter menyudahi perdebatan dan aku langsung masuk kamar dan mengecek ponselku. Tanpa memperdulikan Carter. Aku iri! Hello? Aku iri pada kepopuleranmu. Oh jangan seperti itu. Kau membuatku tampak sangat berdosa.

Tiba-tiba Carter masuk ke kamarku. Tanpa mengetuk dan dia hanya berdiri diambang pintu.
“Ada masalah apa lagi sih?” Tanyaku dengan kesal. Terkadang dia menjadi sangat konyol untuk menjadi kakak yang baik.

“Kau ikut kan?”

“Sudah kubilang tidak! Apasih masalahmu! Lagipula banyak tugas sekolah yang harus kukerjakan, bodoh!” OOPS! Aku mengatainya bodoh. Tidak apalah sekali-kali.

“Pembohong konyol! Kau bilang pada Mom kau tidak ada tugas! Apa kau berniat membuat sejarah kau berbohong pada Mom tentang tugas?”

Pertama kalinya aku berbohong pada Mom.

Oke, mungkin aku bisa menganggap Mom tadi bertanya : “Ada tugas UNTUK BESOK tidak?”
Aku hanya diam dan pura-pura tidak mendengarkan kakak pintarku itu.

“Kau tahu? Kau ingin jadi populer. Sang populer biasa mengikuti pesta.” Ucapnya padaku sambil langsung beranjak ke kamarnya. Aku yakin ada makna yang tersirat dari kalimatnya itu. Oh pasti. Aku ingi populer. Dan pesta adalah tempat para populer. Aku harus datang –walaupun dengan gaun dan dandanan tolol.

Aku sudah memantapkan hati untuk ikut. Ya, mungkin para populer juga mengorbankan hati mereka. Maksudku, apakah kau tahan melihat cowok yang kau taksir betarhun-tahun, bermesraan dengan beribu-ribu cewek? Oke, itu berlebihan. Kau tahu? Morgan dan Madison akan berebut perhatian Austin.

Dan Morgan adalah sahabatku.

Austin, andaikan kau mengenal diriku, khayalku. Tunggu. Austin bahkan tidak mengenalku. Mungkin aku sering terlihat bersama Morgan, itupun kalau Morgan tidak langsung menjauh dariku dan sejurus kemudian ditemukan bersama Austin. Tapi, apakah dia benar-benar mengundangku? Atau hanya bertingkah baik. Ya, mungkin aku cewek terakhir yang dia ingin undang. Tapi, kepopuleran.

P-O-P-U-L-E-R.

Itu yang aku cari.

Yeah, sahabatku ya, kakakku ya, bahkan mungkin Mom and Dad ya dikalangannya. Oh ya, sepupuku yang ada entah dimana –itulah diriku, tidak peduli– juga populer. Aku bisa gila lama-lama hanya karena memikirkan mereka.

Oh bukan.

Maksudku memikirkan diriku sendiri.

Aku memutuskan untuk IKUT. Dan menerima semua resiko Pesta tolol itu.

Walaupun aku memutuskan untuk bersiap-siap setelah aku tidur 1 jam, agar aku tidak tertidur di pesta. Aku menjalankannya setengah hati.

Aku memilih gaun ungu tua yang sepanjang lutuku, dengan bentuk pita di bagian dadanya dan bagian pinggangnya sangat ketat (untuk Morgan, tidak padaku. Gaun itu sedikit kebesaran, well, aku jadi terlihat kecil dan kerempeng sekali). Bukan seksi. Tapi aku bersyukur bagian dadanya berbentuk pita, jadi tidak menambah memperlihatkan dadaku yang rata. Setidaknya gaun itu sedikit membantu. Yah, tidak seperti gaun hitam putih tuaku yang ada pita hitamnya dia bagian leher. Aku pernah memakai gaun itu untuk pesta ulang tahun Carter. Itu buruk. Beberapa pengunjung minta di ambilkan limun. Mereka meminta padaku. Padaku! Hello? Aku Callie adiknya Carter, yang mengadakan acara ini.

Mandi dan berdandanan serapih dan sewangi mungkin. Aku lakukan itu. Dan aku berdandan. BERDANDAN. Aku bahkan tidak bisa menggunakan maskara.

Aku hanya bisa menggunakan bedak dan lipglossku.

Tapi aku sering melihat Morgan ataupun Mom berdandan. Mungkin aku bisa mencontohnya. Aku memilih menggunakan alas bedak terlebih dahulu –seperti yang dilakukan Morgan dan Mom– lalu menggunakan bedak (tidak terlalu tebal). Lipgloss ungun yang berkilauan. Maskara. Blush On. Eyeshadow ungu dan merah muda. Dandananku sangat tipis. Hampir tidak terlihat.
Tidak terlalu buruk, pikirku.

Aku menggerai rambut coklat tuaku yang panjang. Panjangnya kurang lebih sampai sikuku. Dan bergelombang. Aku benci itu. Aku ingin mempunyai rambut yang lurus dan gampang diatur seperti Morgan. Rambut hitam lurus morgan –yang mempunyai belahan poni ditengah, dan terkadang dia memblow rambutnya– sangat seksi. Tentu beda sekali, antara rambutku yang berelombang tidak beraturan dibandingkan rambut blow-an Morgan.
Sepatu Charles &Keith berhak setinggi 4 cm. Pilihanku jatuh kesitu. Denga pita ungu tua dibagian depannya. Aku sudah lama tidak memakainya.

Selesai.

Sangat sederhana. Aku memasukan beberapa barang yang wajib dibawa ke pesta –aku tahu itu dari majalah Comfort yang aku tidak sengaja beli bulan lalu. Sangat membantu, pikirku.
Saat aku keluar kamar, aku lihat Carter sudah siap, duduk di sofa ruang keluarga. Dengan kemeja biru muda dan tuksedo biru dongker. Sangat keren, pikirku.

“Jadi, kau telah memutuskan yang terbaik ya.” Ujar Carter sambil memilih sepatu yang tepat untuknya.

“Menurutmu?” Aku mengambil salah satu dari nominasi-sepatu-yang-akan-digunakan-Carter dan memberikan sepatu hitam itu kepadanya.

“Trims. Aku sudah izin pada Mom. Aku sudah mengira kau akan ikut. Jadi, aku sudah– “
Mom datang dan mengelus-elus kepalaku. Dia memotong perkataan Carter.

“Kau tampak cantik sekali. Bersenang-senanglah.” Sarannya kepadaku sangat basi. Maksudku, dia sudah sering mengatakan itu. Berharap sekali agar putrinya bersenang-senang. Mom menganggapku kurang sosial. Aku tidak seperti itu Mom. Aku punya banyak teman disekolah. Walaupun hanya satu yang populer. Ya. Aku terlalu banyak berkutit di perpustakaan. Membaca novel dan beberapa ensiklopedia. Tapi aku heran dengan nilai IPAku yang hanya B. Sekali-kali B+ .

Tidak pernah A. Seperti Carter.

Andaikan aku bisa mengatakan : “Mom, aku bukannya kurang sosial. Kalian saja yang terlalu populer. Kau terlalu memaksakan kehendak. Aku tahu. Aku konyol!”

Tapi aku tidak mengatakan itu karena aku tahu itu akan membuat Mom kecewa, dan aku tidak mau meihat itu. Aku sayang Mom.

“Um.. yeah.” Kataku kepada Mom.

Kadang orang dewasa tidak mengerti bagaimana beratnya masa-masa seorang anak yang akan beranjak dewas –maksudku, remaja. Banyak masalah adaptasi dari masa kekanak-kanakan ke masa dewasa. Sangat sulit.

“Carter, jaga little Callieku ya,” Ujar Mom dengan menyunggingka senyuman lembut padaku dan Carter. “Dan jangan berani-beraninya kalian menyentuh minuman keras dan rokok.” Itulah moto keluarga kami. Menjaga kesehatan dan menjauh dari hal-hal seperti itu

Carter hanya membalas senyuman Mom dan beranjak pergi. Denganku maksudnya. Carter tidak seperti Austin. Ya, dia memang populer, tapi tidak Playboy seperti Austin. Aku juga heran mengapa aku bisa menggemari Playboy tolol seperti Austin. Bukan. Tidak tolol. Maksudku, Playboy keren.

Aku agak ragu sebenarnya. Tapi,tak apalah. Dan Carter tampak sangat senang. Dan itulah yang membuatku ragu. Maksudku, apa keuntungan yang diraihnya? Kalaupun aku tidak ikut, tidak apa kan? Malahan dia bisa menjemput beberapa cewek pemnadu sorak. Yeah, aku tahu itu akan menjadi hal yang terakhir ingin Carter lakukan, tapi tidak ada salahnya kan menyenangkan jiwa-jiwa yang berharap. Seperti diriku. Berharap dengan Austin. Hanya berharap. Harapan kosong. Sia-sia memang, tapi, maksudku, tidak ada salahnya kan berharap? Sama saja seperti bermimpi maksudku. Kita mempunyai cita-cita.Tapi tidak emuanya menjadi kenyataan kan? Itu bukan pertanda dari hancurnya dunia. Kita masih bisa melanjutkan hidup dengan hal lain. Kurang lebih seperti itu.

Kalaupun pada akhirnya aku tidak bersama Austin, tidak apa, pikirku.

Mungkin ada cowok yang lain yang dapat mengisi kekosongan hatiku. Begitulah. Jatuh cinta, maksudku.

Sayangnya, aku tidak bisa jatuh cinta. Hanya pada Austin –itupun kalau aku tidak salah mendefinisikan perasaanku ini.

Aku berharap bisa jatuh cinta pada cowok lain –walaupun aku tidak sepenuhnya berharap seperti itu.

No comments:

Post a Comment