Rasanya sakit bukan
main. Telapak tanganku sangat amat sakit. Bayangkan! SENGAJA diinjak
dengan heels 7cm? Wah Tuhan kali ini tidak berpihak padaku rupanya!
Aku
bangkit sambil mengelus-ngelus tanganku yang sudah sangat merah. Dan
yeah, hal memalukan terjadi lagi. Aku menangis. Ini gila. Aku menangis
di depan Madison and Morgan. Haha. Pintar sekali diriku ini.
“Kau
tahu, Morgan? Kau IBLIS!” Jeritku dengan penuh emosi. Pipiku basah, dan
tangan kiriku sibuk mengasihani tangan kananku yang malang. Dan si
tangan kiri ini, selain sibuk mengasihani, juga sibuk mengelap ingusku
yang bececeran. Rasanya ingin ku usap tangan kiriku ini ke rambut
MADISON!
“Wah, kau sudah tahu rupanya,” Madison masih memegangi benang itu, bahkan menjilat bagian ujungnya, “Hei Morgan! Dorong dia!”
Aku
kalang kabut mendengar perkataan Madison. Maksudku aku bisa saja
mengahjarnya, tapi kali ini aku benar-benar gak yakin dengan keadaan
tanganku dan… kakiku.
“Oops!
Maaf ya. Tidak lihat.” Teman Madison –yang berengsek lainnya– menginjak
kakiku dengan TIDAK sengaja. Bagus sekali kali ini dia memakai BOOTS.
Terimakasih banyak
“Dorong?”
Morgan tampak tidak yakin dengan perintah Madison. Dia terus saja
meremas-remas rok 5-cm-nya dan itu hanya membuatnya tampak lebih seksi.
“Kau
tunggu apa lagi? Saat yang bagus untuk balas dendam kepada si babi
liar!” Madison sekarang menyerahkan
benang-yang-terkait-dengan-ulanganku-yang-bernilai-sempurna itu kepada
teman brengseknya yang telah dengan hina menginjak kakiku.
“Hei
tunggu,” wajahnya tampak mempunyai ide yang lebih JAHAT, “itu tidak
cukup, girls. Dia butuh ini!” Kulihat tangan Morgan yang
tanpa-luka-atau-memar-seperti-ku menerima semacam cairan kimia dan aku
tahu kalau itu air raksa. Persetan! Aku tidak bisa mundur karena teman
lelakinya –yang lain, atau yang mana aku tidak peduli– bersiap-siap
memegang dan mengelus bokongku kalau aku berani mundur.
“Mundur saja, sayang,” Kata lelaki berambut Mohawk seperti Puck di serial Glee,” aku disini.”
Ya
ampun. Sekarang aku merasa sangat bersalah kepada Superman. Aku selalu
mengejek Superman tak akan bisa membantu siapapun karena dia pasti akan
selalu jatuh atau menabrak sesuatu saat terbang, well, karena poni
S-nya itu mungkin. Tapi sekarang aku berharap dia sudah potong poni dan
segera menolongku sekarang JUGA.
“Morgan! STOP! Kau… kau,” aku tak tahan untuk tidak menangis. Yah sebenarnya sudah kulakukan sejak tadi.
“Please
Morgan! Setan apa yang sudah merasukimu? Kenapa? Kenapa kau berbuat
sejahat ini! Ada apa dengan kalian?” Aku menjerit. Ruangan sunyi.
“Kalian hampir memiliki semuanya! Dan kau Morgan! Kau… TEGA SEKALI KAU! Kau…”
“CUKUP! CUKUP CALLIE!” Sekarang giliran Morgan yang menjerit.
“Sudah saatnya aku menghancurkamu Call!”
Aku…
aku nggak bisa melakukan apapun. Aku hanya bisa menjerit dan menangis.
Aku payah. Aku bodoh. Mengapa aku rela bertahun-tahun berteman dengan
babi iblis seperti Morgan. Kenapa? Kenapa aku tidak berteman saja
dengan Abby Cheer? Kukira dia akan JAUH lebih baik. Kalaupun ada
masanya aku bertengkar dengan Abby Cheer, kukira dia nggak bakal setega
ini. Maksudku, JAHAT SEKALI DUNIA INI MEMBIARKAN MORGAN MENYIRAMKU
DENGAN AIR RAKSA!
“Morgan! Bisakah kau, berpikir!” Aku menjeritkan itu dengan air mata
yang terus mengalir –serta ingus juga. Bayangkan! Tanganku sakit
sekali. Rasa sakit itu menjalar ke setiap pembuluh yang ada di
tanganku, jariku, menuju seluruh tubuhku! Kukira saraf-sarafku akan
rusak karena rasa sakit yang berlebihan. Sakit sekali. Kulit di
tanganku juga sedikit terkoyak dan mengeluarkan darah yang tidak
berhenti mengalir juga. Dan air raksa itu… nggak. Nggak
boleh terjadi. Kau boleh lebih dari apapun Morgan, Madison, Cowok Yang
Punya Model Rambut Mohawk, kalian boleh mengambil segalanya dariku.
Tapi, nggak, kalian gak boleh ambil penampilanku!
Maksudku, air raksa! Selain dapat merusak kulit, dapat… mencabut nyawa!
Dan sekarang,
teman-Madison-yang-tadi-tadi-menginjak-kaki-ku-dengan-boots-sialan-nya
menginjak kakiku (lagi) yang tadi sudah diinjak BOOTS! “Ahhhhh!”
Jeritku.
“Teriak deh, terserah! Gak ada yang bisa menolong ya!” Ujar
Si-Cowok-Rambut-Mohawk yang siap menangkap bokongku –mungkin meremasnya
juga, yeah seperti pelecehan seksual yang sering
kulihat di televisi. Aku hanya bingung, mengapa, MENGAPA tidak ada yang
BISA mendengar jeritanku? Apa aku harus latihan vokal untuk jeritan
yang indah? Lalu, aku tengok pintu ruang Sains yang horror ini. Aku
melihat. Melihat. Pintu. Tertutup. Fatal sekali.
Ruang
Sains ini dulunya ruang musik, dan itu berarti ruang Sains ini kedap
suara keluar karena sistem kedap suara ruang Musik belum dibongkar. Dan
jika pintu tertutup, wah, udah NGGAK bisa keluar karena teman-teman si
JALANG MADISON ini, nggak ada yang akan mendengarku
pula. Dan aku tahu. Mengapa mereka melakukan semua kejahatan itu
disini. Selain sudah kedap suara, pelajaran setelah ini NGGAK ada.
Sialan! Mereka sudah merencanakan semua ini!
“Nggak Morgan, nggak!” Aku masih terus menjerit dan menangis. Rasa sakit di kaki dan tanganku telah membuatku gila. Aku menjerit nggak karuan.
Seperti kesetanan. Aku udah nggak peduli sama Cowok-Mohawk. Aku
berbalik dan menendang perutnya dengan lututku. Aku segera lari
kebelakangnya untuk membuka pintu. Nggak apa deh dengan hasil
ulanganku. Nggak apa, yang penting aku keluar dari sini.
Dan
sekarang Madison yang menggengam gelas kimia yang berisi air raksa. Dia
menghalangi jalanku ke pintu. “Pecundang! Mau lari dari kami? Nggak
bisa deh!” Ya. YA. AKU TAHU AKU PECUNDANG JADI BIARKAN AKU LEWAT. Aku mengatakan itu, well, kalau saja ingusku ini tidak menghancurkan kata-kataku menjadi jeritan tidak karuan.
“AWU
AU AWU NYUNDANG JI YARKAN WU YEWAT? Ngomong apa sih?” Kata Cowok-Mohawk
dengan gaya berbicara seperti bebek dan disambung tertawa iblis dari
seluruh orang di kelas itu –Ada Morgan, Madison, Cowok Mohawk dan Cewek
Boots.
Aku hanya berdoa, entah pada siapa. Aku hanya berdoa. Tuhan jika kau benar ada, atau siapapun yang mendengar doaku, bantulah aku, kirim Superman kesini. Biarkan poninya rontok!
Aku
melihat tatapan di wajah Madison semakin garang. Alisnya
terangkat-angkat tidak menentu dan hidungnya kembang-kempis seksi. Mata
hijaunya berkilat-kilat penuh amarah. Aku nggak tau kenapa dia bisa
semarah ini padaku, pernah berbuat apa aku padanya? Bahkan, kukira, ia
mengenalku saja tidak. Dan dengan Morgan, seburuk inikah aku menjadi
sahabat sehingga dia SEMURKA ini padaku? Kenapa sih? Ada apa sebenarnya?
“Untukmu, dan KAKAK TOLOLmu!” Kata Madison penuh amarah. Dia. Serius. Ingin. Menyiramku.
Untungnya, di detik-detik Madison ingin menyiramku, terdengar suara pintu dibuka dan disusul dengan suara yang aku kenal “Maaf?”
“JAKE!” Aku langsung berteriak menghampirinya. Aku keluar. Keluar. Dulu,
kata itu nggak berarti apa-apa bagiku. Tapi, setelah 20 menit kejadian
horror terjadi disitu, aku tidak pernah merasa bersyukur seperti ini. Aku keluar.
Keluar meninggalkan Madison, Morgan, Cowok Mohawk dan Cewek Boots
menganga meliat aku berhasil keluar. Mereka di dalam. Aku di luar. Aku selamat, pikirku bangga.
Dan
mulut Jake juga nggak kalah besarnya dengan mulut mereka yang di dalam,
ternganga nggak percaya melihat keadaanku. “Demi Tuhan!”
“Jake,
cepat. Kita harus lari, sebelum mereka… mereka–“ Jake sudah mengangguk
sebelum aku melanjutkan kalimatku. Dan, sebelum lari, aku melihatnya
mendutup pintu. Bagus, pikirku. Tapi aku nggak tahu
apa lagi yang dia lakukan setelah itu karena aku langsung berlari
sekuat tenaga. Tanpa arah dan tujuan. Berharap terbangun dari mimpi
yang SANGAT buruk. ***
No comments:
Post a Comment