Saat aku pulang, Carter sudah sampai rumah lebih dahulu. Tumben,
pikirku. Biasanya di akan ada di Defranto Café bersama cewek-cewek
lainnya pada jam segini. Café yang wajib dikunjungi anak muda, terutama
golongan populer. Berarti tidak wajib aku kunjungi sepulang sekolah
kan? Oke. Di musim gugur seperti ini, udara di luar sangat dingin.
Seharusnya aku menemui Carter di Café untuk pulang bareng. Tapi aku
sedang tidak mood untuk bertemu Morgan. Yeah, dia pasti ada disana. Dia
yang memberiku pesan singkat tentang bagaimana dia harus merebut hati
Austin agar mau menjemputnya. Dia terlalu berlebihan. Itu sangat.. yeah
well… aku tidak suka.
Aku pulang sendiri
menggunakan bis sekolah. Tidak terlalu nyaman. Tapi lumayan. Aku
benar-benar sedang tidak berselera untuk melakukan berbagai aktifitas,
mengingat nanti malam Austin bakal dikerubutin banyak cewek –setiap
hari sih. Tapi ini beda. Ini Pesta. Bisa saja terjadi sesuatu disana.
Sesuatu yang mengerikan yang dapat menghancurkan hati seorang perempuan
malang yang tidak populer ini.
“Tumben sekali kau sudah pulang.
Ada apa?” Tanyaku dengan nada sinis kepada Carter. Dia sama sekali
tidak jahat. Benar-benar kakak laki-laki idaman semua adik –terutama
perempuan. Dia tampan, pintar IPA dan Matematika –terlebih pada fisika,
yang aku anggap tolol, maksudku, bisa saja Albert Einstein melakukan
kesalahan, kan? Dia masih manusia, dan mungkin saja itu terjadi (bahkan
dia autis). Walaupun kita membuktikannya pada berbagai praktik, tapi
bisa saja itu kebetulan? Oke, mungkin pemikiranku sangat konyol– dan
jago olahraga –terutama basket– serta fotografi –aku sedikit terganggu
dengan hobinya yang satu ini karena terkadang aku suka dijadikan objek
fotonya. Dan dia sering mengcandidku. “Demi Tuhan, biarkan aku
bergaya!” pintaku padanya setiap dia ketahuan menjadikanku sebagai
objeknya. Tapi dia bilang, natural lebih baik. Tidak sedikit fotoku
yang mengerikan.
“Tidak ada yang salah. Aku hanya sedang bersiap
untuk pesta nanti malam.” Jawabnya dengan sangat baik hati. Nada yang
lembut. Tidak seperti aku. Aku jahat. Jahat dan Payah.
“Jadi,
kau diundang ke pesta Philps?” Tanyaku lagi dengan tidak heran. Morgan
sudah memberitahuku terlebih dahulu. Tapi nada bicaraku, kubuat seolah
aku kaget setengah mati.
“Tentu. Bersiaplah. Jam 8 little Callie.”
“Bersiap? Aku tak akan ikut!” Ujarku. “Dan jangan panggil aku dengan little.”
“Maaf. Oh Tuhan. Lihat! Kau 15 tahun sekarang.”
“Ya. Aku 15 tahun dan tidak akan ikut pesta!”
“Aku 17 dan kau 15. Dan kita berpesta.”
“Karena
aku 15, berarti aku dibawah umur untuk ikut pesta tolol.” Ucapku
padanya dengan nada yang, umm, well, jahat sekali. Dan aku tahu itu
alasan yang SANGAT konyol! Aku jahat dan konyol.
“Kau dan 50 temanmu yang lainnya. Kau harus ikut!”
Perdebatan kami diputus oleh Mom.
“Hei,
sayang, kau sudah pulang ternyata. Ada tugas sekolah tidak?” Nada
bicara Mom selalu menentramkan hati. Mom cantik. Rambutnya coklat
bergelombang, kulitnya yang pucat, hidungnya yang mancung dan mungil.
Kau tahu? Mom berumur 45 tahun dan hampir tidak terlihat kerutan di
kulitnya.
“Tidak.” Jawabku dengan (sangat) singkat. Tidak
peduli. Dan berbohong. Tidak sepenuhnya. Karena aku baru ingat aku
sudah mengerjakan setengah PR Biologiku. Setidaknya, tidak dikumpulkan
besok. Aku bukan tipe seperti Morgan, tidak ingin menunda-nunda
tugasnya walaupun tidak dikerjakan dengan dirinya sendiri. Maksudku,
dia akan segera menelpon Abby Cheer dan menyalin semua jawabannya hari
itu juga. Aku tidak sejahat itu.
Mom langsung beranjak pergi, sibuk pada masakannya di dapur.
Carter
menyudahi perdebatan dan aku langsung masuk kamar dan mengecek
ponselku. Tanpa memperdulikan Carter. Aku iri! Hello? Aku iri pada
kepopuleranmu. Oh jangan seperti itu. Kau membuatku tampak sangat
berdosa.
Tiba-tiba Carter masuk ke kamarku. Tanpa mengetuk dan dia hanya berdiri diambang pintu.
“Ada masalah apa lagi sih?” Tanyaku dengan kesal. Terkadang dia menjadi sangat konyol untuk menjadi kakak yang baik.
“Kau ikut kan?”
“Sudah
kubilang tidak! Apasih masalahmu! Lagipula banyak tugas sekolah yang
harus kukerjakan, bodoh!” OOPS! Aku mengatainya bodoh. Tidak apalah
sekali-kali.
“Pembohong konyol! Kau bilang pada Mom kau tidak
ada tugas! Apa kau berniat membuat sejarah kau berbohong pada Mom
tentang tugas?”
Pertama kalinya aku berbohong pada Mom.
Oke, mungkin aku bisa menganggap Mom tadi bertanya : “Ada tugas UNTUK BESOK tidak?”
Aku hanya diam dan pura-pura tidak mendengarkan kakak pintarku itu.
“Kau
tahu? Kau ingin jadi populer. Sang populer biasa mengikuti pesta.”
Ucapnya padaku sambil langsung beranjak ke kamarnya. Aku yakin ada
makna yang tersirat dari kalimatnya itu. Oh pasti. Aku ingi populer.
Dan pesta adalah tempat para populer. Aku harus datang –walaupun dengan
gaun dan dandanan tolol.
Aku sudah memantapkan hati untuk ikut.
Ya, mungkin para populer juga mengorbankan hati mereka. Maksudku,
apakah kau tahan melihat cowok yang kau taksir betarhun-tahun,
bermesraan dengan beribu-ribu cewek? Oke, itu berlebihan. Kau tahu?
Morgan dan Madison akan berebut perhatian Austin.
Dan Morgan adalah sahabatku.
Austin,
andaikan kau mengenal diriku, khayalku. Tunggu. Austin bahkan tidak
mengenalku. Mungkin aku sering terlihat bersama Morgan, itupun kalau
Morgan tidak langsung menjauh dariku dan sejurus kemudian ditemukan
bersama Austin. Tapi, apakah dia benar-benar mengundangku? Atau hanya
bertingkah baik. Ya, mungkin aku cewek terakhir yang dia ingin undang.
Tapi, kepopuleran.
P-O-P-U-L-E-R.
Itu yang aku cari.
Yeah,
sahabatku ya, kakakku ya, bahkan mungkin Mom and Dad ya dikalangannya.
Oh ya, sepupuku yang ada entah dimana –itulah diriku, tidak peduli–
juga populer. Aku bisa gila lama-lama hanya karena memikirkan mereka.
Oh bukan.
Maksudku memikirkan diriku sendiri.
Aku memutuskan untuk IKUT. Dan menerima semua resiko Pesta tolol itu.
Walaupun
aku memutuskan untuk bersiap-siap setelah aku tidur 1 jam, agar aku
tidak tertidur di pesta. Aku menjalankannya setengah hati.
Aku
memilih gaun ungu tua yang sepanjang lutuku, dengan bentuk pita di
bagian dadanya dan bagian pinggangnya sangat ketat (untuk Morgan, tidak
padaku. Gaun itu sedikit kebesaran, well, aku jadi terlihat kecil dan
kerempeng sekali). Bukan seksi. Tapi aku bersyukur bagian dadanya
berbentuk pita, jadi tidak menambah memperlihatkan dadaku yang rata.
Setidaknya gaun itu sedikit membantu. Yah, tidak seperti gaun hitam
putih tuaku yang ada pita hitamnya dia bagian leher. Aku pernah memakai
gaun itu untuk pesta ulang tahun Carter. Itu buruk. Beberapa pengunjung
minta di ambilkan limun. Mereka meminta padaku. Padaku! Hello? Aku
Callie adiknya Carter, yang mengadakan acara ini.
Mandi dan
berdandanan serapih dan sewangi mungkin. Aku lakukan itu. Dan aku
berdandan. BERDANDAN. Aku bahkan tidak bisa menggunakan maskara.
Aku hanya bisa menggunakan bedak dan lipglossku.
Tapi
aku sering melihat Morgan ataupun Mom berdandan. Mungkin aku bisa
mencontohnya. Aku memilih menggunakan alas bedak terlebih dahulu
–seperti yang dilakukan Morgan dan Mom– lalu menggunakan bedak (tidak
terlalu tebal). Lipgloss ungun yang berkilauan. Maskara. Blush On.
Eyeshadow ungu dan merah muda. Dandananku sangat tipis. Hampir tidak
terlihat.
Tidak terlalu buruk, pikirku.
Aku menggerai rambut
coklat tuaku yang panjang. Panjangnya kurang lebih sampai sikuku. Dan
bergelombang. Aku benci itu. Aku ingin mempunyai rambut yang lurus dan
gampang diatur seperti Morgan. Rambut hitam lurus morgan –yang
mempunyai belahan poni ditengah, dan terkadang dia memblow rambutnya–
sangat seksi. Tentu beda sekali, antara rambutku yang berelombang tidak
beraturan dibandingkan rambut blow-an Morgan.
Sepatu Charles
&Keith berhak setinggi 4 cm. Pilihanku jatuh kesitu. Denga pita
ungu tua dibagian depannya. Aku sudah lama tidak memakainya.
Selesai.
Sangat
sederhana. Aku memasukan beberapa barang yang wajib dibawa ke pesta
–aku tahu itu dari majalah Comfort yang aku tidak sengaja beli bulan
lalu. Sangat membantu, pikirku.
Saat aku keluar kamar, aku lihat
Carter sudah siap, duduk di sofa ruang keluarga. Dengan kemeja biru
muda dan tuksedo biru dongker. Sangat keren, pikirku.
“Jadi, kau telah memutuskan yang terbaik ya.” Ujar Carter sambil memilih sepatu yang tepat untuknya.
“Menurutmu?” Aku mengambil salah satu dari nominasi-sepatu-yang-akan-digunakan-Carter dan memberikan sepatu hitam itu kepadanya.
“Trims. Aku sudah izin pada Mom. Aku sudah mengira kau akan ikut. Jadi, aku sudah– “
Mom datang dan mengelus-elus kepalaku. Dia memotong perkataan Carter.
“Kau
tampak cantik sekali. Bersenang-senanglah.” Sarannya kepadaku sangat
basi. Maksudku, dia sudah sering mengatakan itu. Berharap sekali agar
putrinya bersenang-senang. Mom menganggapku kurang sosial. Aku tidak
seperti itu Mom. Aku punya banyak teman disekolah. Walaupun hanya satu
yang populer. Ya. Aku terlalu banyak berkutit di perpustakaan. Membaca
novel dan beberapa ensiklopedia. Tapi aku heran dengan nilai IPAku yang
hanya B. Sekali-kali B+ .
Tidak pernah A. Seperti Carter.
Andaikan
aku bisa mengatakan : “Mom, aku bukannya kurang sosial. Kalian saja
yang terlalu populer. Kau terlalu memaksakan kehendak. Aku tahu. Aku
konyol!”
Tapi aku tidak mengatakan itu karena aku tahu itu akan membuat Mom kecewa, dan aku tidak mau meihat itu. Aku sayang Mom.
“Um.. yeah.” Kataku kepada Mom.
Kadang
orang dewasa tidak mengerti bagaimana beratnya masa-masa seorang anak
yang akan beranjak dewas –maksudku, remaja. Banyak masalah adaptasi
dari masa kekanak-kanakan ke masa dewasa. Sangat sulit.
“Carter,
jaga little Callieku ya,” Ujar Mom dengan menyunggingka senyuman lembut
padaku dan Carter. “Dan jangan berani-beraninya kalian menyentuh
minuman keras dan rokok.” Itulah moto keluarga kami. Menjaga kesehatan
dan menjauh dari hal-hal seperti itu
Carter hanya membalas
senyuman Mom dan beranjak pergi. Denganku maksudnya. Carter tidak
seperti Austin. Ya, dia memang populer, tapi tidak Playboy seperti
Austin. Aku juga heran mengapa aku bisa menggemari Playboy tolol
seperti Austin. Bukan. Tidak tolol. Maksudku, Playboy keren.
Aku
agak ragu sebenarnya. Tapi,tak apalah. Dan Carter tampak sangat senang.
Dan itulah yang membuatku ragu. Maksudku, apa keuntungan yang
diraihnya? Kalaupun aku tidak ikut, tidak apa kan? Malahan dia bisa
menjemput beberapa cewek pemnadu sorak. Yeah, aku tahu itu akan menjadi
hal yang terakhir ingin Carter lakukan, tapi tidak ada salahnya kan
menyenangkan jiwa-jiwa yang berharap. Seperti diriku. Berharap dengan
Austin. Hanya berharap. Harapan kosong. Sia-sia memang, tapi, maksudku,
tidak ada salahnya kan berharap? Sama saja seperti bermimpi maksudku.
Kita mempunyai cita-cita.Tapi tidak emuanya menjadi kenyataan kan? Itu
bukan pertanda dari hancurnya dunia. Kita masih bisa melanjutkan hidup
dengan hal lain. Kurang lebih seperti itu.
Kalaupun pada akhirnya aku tidak bersama Austin, tidak apa, pikirku.
Mungkin ada cowok yang lain yang dapat mengisi kekosongan hatiku. Begitulah. Jatuh cinta, maksudku.
Sayangnya, aku tidak bisa jatuh cinta. Hanya pada Austin –itupun kalau aku tidak salah mendefinisikan perasaanku ini.
Aku berharap bisa jatuh cinta pada cowok lain –walaupun aku tidak sepenuhnya berharap seperti itu.
No comments:
Post a Comment