Oke. Jadi aku nggak ngerti sama sekali nih apa yang dibicarakan Morgan.
“Ya aku memang menyukai Austin tapi dulu sebelum kejadian tadi malam -walaupun sebenarnya aku masih menyukaiya sedikit. Aku tidak bilang karena aku tahu kau akan segera membunuhku. Aku memang masuk klub majalah sekolah. Aku kira itu tidak penting jadi ngapain aku kasih tahu. Ya, aku pernah mewawancarai Mark Honson dan ternyata dia mempunyai jerawat yang banyak dan tak kasat mata saat pemotretan, dan aku kira kau akan membunuhku jika aku bilang seperti itu. Dan, well, kau sahabatku Morgan. Kalau kau mau.”
Ingin Sekali aku mengatakan hal-hal seperti itu kepada Morgan. Tapi aku tahu itu hanya memperburuk keadaan. Tanpa butuh jawabanku, Morgan lari –meninggalkanku dengan mulut ternganga– dengan amarah yang sangat besar terpana dari mata biru indahnya.
Semua yang ada di koridor saat itu memandangku. Oke. Selamat tinggal.
Aku berlari ke ruang ganti, dan langsung mencari tempat persembunyian di balik loker nomor 167 dan menangis sebisaku –tanpa ganti baju. Aku nggak habis pikir. Semua di luar kendaliku. Maksudku, semua yang sidah kuperkirakan, kemungkinan buruk yang telah kucatat besar-besar di dalam otak ternyata kurang buruk. Gila banget ya hidupku.
“Morgan doang,” aku tahu ini suara siapa. “Ayo bangun. Jangan cengeng.”
Bukan suara Jake –yang sebenarnya kuharapkan. Atau Austin si brengsek yang keren. Bukan juga Mark Honson –oke aku gila. Hanya Abby Cheer. Dia sedang berdiri dengan kaki diangkat sebelah seakan dia anak yang populer atau apa.
“Kau sudah mendengar semua? Aku… aku–“
“Tenang saja. Aku tahu itu gila. Tapi kalu sudah gila jangan dibuat tambah gila.” Dia mengatakan gila seakan aku benar-benar gila sehingga butuh berkonseling dengan Mr. Paul. Makasih deh.
“Bisakah kau bayangkan… Hal yang kau kira… tidak penting,” aku menyedot ingusku, “menjadi terlalu penting untuk dipermasalahkan dan–“
“Aku nggak butuh membayangkan, aku lihat dengan jelas tadi. Hei, gila, bantu aku mau ya?” Dia mengatakan gila seakan aku menang miss universe.
Jadi gini ya rasanya membantu Abby Cheer. Aku kira aku akan dibutuhkan untuk membantu PRnya atau apalah yang lebih penting daripada mengaitkan tali branya yang sudah kesempitan. Well, itu berarti Abby lebih berisi daripada punyaku.
Aku berganti pakaian, dan siap untuk drama selanjutnya. Menyakitkan.
Pelajaran selanjutnya: Sains. Apa? Oh itu berarti aku harus pulang cepat karena hari ini akan dibagikan nilai ulangan harian ketiga. Makasih banyak.
Kebetulan aku dan Abby berada pada kelas yang sama. Yah, itu membuat perasaanku lebih tenang dengan dia berjalan berdampingan dengaku, membuat semua mata memandang kami dari atas ke bawah. Aku tahu. Mata mereka seperti berbicara Oh itu dia Callie Hylte! Awalnya berteman dengan Morgan pemandu sorak yang cantik tapi ternyata dia hanya bagaikan sampah bagi Morgan yang kita puja itu. Pada akhirnya dia berteman dengan Abby Cheer doang. Turut prihatin ya Call. Untung mata mereka tidak benar-benar bicara.
Tapi aku nggak ngerasa malu atau jijik berjalan dengan Abby –dan berteman dengan Abby juga tepatnya. Dia baik sekali. Dia jenius –kalau dia lebih pintar memberiku contekkan saat ulangan.
Di kelas sains aku juga bersama Morgan. Dia seperti ingin memakan tiap-tiap rusukku jika aku berani mendekatinya. Ketegangan yang janggal terasa. Tidak hanya aku yang merasakannya. Tapi seluruh kelas. Karena… karena… Pelajaran Mr. Perry. Perry atau pervert –mesum– terserah kau deh.
“Bagikan ini,” Mr. Perry memegang setumpuk lembar jawaban ulangan sains yang kemarin sudah kami isi –penuh coretan frustasi sebenarnya. Dan mata Mr. Perry megarah ke… Morgan.
Morgan memasang ekspresi yang sangat licik. Saat kubilang sangat, aku nggak bohong. Dengan senyum miringnya yang sangat cocok dengan alis matanya yang seksi. Dia udah cocok banget untuk model majalah Playboy dengan roknya yang 5 cm di atas lutut. Selamat untuk Mr. Perry ya hari ini.
Dia selesai membagikan semua lembar jawabannya dan aku belum mendapatkannya.
Abby Cheer mendapatkan nilai sempurna sedangkan aku hanya terheran-heran tidak mendapatkan hasilku. Maksudku, lembar jawabannya. Kemana lembar itu?
“Aku tidak mendapatkan hasilku, sir,”
“Mungkin aku lupa, oke, mana lembar jawabanmu?”
“Aku tidak mendapatkannya, sir,” jangan bilang aku sok sopan atau apa, tapi jika kau ingin selamat di dunia sains, berbicara dengan sopan kayaknya bakal memperkecil kemungkinan terjadinya masalah yang besar.
“Bah! Aku sudah membagikannya!”
“Kulihat dari tadi kau disini saja sir. Morgan,” sulit sekali mengucapkan namanya setelah kejadian tadi.”Morgan yang membagikannya sir.”
“Bersikap sedikit sopan Ms. Clyte.”
Aku hanya mengatakan kebenaran. Mo… Morgan yang membagikannya… Bukan kau Pak-tua-yang-mesum-abis!
“Terserah bapak deh.”
“YA! Memang terserah saya. Jangan ada yang mengatur ya!”
Entahlah. Kukira guru ini sudah gila.
“Sir, jadi? Bagaimana dengan ulanganku?”
“Kau menyuruhku mencarinya?”
“Mungkin?”
“Mungkin kau anak yang sangat tidak sopan,” ucapnya dengan nada yang sok bijak abis. “Sampai bertemu di ruang guru!”
Setelah percakapan yang tolol dan sangat bertele-tele –bayangin deh aku hanya ingin hasil ulanganku dan dia malah mengundangku untuk mendapatkan hukuman di ruang guru– Mr. Perry hanya terpana dengan betis Morgan yang mulus banget.
Aku kembali ke tempat dudukku dengan muka lusuh dan –terpaksa mengikuti pelajaran.
Bel pergantian pelajaran berbunyi. Aku segera membereskan barangku dan bersiap ke kelas berikutnya. Kimia. Aku belum mengetahui siapa pasangan labku kali ini. Makanya aku sangat bersemangat. Ditambah lagi, Jake bilang dia akan menungguku di depan lab. Well, bisa dibilang menjemputku sih. Gak.. gak. Hanya di depan lab. Bukan di depan kelas. Tapi aneh sekali ya dia bersikap baik padaku akhir-akhir ini, padahal dulu dia hanya menyapaku sesekali karena dia kenal aku. Tentu saja dia kenal aku, itu saja, gak lebih. Dia bahkan sering main ke rumahku kok, untuk bertemu Carter tentunya. Masalah Fotografi. Huh Carter lagi Carter lagi –bahkan cowok-cowok juga menggemarinya.
Saat aku sudah mendekati pintu keluar kelas Sains –yang bagaikan keluar dari neraka– aku melihat lembar jawaban Sains dengan nilai sempurna tercecer di lantai dekat tempat sampah –yang terletak dekat pintu keluar. Awalnya, kukira itu punya Abby. Anehnya, Abby hampir tidak pernah ceroboh. Dia memang sudah meninggalkanku lebih dulu untuk kelas bebasnya. Ia sangat bersemangat. Tapi, mengapa meninggalkan nilai sempurnanya? Oh. Tunggu. Itu namaku. Lembar jawabanku! Aku girang bukan main karena melihat nilai 100 di kolom nilai. Yeay! Mom pasti bangga dan tidak mempermasalahkan seragam kotorku karena perang makanan! Segera kupungut lembar itu. Bukan. Aku ingin segera mengambil lembar jawaban itu. Tetapi tiba-tiba, kertas itu berjalan! Oh bukan bagaikan dia punya kaki atau apa. Tapi ada yang menariknya. Benang?
Dan, hah, saat kulihat siapa yang berdiri di depanku, Madison Hoore. Sebenarnya itu yang membuatku bertanya-tanya. Mengapa dia ada disini?
“Mau ini, doggy?” Perkataan dari mulut busuknya sangat tidak bisa diampuni.
“Oops! Doggy baru saja buang air besar disitu,” kataku sambil menunjuk ke arah Madison. “Dan lupa membersihkannya!”
Beberapa orang yang lewat tertawa cekikikan dan langsung menjauh karena melihat muka Madison Hoore yang marah. Wajah merah dan hidung yang bagaikan banteng. Well, tapi tetap terlihat cantik dan seksi sih.
“Kau ingin yang kasar ya?”
“Apanya? Poopnya?”
Morgan sangat marah dan menarik lembar jawabanku –yang sudah diikat dengan benang diujungnya– dengan cepat. Aku menerjang ke arah lembar jawaban itu dengan segera. Tapi aku terjatuh. Persetan dengan betis Morgan!
Rasanya tulang-tulangku mau remuk semuanya disaat yang bersamaan. Tapi aku berusaha bangkit dan meraih lembar jawabanku. Ingin rasannya kugiling Madison menjadi sampah masyarakat.
Tanganku akan segera mendapatkan lembar itu hanya dalam jarak 5 cm. Tetapi sesuatu yang tajam dan berat menginjak telapak tangaku.
“AAAWWW!” Jeritku.
“Wah, doggy, kamu harus liat-liat kalau mau buang air. Jangan disini dong. Sakitkan jadinya.” Si pemakai heels 7 cm ini angkat bicara.
Segera kuangkat kepalaku mendongak ke atas dan kulihat wajah persetan Morgan. Aku sama sekali tidak kasihan padanya karena tidak bisa mewawancarai Mark Honson. Diriku dipenuhi emosi memuncak.***
“Ya aku memang menyukai Austin tapi dulu sebelum kejadian tadi malam -walaupun sebenarnya aku masih menyukaiya sedikit. Aku tidak bilang karena aku tahu kau akan segera membunuhku. Aku memang masuk klub majalah sekolah. Aku kira itu tidak penting jadi ngapain aku kasih tahu. Ya, aku pernah mewawancarai Mark Honson dan ternyata dia mempunyai jerawat yang banyak dan tak kasat mata saat pemotretan, dan aku kira kau akan membunuhku jika aku bilang seperti itu. Dan, well, kau sahabatku Morgan. Kalau kau mau.”
Ingin Sekali aku mengatakan hal-hal seperti itu kepada Morgan. Tapi aku tahu itu hanya memperburuk keadaan. Tanpa butuh jawabanku, Morgan lari –meninggalkanku dengan mulut ternganga– dengan amarah yang sangat besar terpana dari mata biru indahnya.
Semua yang ada di koridor saat itu memandangku. Oke. Selamat tinggal.
Aku berlari ke ruang ganti, dan langsung mencari tempat persembunyian di balik loker nomor 167 dan menangis sebisaku –tanpa ganti baju. Aku nggak habis pikir. Semua di luar kendaliku. Maksudku, semua yang sidah kuperkirakan, kemungkinan buruk yang telah kucatat besar-besar di dalam otak ternyata kurang buruk. Gila banget ya hidupku.
“Morgan doang,” aku tahu ini suara siapa. “Ayo bangun. Jangan cengeng.”
Bukan suara Jake –yang sebenarnya kuharapkan. Atau Austin si brengsek yang keren. Bukan juga Mark Honson –oke aku gila. Hanya Abby Cheer. Dia sedang berdiri dengan kaki diangkat sebelah seakan dia anak yang populer atau apa.
“Kau sudah mendengar semua? Aku… aku–“
“Tenang saja. Aku tahu itu gila. Tapi kalu sudah gila jangan dibuat tambah gila.” Dia mengatakan gila seakan aku benar-benar gila sehingga butuh berkonseling dengan Mr. Paul. Makasih deh.
“Bisakah kau bayangkan… Hal yang kau kira… tidak penting,” aku menyedot ingusku, “menjadi terlalu penting untuk dipermasalahkan dan–“
“Aku nggak butuh membayangkan, aku lihat dengan jelas tadi. Hei, gila, bantu aku mau ya?” Dia mengatakan gila seakan aku menang miss universe.
Jadi gini ya rasanya membantu Abby Cheer. Aku kira aku akan dibutuhkan untuk membantu PRnya atau apalah yang lebih penting daripada mengaitkan tali branya yang sudah kesempitan. Well, itu berarti Abby lebih berisi daripada punyaku.
Aku berganti pakaian, dan siap untuk drama selanjutnya. Menyakitkan.
Pelajaran selanjutnya: Sains. Apa? Oh itu berarti aku harus pulang cepat karena hari ini akan dibagikan nilai ulangan harian ketiga. Makasih banyak.
Kebetulan aku dan Abby berada pada kelas yang sama. Yah, itu membuat perasaanku lebih tenang dengan dia berjalan berdampingan dengaku, membuat semua mata memandang kami dari atas ke bawah. Aku tahu. Mata mereka seperti berbicara Oh itu dia Callie Hylte! Awalnya berteman dengan Morgan pemandu sorak yang cantik tapi ternyata dia hanya bagaikan sampah bagi Morgan yang kita puja itu. Pada akhirnya dia berteman dengan Abby Cheer doang. Turut prihatin ya Call. Untung mata mereka tidak benar-benar bicara.
Tapi aku nggak ngerasa malu atau jijik berjalan dengan Abby –dan berteman dengan Abby juga tepatnya. Dia baik sekali. Dia jenius –kalau dia lebih pintar memberiku contekkan saat ulangan.
Di kelas sains aku juga bersama Morgan. Dia seperti ingin memakan tiap-tiap rusukku jika aku berani mendekatinya. Ketegangan yang janggal terasa. Tidak hanya aku yang merasakannya. Tapi seluruh kelas. Karena… karena… Pelajaran Mr. Perry. Perry atau pervert –mesum– terserah kau deh.
“Bagikan ini,” Mr. Perry memegang setumpuk lembar jawaban ulangan sains yang kemarin sudah kami isi –penuh coretan frustasi sebenarnya. Dan mata Mr. Perry megarah ke… Morgan.
Morgan memasang ekspresi yang sangat licik. Saat kubilang sangat, aku nggak bohong. Dengan senyum miringnya yang sangat cocok dengan alis matanya yang seksi. Dia udah cocok banget untuk model majalah Playboy dengan roknya yang 5 cm di atas lutut. Selamat untuk Mr. Perry ya hari ini.
Dia selesai membagikan semua lembar jawabannya dan aku belum mendapatkannya.
Abby Cheer mendapatkan nilai sempurna sedangkan aku hanya terheran-heran tidak mendapatkan hasilku. Maksudku, lembar jawabannya. Kemana lembar itu?
“Aku tidak mendapatkan hasilku, sir,”
“Mungkin aku lupa, oke, mana lembar jawabanmu?”
“Aku tidak mendapatkannya, sir,” jangan bilang aku sok sopan atau apa, tapi jika kau ingin selamat di dunia sains, berbicara dengan sopan kayaknya bakal memperkecil kemungkinan terjadinya masalah yang besar.
“Bah! Aku sudah membagikannya!”
“Kulihat dari tadi kau disini saja sir. Morgan,” sulit sekali mengucapkan namanya setelah kejadian tadi.”Morgan yang membagikannya sir.”
“Bersikap sedikit sopan Ms. Clyte.”
Aku hanya mengatakan kebenaran. Mo… Morgan yang membagikannya… Bukan kau Pak-tua-yang-mesum-abis!
“Terserah bapak deh.”
“YA! Memang terserah saya. Jangan ada yang mengatur ya!”
Entahlah. Kukira guru ini sudah gila.
“Sir, jadi? Bagaimana dengan ulanganku?”
“Kau menyuruhku mencarinya?”
“Mungkin?”
“Mungkin kau anak yang sangat tidak sopan,” ucapnya dengan nada yang sok bijak abis. “Sampai bertemu di ruang guru!”
Setelah percakapan yang tolol dan sangat bertele-tele –bayangin deh aku hanya ingin hasil ulanganku dan dia malah mengundangku untuk mendapatkan hukuman di ruang guru– Mr. Perry hanya terpana dengan betis Morgan yang mulus banget.
Aku kembali ke tempat dudukku dengan muka lusuh dan –terpaksa mengikuti pelajaran.
Bel pergantian pelajaran berbunyi. Aku segera membereskan barangku dan bersiap ke kelas berikutnya. Kimia. Aku belum mengetahui siapa pasangan labku kali ini. Makanya aku sangat bersemangat. Ditambah lagi, Jake bilang dia akan menungguku di depan lab. Well, bisa dibilang menjemputku sih. Gak.. gak. Hanya di depan lab. Bukan di depan kelas. Tapi aneh sekali ya dia bersikap baik padaku akhir-akhir ini, padahal dulu dia hanya menyapaku sesekali karena dia kenal aku. Tentu saja dia kenal aku, itu saja, gak lebih. Dia bahkan sering main ke rumahku kok, untuk bertemu Carter tentunya. Masalah Fotografi. Huh Carter lagi Carter lagi –bahkan cowok-cowok juga menggemarinya.
Saat aku sudah mendekati pintu keluar kelas Sains –yang bagaikan keluar dari neraka– aku melihat lembar jawaban Sains dengan nilai sempurna tercecer di lantai dekat tempat sampah –yang terletak dekat pintu keluar. Awalnya, kukira itu punya Abby. Anehnya, Abby hampir tidak pernah ceroboh. Dia memang sudah meninggalkanku lebih dulu untuk kelas bebasnya. Ia sangat bersemangat. Tapi, mengapa meninggalkan nilai sempurnanya? Oh. Tunggu. Itu namaku. Lembar jawabanku! Aku girang bukan main karena melihat nilai 100 di kolom nilai. Yeay! Mom pasti bangga dan tidak mempermasalahkan seragam kotorku karena perang makanan! Segera kupungut lembar itu. Bukan. Aku ingin segera mengambil lembar jawaban itu. Tetapi tiba-tiba, kertas itu berjalan! Oh bukan bagaikan dia punya kaki atau apa. Tapi ada yang menariknya. Benang?
Dan, hah, saat kulihat siapa yang berdiri di depanku, Madison Hoore. Sebenarnya itu yang membuatku bertanya-tanya. Mengapa dia ada disini?
“Mau ini, doggy?” Perkataan dari mulut busuknya sangat tidak bisa diampuni.
“Oops! Doggy baru saja buang air besar disitu,” kataku sambil menunjuk ke arah Madison. “Dan lupa membersihkannya!”
Beberapa orang yang lewat tertawa cekikikan dan langsung menjauh karena melihat muka Madison Hoore yang marah. Wajah merah dan hidung yang bagaikan banteng. Well, tapi tetap terlihat cantik dan seksi sih.
“Kau ingin yang kasar ya?”
“Apanya? Poopnya?”
Morgan sangat marah dan menarik lembar jawabanku –yang sudah diikat dengan benang diujungnya– dengan cepat. Aku menerjang ke arah lembar jawaban itu dengan segera. Tapi aku terjatuh. Persetan dengan betis Morgan!
Rasanya tulang-tulangku mau remuk semuanya disaat yang bersamaan. Tapi aku berusaha bangkit dan meraih lembar jawabanku. Ingin rasannya kugiling Madison menjadi sampah masyarakat.
Tanganku akan segera mendapatkan lembar itu hanya dalam jarak 5 cm. Tetapi sesuatu yang tajam dan berat menginjak telapak tangaku.
“AAAWWW!” Jeritku.
“Wah, doggy, kamu harus liat-liat kalau mau buang air. Jangan disini dong. Sakitkan jadinya.” Si pemakai heels 7 cm ini angkat bicara.
Segera kuangkat kepalaku mendongak ke atas dan kulihat wajah persetan Morgan. Aku sama sekali tidak kasihan padanya karena tidak bisa mewawancarai Mark Honson. Diriku dipenuhi emosi memuncak.***
No comments:
Post a Comment