Tuesday, April 17, 2012

Untitled (3)

“Apakah Mr. Barky member nilai A+++ pada ulangan terakhirmu? Demi Tuhan, ada apa sih dengan kau? Berlaku seperti orang gila.” Akhirnya aku dapat mengucapkan kata-kata itu setelah memilih lagu di tape mobil Carter. Aku memilih menyetel lagu Michael Bublé: Home. Oh aku bahkan ingin kembali ke rumah. Perutku rasanya tidak enak. Bukannya aku mabuk kendaraan lho.

“Aku harap. Aku hanya ingin membuka matamu. Jangan kebanyakan berkhayal da terkagum-kagum dengan tokoh di novelmu itu. Kau harus melakukan semua hal itu sendiri secara nyata.” Ujarnya dengan nada yang sangat santai. Aku memang sering berkhayal dan terkadang heboh sendiri dengan novel yang aku baca. Mungkin Carter sering memperhatikanku. Dan apa yang dimaksudnya dengan harus melakukan semua hal itu sendiri secara nyata? Beberapa novel yang aku baca, adalah novel romantis. Dan didalamnya ada sedikit seks. Yeah, pesta dan berlanjut ke seks. Apakah dia berharap aku melakukannya malam ini dengan beberapa cowok di pesta? Oh Tuhan, itu hal yang terakhir yang ingin aku lakukan dan tampaknya aku tidak ingin melakukannya. Tidak sekarang.

“Aku tahu, beberapa novelku adalah novel romantis, dan apakah–?” Pertanyaan tololku langsung dipotong dengannya.

“Demi Tuhan, bukan itu Call,” Potongnya dengan santai sambil menginjak rem karena tepat pada saat itu ada segelintir orang yag menyebrang. “Aku tidak berharap kau melakukan itu. Sungguh. Tidak sama sekali. Bahkan aku belum pernah melakukannya.” Dia memelankan volume suaranya saat mengatakan melakukannya. Kami memang ditakdirkan bersaudara. Maksudku, dia bisa membaca pikiranku!

“Kau belum pernah melakukannya?” Aku sedikit terkejut. Lebih tepatnya terkesan. “Maksudku, kita di Manhattan dan kau berada di antara cewek-cewek cantik dan penggoda.” Aku mengecilkan volume suaraku saat mengatakan penggoda, hanya terdengar seperti gumaman.

“Dan aku 17. Aku tidak tertarik dengan cewek-cewek penggoda itu.” Carter mendengar gumamanku ternyata.

Oh Tuhan. Tidak terasa Carter telah memakirkan mobilnya di lapangan parkir rumah keluarga Philps. Rumahnya sangat mewah. Aku pikir itu bagaikan istana. Dengan desain kuno zaman Victoria di bagian depan rumahnya. Dan lapangan parkir itu sudah hampir penuh. Dan ternyata, ada tukang parkir! Bagaimana bisa? Se-kaya itukah Austin? Aku tidak pernah menyangka itu. Hal yang sangat tidak terduga. Aku kira mereka semua –tamu undangan – akan sangat menawan. Maksudku, apakah kau mau berpesta dengan dandanan yang se-sederhana ini –ke pesta dahsyat ini. Rasanya aku mual dan ingin pulang. Pantas saja Carter sangat keren dan senang saat ini. Mengapa dia tidak memberithauku sih?

“Carter, bisakah kau mengantarku balik ke rumah?” Tanyaku padanya dengan pasti. Ini tidak mungkin. Aku pasti sangat salah kostum jika memilih menggunakan gaun hitam putih tuaku yang konyol itu.

“Oh tenanglah Callie. Kau akan baik-baik saja. Lagipula kau tampak cantik dan sek…si.” Dia hanya membuatku tambah parah. Mengapa dia mengatakan kata seksi itu dengan ragu. Aku lama-lama bisa gila dengan ini semua.

Tapi aku terpaksa harus turun karena Morgan telah mengetuk-ngetuk kaca mobil. Ternyata dia baru sampai dengan tumpangan mobil Michael Reynold. Salah sau cowok populer juga. Dan bahkan aku mendengar kabar bahwa Michael akan segera mempunyai nama di Hollywood. Entah menjadi apa, mungkin model.

“Hai.” Sapa Morgan sambil tersenyum centil kepada Carter. Sepertinya dia menyapa kakakku, bukan diriku. Dandanan Morgan malah terlihat sangat simple dan seksi. Tidak memakai gaun sepertiku. Rasanya akulah yang berdandan terlalu berlebihan dan terlihat memaksa.
Carter mematikan mesin mobil dan segera turun. Aku juga. Carter mengajakku masuk, tetapi aku ingin membahasl tentang penampilanku bersama Morgan terlebih dahulu. Jadi, Carter masuk duluan –dengan beberapa cewek mengikutinya (aku tidak memperhatikan penampilan mereka).

“Bagaimana penampilanku?” Tanyaku ragu kepada Morgan. Aku takut mendengar jawabannya.
“Kau terlihat sangat cantik. Walaupun kurang seksi. Tapi gaunmu ini sangat glamour.” Sepertinya dia sangat jujur tentang ini. Satu hal yang aku suka mengenai Morgan adalah kejujurannya mengenai memberi pendapat –tentunya bukan kejujuran terhadap PR biologinya itu.
“Aku kira aku salah kostum.”

“Sama sekali tidak. Akulah yang salah kostum.”

“Apa maksudmu?” Aku memperhatikan penampilan Morgan dari bawah sampai atas selama beberapa saat. Dia memakai rok mini satin dengan rumbai-rumbai bunga di sekelilingnya. Tapi baru sebentar kuperhatikan, dia sudah berbaur dengan cowok-cowok populer lainnya. Tapi aku tidak melihat Austin.

Aku memasuki pesta. Hampir semuanya berbusana sepertiku. Aku pikir Morgan akan benar-benar salah kostum. Dan kali ini dia pasti tidak akan jadi sorotan atau ratu pesta lagi –seperti biasa– karena tentu saja dia salah kostum. Salah kostum ke pesta Austin –AUSTIN! Ha!

Entah kenapa, aku merasa diriku tertawa. Bukan tertawa lucu. Melainkan tertawa senang seperti setan. Karena –tentu saja– penampilanku tidak seburuk Morgan. Ada kemungkinan kok untuk aku yang memegang posisi ratu pesta. Tapi ternyata aku salah. Salah besar. Morgan tidak dikucilkan di pesta atau apa. Dia malah dikerubutin banyak cowok –well, keren. Itu yang membuat emosiku terpancing. Ya Tuhan mengapa Morgan selalu beruntung sih? Mengapa tidak aku? Hello? Dia salah kostum! Ternyata salah kostum sama sekali tidak berarti apapun pada kepopuleran Morgan. Dia mulai cekikikan dan bertingkah mengerikan. Maksudku, dia bermesraan dengan cowok-cowok itu. Menggelikan, pikirku. Tapi aku sama sekali tidak melihat Austin disana.

Aku menatap sekeliling mencari Carter. Tapi aku hanya mendapat nihil. Dia tampak seperti tidak ada dimana-mana. Aku makan beberapa hidangan disitu. Enak juga sandwichnya. Sodanya juga lumayan. Tapi itu semua tidak memperbaiki keadaan diaman kenyataanya ini pesta –PESTA!– dan aku tidak berbicara dengan siapa pun selain dengan Morgan –sebelum di mencair dengan cowok-cowok itu. Tidak satu pun. Apa yang salah dengan penampilanku sih? Aku berusaha berbicara dengan beberapa orang, tetapi selalu saja terputus karena temannya yang lain memaggilanya. Ini gila. Aku lebih baik pulang.

Tetapi tidak sekarang. Benar deh. Aku meleleh. Melihat senyuman itu. Kemana senyuman itu ditujukan? Oh ya, ke aku –aku! Dan senyuman menawan itu milik Austin Philps.

“Hei.” Sapanya. Aku dapat melihatnya menggunakan tuksedo hitam dengan kemeja ungu tua didalamnya. UNGU. Warna yang sama dengan gaunku. Aku gila. Atau mungkin buta.

“Hai.” Hanya itu. Hanya itu yang mampu kuucapkan setelah dengan susah menelan sandwich ke tenggorokan dan mendorongnya meluncur ke dalam dengan soda. Oh Tuhan. Aku harus berkata apa lagi?

“Kau sendirian?” Tanyanya. Menurutmu, aku harus jawab apa?

Apa mungkin aku berkata: “Aku bersama kakak laki-lakiku, Carter, tetapi dia meninggalkanku begitu saja dan tidak menutup kemungkinan dia sedang bermesraan bersama cewek lain walaupun pasti dia menyangkalnya. Dan aku juga bersama sahabatku, Morgan, dan dia sedang bercumbu dengan cowok-cowok yang disana.”

Tidak mungkin. Aku bakal di tertawakan. Maksudku, apakah kau setuju jika kau berteman dengan seorang populer dan kakak laki-lakimu populer tetapi kau di cap sebagai anak pembohong yang kuper? Walaupun aku tidak bohong, karena benar saja kakak laki-lakiku populer dan sahabatku juga populer. Yah, well, akunya tidak. Baru saja aku ingin memulai topik pembicaraan, dia sudah mengambil alihnya terlebih dahulu.

“Pestanya asik bukan?” Dia tersenyum sangat menawan. Hingga aku tidak dapat berkata apa-apa. Aku kira dia habis bercukur. Rambut hitamnya terasa menyentuh pipiku, karena dia sedang mencoba mengambil sapu tangannya yang jatuh tepat di dekat kakiku.

“Ya. Sangat menyenagkan.” Bagi Morgan. Ini beneran gak asik kalau Austin tidak mengajakku ngobrol. Kami mengobrol selama kurang-lebih satu jam. Dia tidak henti-hentinya membicarakan bagaimana hebatnya dia yang sebenarnya. Maksudku, dia keren, dan dia… keren. Walaupun sebenarnya, aku kurang tertarik dengan cowok yang hanya bisa membanggakan dirinya sendiri. Sedikit seperti Carter jika menyangkut tentang fotografi. Dia akan sangat pamer.

Aku hanyut dalam suasana. Ini benar-benar pesta yang terindah. Walaupun tidak hentinya Austin membicarakan tentang permainan bola basket yang dia menangkan, tapi itu AUSTIN –AUSTIN! Dia keren banget sampe aku gak banyak bicara. Tapi dia sesekali memuji penampilanku. Dan itu membuatku melaang sampai ke langit ke 7. Oke, itu berlebihan.

No comments:

Post a Comment