Tuesday, April 17, 2012

Untitled (10)

Rasanya sakit bukan main. Telapak tanganku sangat amat sakit. Bayangkan! SENGAJA diinjak dengan heels 7cm? Wah Tuhan kali ini tidak berpihak padaku rupanya!
Aku bangkit sambil mengelus-ngelus tanganku yang sudah sangat merah. Dan yeah, hal memalukan terjadi lagi. Aku menangis. Ini gila. Aku menangis di depan Madison and Morgan. Haha. Pintar sekali diriku ini.
“Kau tahu, Morgan? Kau IBLIS!” Jeritku dengan penuh emosi. Pipiku basah, dan tangan kiriku sibuk mengasihani tangan kananku yang malang. Dan si tangan kiri ini, selain sibuk mengasihani, juga sibuk mengelap ingusku yang bececeran. Rasanya ingin ku usap tangan kiriku ini ke rambut MADISON!
“Wah, kau sudah tahu rupanya,” Madison masih memegangi benang itu, bahkan menjilat bagian ujungnya, “Hei Morgan! Dorong dia!”
Aku kalang kabut mendengar perkataan Madison. Maksudku aku bisa saja mengahjarnya, tapi kali ini aku benar-benar gak yakin dengan keadaan tanganku dan… kakiku.
“Oops! Maaf ya. Tidak lihat.” Teman Madison –yang berengsek lainnya– menginjak kakiku dengan TIDAK sengaja. Bagus sekali kali ini dia memakai BOOTS. Terimakasih banyak
“Dorong?” Morgan tampak tidak yakin dengan perintah Madison. Dia terus saja meremas-remas rok 5-cm-nya dan itu hanya membuatnya tampak lebih seksi.
“Kau tunggu apa lagi? Saat yang bagus untuk balas dendam kepada si babi liar!” Madison sekarang menyerahkan benang-yang-terkait-dengan-ulanganku-yang-bernilai-sempurna itu kepada teman brengseknya yang telah dengan hina menginjak kakiku.
“Hei tunggu,” wajahnya tampak mempunyai ide yang lebih JAHAT, “itu tidak cukup, girls. Dia butuh ini!” Kulihat tangan Morgan yang tanpa-luka-atau-memar-seperti-ku menerima  semacam cairan kimia dan aku tahu kalau itu air raksa. Persetan! Aku tidak bisa mundur karena teman lelakinya –yang lain, atau yang mana aku tidak peduli– bersiap-siap memegang dan mengelus bokongku kalau aku berani mundur.
“Mundur saja, sayang,” Kata lelaki berambut Mohawk seperti Puck di serial Glee,” aku disini.”
Ya ampun. Sekarang aku merasa sangat bersalah kepada Superman. Aku selalu mengejek Superman tak akan bisa membantu siapapun karena dia pasti akan selalu jatuh atau menabrak sesuatu saat terbang, well, karena poni S-nya itu mungkin. Tapi sekarang aku berharap dia sudah potong poni dan segera menolongku sekarang JUGA.
“Morgan! STOP! Kau… kau,” aku tak tahan untuk tidak menangis. Yah sebenarnya sudah kulakukan sejak tadi.
“Please Morgan! Setan apa yang sudah merasukimu? Kenapa? Kenapa kau berbuat sejahat ini! Ada apa dengan kalian?” Aku menjerit. Ruangan sunyi.
“Kalian  hampir memiliki semuanya! Dan kau Morgan! Kau… TEGA SEKALI KAU! Kau…”
“CUKUP! CUKUP CALLIE!” Sekarang giliran Morgan yang menjerit.
“Sudah saatnya aku menghancurkamu Call!”
Aku… aku nggak bisa melakukan apapun. Aku hanya bisa menjerit dan menangis. Aku payah. Aku bodoh. Mengapa aku rela bertahun-tahun berteman dengan babi iblis seperti Morgan. Kenapa? Kenapa aku tidak berteman saja dengan Abby Cheer? Kukira dia akan JAUH lebih baik. Kalaupun ada masanya aku bertengkar dengan Abby Cheer, kukira dia nggak bakal setega ini. Maksudku, JAHAT SEKALI DUNIA INI MEMBIARKAN MORGAN MENYIRAMKU DENGAN AIR RAKSA!
                “Morgan! Bisakah kau, berpikir!” Aku menjeritkan  itu dengan air mata yang terus mengalir –serta ingus juga. Bayangkan! Tanganku sakit sekali. Rasa sakit itu menjalar ke setiap pembuluh yang ada di tanganku, jariku, menuju seluruh tubuhku! Kukira saraf-sarafku akan rusak karena rasa sakit yang berlebihan. Sakit sekali. Kulit di tanganku juga sedikit terkoyak dan mengeluarkan darah yang tidak berhenti mengalir juga. Dan air raksa itu… nggak. Nggak boleh terjadi. Kau boleh lebih dari apapun Morgan, Madison, Cowok Yang Punya Model Rambut Mohawk, kalian boleh mengambil segalanya dariku. Tapi, nggak, kalian gak boleh ambil penampilanku! Maksudku, air raksa! Selain dapat merusak kulit, dapat… mencabut nyawa! Dan sekarang, teman-Madison-yang-tadi-tadi-menginjak-kaki-ku-dengan-boots-sialan-nya menginjak kakiku (lagi) yang tadi sudah diinjak BOOTS! “Ahhhhh!” Jeritku.
                “Teriak deh, terserah! Gak ada yang bisa menolong ya!” Ujar Si-Cowok-Rambut-Mohawk yang siap menangkap bokongku –mungkin meremasnya juga, yeah seperti pelecehan seksual yang sering kulihat di televisi. Aku hanya bingung, mengapa, MENGAPA tidak ada yang BISA mendengar jeritanku? Apa aku harus latihan vokal untuk jeritan yang indah? Lalu, aku tengok pintu ruang Sains yang horror ini. Aku melihat. Melihat. Pintu. Tertutup. Fatal sekali.
Ruang Sains ini dulunya ruang musik, dan itu berarti ruang Sains ini kedap suara keluar karena sistem kedap suara ruang Musik belum dibongkar. Dan jika pintu tertutup, wah, udah NGGAK bisa keluar karena teman-teman si JALANG MADISON ini, nggak ada yang akan mendengarku pula. Dan aku tahu. Mengapa mereka melakukan semua kejahatan itu disini. Selain sudah kedap suara, pelajaran setelah ini NGGAK ada. Sialan! Mereka sudah merencanakan semua ini!
“Nggak Morgan, nggak!” Aku masih terus menjerit dan menangis. Rasa sakit di kaki dan tanganku telah membuatku gila. Aku menjerit nggak karuan. Seperti kesetanan. Aku udah nggak peduli sama Cowok-Mohawk. Aku berbalik dan menendang perutnya dengan lututku. Aku segera lari kebelakangnya untuk membuka pintu. Nggak apa deh dengan hasil ulanganku. Nggak apa, yang penting aku keluar dari sini.
Dan sekarang Madison yang menggengam gelas kimia yang berisi air raksa. Dia menghalangi jalanku ke pintu. “Pecundang! Mau lari dari kami? Nggak bisa deh!” Ya. YA. AKU TAHU AKU PECUNDANG JADI BIARKAN AKU LEWAT. Aku mengatakan itu, well,  kalau saja ingusku ini tidak menghancurkan kata-kataku menjadi jeritan tidak karuan.
“AWU AU AWU NYUNDANG JI YARKAN WU YEWAT? Ngomong apa sih?” Kata Cowok-Mohawk dengan gaya berbicara seperti bebek dan disambung tertawa iblis dari seluruh orang di kelas itu –Ada Morgan, Madison, Cowok Mohawk dan Cewek Boots.
Aku hanya berdoa, entah pada siapa. Aku hanya berdoa. Tuhan jika kau benar ada, atau siapapun yang mendengar doaku, bantulah aku, kirim Superman kesini. Biarkan poninya rontok!
Aku melihat tatapan di wajah Madison semakin garang. Alisnya terangkat-angkat tidak menentu dan hidungnya kembang-kempis seksi. Mata hijaunya berkilat-kilat penuh amarah. Aku nggak tau kenapa dia bisa semarah ini padaku, pernah berbuat apa aku padanya? Bahkan, kukira, ia mengenalku saja tidak. Dan dengan Morgan, seburuk inikah aku menjadi sahabat sehingga dia SEMURKA ini padaku? Kenapa sih? Ada apa sebenarnya?
“Untukmu, dan KAKAK TOLOLmu!” Kata Madison penuh amarah. Dia. Serius. Ingin. Menyiramku.
Untungnya, di detik-detik Madison ingin menyiramku, terdengar suara pintu dibuka dan disusul dengan suara yang aku kenal “Maaf?”
“JAKE!” Aku langsung berteriak menghampirinya. Aku keluar. Keluar. Dulu, kata itu nggak berarti apa-apa bagiku. Tapi, setelah 20 menit kejadian horror terjadi disitu, aku tidak pernah merasa bersyukur seperti ini. Aku keluar.  Keluar meninggalkan Madison, Morgan, Cowok Mohawk dan Cewek Boots menganga meliat aku berhasil keluar. Mereka di dalam. Aku di luar. Aku selamat, pikirku bangga.
Dan mulut Jake juga nggak kalah besarnya dengan mulut mereka yang di dalam, ternganga nggak percaya melihat keadaanku. “Demi Tuhan!”
“Jake, cepat. Kita harus lari, sebelum mereka… mereka–“ Jake sudah mengangguk sebelum aku melanjutkan kalimatku. Dan, sebelum lari, aku melihatnya mendutup pintu. Bagus, pikirku. Tapi aku nggak tahu apa lagi yang dia lakukan setelah itu karena aku langsung berlari sekuat tenaga. Tanpa arah dan tujuan. Berharap terbangun dari mimpi yang SANGAT buruk. ***

No comments:

Post a Comment