“Apakah Mr. Barky member nilai A+++ pada ulangan terakhirmu? Demi
Tuhan, ada apa sih dengan kau? Berlaku seperti orang gila.” Akhirnya
aku dapat mengucapkan kata-kata itu setelah memilih lagu di tape mobil
Carter. Aku memilih menyetel lagu Michael Bublé: Home. Oh aku bahkan
ingin kembali ke rumah. Perutku rasanya tidak enak. Bukannya aku mabuk
kendaraan lho.
“Aku harap. Aku hanya ingin
membuka matamu. Jangan kebanyakan berkhayal da terkagum-kagum dengan
tokoh di novelmu itu. Kau harus melakukan semua hal itu sendiri secara
nyata.” Ujarnya dengan nada yang sangat santai. Aku memang sering
berkhayal dan terkadang heboh sendiri dengan novel yang aku baca.
Mungkin Carter sering memperhatikanku. Dan apa yang dimaksudnya dengan
harus melakukan semua hal itu sendiri secara nyata? Beberapa novel yang
aku baca, adalah novel romantis. Dan didalamnya ada sedikit seks. Yeah,
pesta dan berlanjut ke seks. Apakah dia berharap aku melakukannya malam
ini dengan beberapa cowok di pesta? Oh Tuhan, itu hal yang terakhir
yang ingin aku lakukan dan tampaknya aku tidak ingin melakukannya.
Tidak sekarang.
“Aku tahu, beberapa novelku adalah novel romantis, dan apakah–?” Pertanyaan tololku langsung dipotong dengannya.
“Demi
Tuhan, bukan itu Call,” Potongnya dengan santai sambil menginjak rem
karena tepat pada saat itu ada segelintir orang yag menyebrang. “Aku
tidak berharap kau melakukan itu. Sungguh. Tidak sama sekali. Bahkan
aku belum pernah melakukannya.” Dia memelankan volume suaranya saat
mengatakan melakukannya. Kami memang ditakdirkan bersaudara. Maksudku,
dia bisa membaca pikiranku!
“Kau belum pernah melakukannya?” Aku
sedikit terkejut. Lebih tepatnya terkesan. “Maksudku, kita di Manhattan
dan kau berada di antara cewek-cewek cantik dan penggoda.” Aku
mengecilkan volume suaraku saat mengatakan penggoda, hanya terdengar
seperti gumaman.
“Dan aku 17. Aku tidak tertarik dengan cewek-cewek penggoda itu.” Carter mendengar gumamanku ternyata.
Oh
Tuhan. Tidak terasa Carter telah memakirkan mobilnya di lapangan parkir
rumah keluarga Philps. Rumahnya sangat mewah. Aku pikir itu bagaikan
istana. Dengan desain kuno zaman Victoria di bagian depan rumahnya. Dan
lapangan parkir itu sudah hampir penuh. Dan ternyata, ada tukang
parkir! Bagaimana bisa? Se-kaya itukah Austin? Aku tidak pernah
menyangka itu. Hal yang sangat tidak terduga. Aku kira mereka semua
–tamu undangan – akan sangat menawan. Maksudku, apakah kau mau berpesta
dengan dandanan yang se-sederhana ini –ke pesta dahsyat ini. Rasanya
aku mual dan ingin pulang. Pantas saja Carter sangat keren dan senang
saat ini. Mengapa dia tidak memberithauku sih?
“Carter, bisakah
kau mengantarku balik ke rumah?” Tanyaku padanya dengan pasti. Ini
tidak mungkin. Aku pasti sangat salah kostum jika memilih menggunakan
gaun hitam putih tuaku yang konyol itu.
“Oh tenanglah Callie.
Kau akan baik-baik saja. Lagipula kau tampak cantik dan sek…si.” Dia
hanya membuatku tambah parah. Mengapa dia mengatakan kata seksi itu
dengan ragu. Aku lama-lama bisa gila dengan ini semua.
Tapi aku
terpaksa harus turun karena Morgan telah mengetuk-ngetuk kaca mobil.
Ternyata dia baru sampai dengan tumpangan mobil Michael Reynold. Salah
sau cowok populer juga. Dan bahkan aku mendengar kabar bahwa Michael
akan segera mempunyai nama di Hollywood. Entah menjadi apa, mungkin
model.
“Hai.” Sapa Morgan sambil tersenyum centil kepada Carter.
Sepertinya dia menyapa kakakku, bukan diriku. Dandanan Morgan malah
terlihat sangat simple dan seksi. Tidak memakai gaun sepertiku. Rasanya
akulah yang berdandan terlalu berlebihan dan terlihat memaksa.
Carter
mematikan mesin mobil dan segera turun. Aku juga. Carter mengajakku
masuk, tetapi aku ingin membahasl tentang penampilanku bersama Morgan
terlebih dahulu. Jadi, Carter masuk duluan –dengan beberapa cewek
mengikutinya (aku tidak memperhatikan penampilan mereka).
“Bagaimana penampilanku?” Tanyaku ragu kepada Morgan. Aku takut mendengar jawabannya.
“Kau
terlihat sangat cantik. Walaupun kurang seksi. Tapi gaunmu ini sangat
glamour.” Sepertinya dia sangat jujur tentang ini. Satu hal yang aku
suka mengenai Morgan adalah kejujurannya mengenai memberi pendapat
–tentunya bukan kejujuran terhadap PR biologinya itu.
“Aku kira aku salah kostum.”
“Sama sekali tidak. Akulah yang salah kostum.”
“Apa
maksudmu?” Aku memperhatikan penampilan Morgan dari bawah sampai atas
selama beberapa saat. Dia memakai rok mini satin dengan rumbai-rumbai
bunga di sekelilingnya. Tapi baru sebentar kuperhatikan, dia sudah
berbaur dengan cowok-cowok populer lainnya. Tapi aku tidak melihat
Austin.
Aku memasuki pesta. Hampir semuanya berbusana sepertiku.
Aku pikir Morgan akan benar-benar salah kostum. Dan kali ini dia pasti
tidak akan jadi sorotan atau ratu pesta lagi –seperti biasa– karena
tentu saja dia salah kostum. Salah kostum ke pesta Austin –AUSTIN! Ha!
Entah
kenapa, aku merasa diriku tertawa. Bukan tertawa lucu. Melainkan
tertawa senang seperti setan. Karena –tentu saja– penampilanku tidak
seburuk Morgan. Ada kemungkinan kok untuk aku yang memegang posisi ratu
pesta. Tapi ternyata aku salah. Salah besar. Morgan tidak dikucilkan di
pesta atau apa. Dia malah dikerubutin banyak cowok –well, keren. Itu
yang membuat emosiku terpancing. Ya Tuhan mengapa Morgan selalu
beruntung sih? Mengapa tidak aku? Hello? Dia salah kostum! Ternyata
salah kostum sama sekali tidak berarti apapun pada kepopuleran Morgan.
Dia mulai cekikikan dan bertingkah mengerikan. Maksudku, dia bermesraan
dengan cowok-cowok itu. Menggelikan, pikirku. Tapi aku sama sekali
tidak melihat Austin disana.
Aku menatap sekeliling mencari
Carter. Tapi aku hanya mendapat nihil. Dia tampak seperti tidak ada
dimana-mana. Aku makan beberapa hidangan disitu. Enak juga sandwichnya.
Sodanya juga lumayan. Tapi itu semua tidak memperbaiki keadaan diaman
kenyataanya ini pesta –PESTA!– dan aku tidak berbicara dengan siapa pun
selain dengan Morgan –sebelum di mencair dengan cowok-cowok itu. Tidak
satu pun. Apa yang salah dengan penampilanku sih? Aku berusaha
berbicara dengan beberapa orang, tetapi selalu saja terputus karena
temannya yang lain memaggilanya. Ini gila. Aku lebih baik pulang.
Tetapi
tidak sekarang. Benar deh. Aku meleleh. Melihat senyuman itu. Kemana
senyuman itu ditujukan? Oh ya, ke aku –aku! Dan senyuman menawan itu
milik Austin Philps.
“Hei.” Sapanya. Aku dapat melihatnya
menggunakan tuksedo hitam dengan kemeja ungu tua didalamnya. UNGU.
Warna yang sama dengan gaunku. Aku gila. Atau mungkin buta.
“Hai.”
Hanya itu. Hanya itu yang mampu kuucapkan setelah dengan susah menelan
sandwich ke tenggorokan dan mendorongnya meluncur ke dalam dengan soda.
Oh Tuhan. Aku harus berkata apa lagi?
“Kau sendirian?” Tanyanya. Menurutmu, aku harus jawab apa?
Apa
mungkin aku berkata: “Aku bersama kakak laki-lakiku, Carter, tetapi dia
meninggalkanku begitu saja dan tidak menutup kemungkinan dia sedang
bermesraan bersama cewek lain walaupun pasti dia menyangkalnya. Dan aku
juga bersama sahabatku, Morgan, dan dia sedang bercumbu dengan
cowok-cowok yang disana.”
Tidak mungkin. Aku bakal di
tertawakan. Maksudku, apakah kau setuju jika kau berteman dengan
seorang populer dan kakak laki-lakimu populer tetapi kau di cap sebagai
anak pembohong yang kuper? Walaupun aku tidak bohong, karena benar saja
kakak laki-lakiku populer dan sahabatku juga populer. Yah, well, akunya
tidak. Baru saja aku ingin memulai topik pembicaraan, dia sudah
mengambil alihnya terlebih dahulu.
“Pestanya asik bukan?” Dia
tersenyum sangat menawan. Hingga aku tidak dapat berkata apa-apa. Aku
kira dia habis bercukur. Rambut hitamnya terasa menyentuh pipiku,
karena dia sedang mencoba mengambil sapu tangannya yang jatuh tepat di
dekat kakiku.
“Ya. Sangat menyenagkan.” Bagi Morgan. Ini beneran
gak asik kalau Austin tidak mengajakku ngobrol. Kami mengobrol selama
kurang-lebih satu jam. Dia tidak henti-hentinya membicarakan bagaimana
hebatnya dia yang sebenarnya. Maksudku, dia keren, dan dia… keren.
Walaupun sebenarnya, aku kurang tertarik dengan cowok yang hanya bisa
membanggakan dirinya sendiri. Sedikit seperti Carter jika menyangkut
tentang fotografi. Dia akan sangat pamer.
Aku hanyut dalam
suasana. Ini benar-benar pesta yang terindah. Walaupun tidak hentinya
Austin membicarakan tentang permainan bola basket yang dia menangkan,
tapi itu AUSTIN –AUSTIN! Dia keren banget sampe aku gak banyak bicara.
Tapi dia sesekali memuji penampilanku. Dan itu membuatku melaang sampai
ke langit ke 7. Oke, itu berlebihan.
No comments:
Post a Comment