Semua berjalan sangat lancar sampai tragedi menyeramkan itu terjadi.
Saat itu Austin masih berbicara tentang basketnya. Dia mencoba
memelukku dan pada saat yang bersamaan aku melihat Abby Cheer –dia
bahkan datang!– tidak sengaja menginjak gaun panjang seorang cewek
(gaunnya memang sangat panjang menyapu lantai, sejak awal pesta aku
memang memperhatikannya. Dan anehnya sejak awal pesta aku seperti
melihat Chloe Neirch, mantan sahabatku yang kuper, tapi aku seperti
melihatnya berubah menjadi cewek seperti Madison. Oh bukan, itu hanya
khayalanku). Gadis itu terjatuh dan kue tart besar di tangannya jatuh.
Jatuh tidak di dekatku. Fiuh untung saja, pikirku. Kue itu jatuh dengan
sempurna. Tidak terlihat kecacatan. Masih menghadap ke atas dan tampak
sangat cantik dengan cream putih yang dihias strawberry. Aku juga
melihat –sepertinya kembarannya– gadis lain dengan gaun yang juga
panjang datang menghampiri kembarannya yang jatuh –gadis ini juga
memegang kue yang sama. Dia tidak melihat kue itu jatuh di dekat
kakinya.
Dan….
Braak
Gadis itu terjatuh karena terpeleset oleh kue yang tadi dijatuhkan kembarannya. Saat itu Austin sedang mencoba menciumku. Dia memejamkan mata dan mulai menyodorkan mulut–bibir seksi–nya itu. Saat itu juga kue yang sama yang dipegang kembarannya yang baru saja jatuh terpeleset, terlempar ke arahku. AKU. Aku tidak dapat menghindar karena tanganku di genggam keras oleh Austin.
Byaaar…
Seluruh tubuhku belepotan oleh cream putih. Mukaku.
Bibir yang akan dicium Austin ini penuh dengan cream. Anehnya Austin tidak menyadari kejadian itu –tentu saja, kerena dia sedang memejamkan matanya untuk menciumku. Jadi, Austin mencium bibirku yang penuh cream. Tentu saja dia kaget. Dia bahkan mendelik jijik karena cream dari mulutku juga mencemari mulutnya.
Dia bahkan berkata: “Eww.. Pilihan yang salah. Demi Tuhan, ini bibir neraka.”
Wow. Semuanya hancur sudah. Semua orang menertawakanku. Semua orang di pesta itu. Bahkan cleaning servicenya. Kaya sekali Austin sampai mempuyai CS yang sperti di hotel-hotel bintang lima. Oh Tuhan ada apa yang salah denganku? Mengapa di saat yang memalukan ini sempat-sempatnya aku memikirkan kekayaan Austin –cowok yang mencoba meciumku tapi malah mendapatkan cream di bibirnya yang seksi dan menggoda. Aku gila. Sempat-sempatnya pula aku memikirkan bibir Austin. Aku harus segera pergi. Sekarang juga. Tidak peduli Carter ada diamana, mugkin dia ada diantara orang-orang gila(oh tidak mungkin aku yang gila) yang menertawakanku –bukan membantuku, bahkan Austin langsung meninggalkanku dan menatapku dengan jijik. Jahat sekali dia. Oh bukan, dia tidak jahat. Itu memang benar kan. Aku tampak sangat menjijikan.. Mendapati diriku menangis tersak-isak.
Aku berlari dengan wajah merah. Aku berlari keluar rumah –lebih tepatnya gedung. Aku gak tahan lagi deh. Kok jahat sekali mereka? Kemana mereka disaat-saat seperti ini? Aku gak bakal tahan deh besok mendengar hinaan menjijikan dari seantero sekolah. Aku konyol. Sangat konyol. Dan bahkan aku tampak lebih konyol lagi karena aku menangis. Oh ya aku berjalan di trotoar dekat gedung itu dengan bertelanjang kaki. Sepatu sialan, pikirku. Karena saat aku berlari, heelsnya copot begitu saja. Aku baru ingat bahwa sepatu itu memang sudah lama aku tidak pakai karena masalah heelsnya yang payah. Bukan sepatunya yang sialan. Tetapi akulah yang memang sial. Aku jahat, konyol, bodoh, payah dan sialan. Mungkin aku juga brengsek karena sempat merasakan kesenangan ketika meilhat sahabatku sendiri datang dengan salah kostum.
Aku berniat mencari taksi. Tetapi tidak ada satupun yang lewat. Karena –sialnya– saat itu hujan deras turun. Semua orang mencoba berteduh, tetapi aku tidak, karena jelas sudah tidak ada tempat untuk berteduh. Hidupku berakhir, pikirku. Apa boleh buat, berjalan kaki ke rumah adalah pilihan terakhir. Aku tahu itu gila. Lorklyn Drive 1 dan Broonch berbeda 30 blok. Tapi, itulah pilihan yang tersisa karena sekarang sudah jam 1 malam. Tetapi tiba-tiba suara berat tetapi lembut menyapaku. Dan hujan diatas kepalaku berhenti.
“Hai. Butuh bantuan?” Dia memayungiku, itu membuatnya berdiri sangat dekat dengaku. Bau badannya sangat enak –tidak seperti diriku yang menjijikan ini. Dan ternyata itu Jackson Dann. Salah satu cowok dari geng Clyte Johnson. Cowok-cowok pembenci pemandu sorak yang konyol. Satu hal yang membuat mereka berani mengataiku pada jam akhir fisika adalah, karena aku berteman dengan sang populer, Morgan. Ya, Morgan memang bukan pemandu sorak tetapi dia sudah sering mencoba mengikuti tes pemnadu sorak walaupun tidak pernah lolos. Aku turut prihatin tentang itu. Tapi gila sekali dia ingin mencoba menggantikan posisi Madison Hoore sebagai ketua pemandu sorak yang tingkat kelenturan tubuhnya –dan tingkat menggodanya– tinggi. Aku takut bila dia diterima dia akan melupakanku dan bertingkah sangat mengerikan seperti Madison –yaitu menjadi perempuan-perebut-hati-para-lelaki. Maksudku, kasihan kan cewek-cewek lainnya yang rela mati demi mendapatkan SATU cowok yang dia cinta –bukannya hanya dipakai untuk berciuman.
“Tidak.” Jawabku ketus kepadanya. Dan ada apa sih yang salah denganku? Apa suaraku yang terlalu kecil atau terlalu jelek? Dia seakan tidak mendengarkan satu kata pun keuar dari mulutku dan melanjutkan omongannya.
“Austin memang gila. Dia sama sekali tidak membantu,” Katanya. Aku gak ngerti apa yang dia maksud. “Dan Morgan sangat konyol. Bercumbu dengan cowok-cowok dan bahkan sekarang dia beciuman panas dengan cowok yang bibirnya sempat belepotan dengan cream.” Apa maksudnya? Jadi sekarang Morgan sedang bermesraan dengan Austin? Ok. Jangan katakan itu. Itu tidak mungkin. Tidak mungkin hanya sekali dilakukan.
Aku sangat takut. Dia menghangatkanku dengan menaruh jas tuksedonya di bahuku dan menaruh lengannya yang (tidak terlalu) berotot –yang kuakui memang keren– di leherku (dia mendekapku sebenarnya) dan dia juga mengambil alih dalam memegang sepatuku. Aku harap sepatuku tidak bau karena itu akan menjadi sangat memalukan. Aku takut karena dia satu geng dengan Clyte. Dan apa yang sedang direncanakannya? Apa ide gila yang dapat mempermalukanku –walaupun aku tahu aku sudah memalukan– saat ini? Maksudku, kau pasti menaruh curiga kan? Karena dia satu geng dengan Clyte Johnson!
“Apa yang sedang kau rencana–“ Omomganku lagi-lagi diputus olehnya.
“Oh lihat! Kau tidak mungkin pulang dengan keadaan seperti ini! Kakimu lecet!” Ujarnya dengan nada yang sangat mengasihani –dia pasti melihatnya karena tepat diatas kita adalah lampu jalan yang sangat besar. Aku jadi merasa berdosa telah menaruh curiga. Tapi.. aku harus tetap waspada kan?
“Rumahmu dimana?” Tanyanya.
“Aku bisa pulang sendiri.” Itu bukan jawaban yang tepat, aku tahu. Tetapi bisa saja kan cowok –keren berambut coklat pekat– ini mengirimkan sesuatu yang mengerikan atau menggelikan ke rumahku?
“Kau gila? Aku tidak mungkin mengantarmu pulang dengan keaadaanmu yang sekarang.” Elaknya. Yah aku tahu keadaanku memalukan. “Bisa-bia aku dikira habis memperkosamu.” Dia mengucapkan kalimat terakhir itu dengan sangat pelan. Memang. Keaadaaku ini, maksduku. Rambutku sudah tidak ada bentuknya. Gaunku belepotan cream dan ada beberapa bagian yang sangat mengerikan. Heels sepatuku copot. Dan wajahku, penuh cream, air mata dan eyeliner yang luntur.
“Tapi tidak ada pemerkosa yang mengembalikan korbannya ke rumah.” Ujarku. Aku sedikit tertawa. Maksudku, itu lawakan yang lucu kan? Oke. Sepertinya aku yang konyol.
“Memang susah menggapai yang kita inginkan,” Omongannya benar-benar gila. Dia mendengarku atau tidak sih? “Tapi apa yang kita inginkan kadang bukan yang benar-benar kita inginkan.” Lanjutnya. Gila sekali dia! Apa maksdunya sih?
”Kau gila!” Ejekku dengan bangga.
“Kau ingin populer seperti sahabatmu bukan? Dan tampaknya kau menyukai Austin ya?” Orang ini konyol. Mengapa dia bisa tahu hal-hal seperti ini. Bahkan kita hampir tidak pernah sekelas. Yah, walaupun dial ah yang menggantikan Austin (pada kelas 8) untuk menjadi partner labku. Dan pada kelas 9, dia juga menjadi partner labku. Hanya sebatas itu. Cukup sudah aku dibuat gila dengan kepintarannya. Maksudku, apa kau tidak minder jika mendapat teman lab yang sangat jago, tetapi kau tidak, hanya seperti benalu padahal kau tidak ingin jadi benalu.
“Kalau ya memang kenapa?” Itu sama sekali bukan pertanyaan yang butuh jawaban. “Dan aku benar-benar menginginkannya.” Lanjutku.
“Kau akan tahu nanti.” Ada apa sih denganku? Oh bukan maksudku, ada apa sih dengannya?
“Sekarang bagaimana aku pulang? Saran?” Tanyaku dengan sinis.
“Tunggu disini,” Katanya sambil membuat aku duduk di pinggir pohon di trotoar. “Kau akan aman.”
“Kau yakin?” Jujur saja aku agak ragu. Maksudku, hello? Ini jam 1 malam!
Dia tidak mendengarkanku dan ngeloyor begitu saja. Aneh sekali, pikirku. Mengapa dia bersikap begitu manis padaku? Apa yang dia inginkan sih sebenarnya? Apakah dia menyukaiku? Oh tidak. Aku gila. Oh Callie pantas saja teman-temanmu menjulukimu Silly –si konyol. Tapi jujur, belum pernah ada cowok yang memperlakukanku semanis ini sebelumnya –kecuali Carter yah karena dia memang kakakku dan dia harus bersikap seperti itu. Itu manis kan? Membantu perempuan gila yang konyol dan menjijkan yang baru (tidak secara langsung) ditendang dari pesta pada jam 1 malam dan tidak menemukan taksi.
Taksi berwarna hitam dengan tulisan ‘hired’ diatasnya berhenti di depanku.
Aku tahu.
Dia sangat manis.
Dan….
Braak
Gadis itu terjatuh karena terpeleset oleh kue yang tadi dijatuhkan kembarannya. Saat itu Austin sedang mencoba menciumku. Dia memejamkan mata dan mulai menyodorkan mulut–bibir seksi–nya itu. Saat itu juga kue yang sama yang dipegang kembarannya yang baru saja jatuh terpeleset, terlempar ke arahku. AKU. Aku tidak dapat menghindar karena tanganku di genggam keras oleh Austin.
Byaaar…
Seluruh tubuhku belepotan oleh cream putih. Mukaku.
Bibir yang akan dicium Austin ini penuh dengan cream. Anehnya Austin tidak menyadari kejadian itu –tentu saja, kerena dia sedang memejamkan matanya untuk menciumku. Jadi, Austin mencium bibirku yang penuh cream. Tentu saja dia kaget. Dia bahkan mendelik jijik karena cream dari mulutku juga mencemari mulutnya.
Dia bahkan berkata: “Eww.. Pilihan yang salah. Demi Tuhan, ini bibir neraka.”
Wow. Semuanya hancur sudah. Semua orang menertawakanku. Semua orang di pesta itu. Bahkan cleaning servicenya. Kaya sekali Austin sampai mempuyai CS yang sperti di hotel-hotel bintang lima. Oh Tuhan ada apa yang salah denganku? Mengapa di saat yang memalukan ini sempat-sempatnya aku memikirkan kekayaan Austin –cowok yang mencoba meciumku tapi malah mendapatkan cream di bibirnya yang seksi dan menggoda. Aku gila. Sempat-sempatnya pula aku memikirkan bibir Austin. Aku harus segera pergi. Sekarang juga. Tidak peduli Carter ada diamana, mugkin dia ada diantara orang-orang gila(oh tidak mungkin aku yang gila) yang menertawakanku –bukan membantuku, bahkan Austin langsung meninggalkanku dan menatapku dengan jijik. Jahat sekali dia. Oh bukan, dia tidak jahat. Itu memang benar kan. Aku tampak sangat menjijikan.. Mendapati diriku menangis tersak-isak.
Aku berlari dengan wajah merah. Aku berlari keluar rumah –lebih tepatnya gedung. Aku gak tahan lagi deh. Kok jahat sekali mereka? Kemana mereka disaat-saat seperti ini? Aku gak bakal tahan deh besok mendengar hinaan menjijikan dari seantero sekolah. Aku konyol. Sangat konyol. Dan bahkan aku tampak lebih konyol lagi karena aku menangis. Oh ya aku berjalan di trotoar dekat gedung itu dengan bertelanjang kaki. Sepatu sialan, pikirku. Karena saat aku berlari, heelsnya copot begitu saja. Aku baru ingat bahwa sepatu itu memang sudah lama aku tidak pakai karena masalah heelsnya yang payah. Bukan sepatunya yang sialan. Tetapi akulah yang memang sial. Aku jahat, konyol, bodoh, payah dan sialan. Mungkin aku juga brengsek karena sempat merasakan kesenangan ketika meilhat sahabatku sendiri datang dengan salah kostum.
Aku berniat mencari taksi. Tetapi tidak ada satupun yang lewat. Karena –sialnya– saat itu hujan deras turun. Semua orang mencoba berteduh, tetapi aku tidak, karena jelas sudah tidak ada tempat untuk berteduh. Hidupku berakhir, pikirku. Apa boleh buat, berjalan kaki ke rumah adalah pilihan terakhir. Aku tahu itu gila. Lorklyn Drive 1 dan Broonch berbeda 30 blok. Tapi, itulah pilihan yang tersisa karena sekarang sudah jam 1 malam. Tetapi tiba-tiba suara berat tetapi lembut menyapaku. Dan hujan diatas kepalaku berhenti.
“Hai. Butuh bantuan?” Dia memayungiku, itu membuatnya berdiri sangat dekat dengaku. Bau badannya sangat enak –tidak seperti diriku yang menjijikan ini. Dan ternyata itu Jackson Dann. Salah satu cowok dari geng Clyte Johnson. Cowok-cowok pembenci pemandu sorak yang konyol. Satu hal yang membuat mereka berani mengataiku pada jam akhir fisika adalah, karena aku berteman dengan sang populer, Morgan. Ya, Morgan memang bukan pemandu sorak tetapi dia sudah sering mencoba mengikuti tes pemnadu sorak walaupun tidak pernah lolos. Aku turut prihatin tentang itu. Tapi gila sekali dia ingin mencoba menggantikan posisi Madison Hoore sebagai ketua pemandu sorak yang tingkat kelenturan tubuhnya –dan tingkat menggodanya– tinggi. Aku takut bila dia diterima dia akan melupakanku dan bertingkah sangat mengerikan seperti Madison –yaitu menjadi perempuan-perebut-hati-para-lelaki. Maksudku, kasihan kan cewek-cewek lainnya yang rela mati demi mendapatkan SATU cowok yang dia cinta –bukannya hanya dipakai untuk berciuman.
“Tidak.” Jawabku ketus kepadanya. Dan ada apa sih yang salah denganku? Apa suaraku yang terlalu kecil atau terlalu jelek? Dia seakan tidak mendengarkan satu kata pun keuar dari mulutku dan melanjutkan omongannya.
“Austin memang gila. Dia sama sekali tidak membantu,” Katanya. Aku gak ngerti apa yang dia maksud. “Dan Morgan sangat konyol. Bercumbu dengan cowok-cowok dan bahkan sekarang dia beciuman panas dengan cowok yang bibirnya sempat belepotan dengan cream.” Apa maksudnya? Jadi sekarang Morgan sedang bermesraan dengan Austin? Ok. Jangan katakan itu. Itu tidak mungkin. Tidak mungkin hanya sekali dilakukan.
Aku sangat takut. Dia menghangatkanku dengan menaruh jas tuksedonya di bahuku dan menaruh lengannya yang (tidak terlalu) berotot –yang kuakui memang keren– di leherku (dia mendekapku sebenarnya) dan dia juga mengambil alih dalam memegang sepatuku. Aku harap sepatuku tidak bau karena itu akan menjadi sangat memalukan. Aku takut karena dia satu geng dengan Clyte. Dan apa yang sedang direncanakannya? Apa ide gila yang dapat mempermalukanku –walaupun aku tahu aku sudah memalukan– saat ini? Maksudku, kau pasti menaruh curiga kan? Karena dia satu geng dengan Clyte Johnson!
“Apa yang sedang kau rencana–“ Omomganku lagi-lagi diputus olehnya.
“Oh lihat! Kau tidak mungkin pulang dengan keadaan seperti ini! Kakimu lecet!” Ujarnya dengan nada yang sangat mengasihani –dia pasti melihatnya karena tepat diatas kita adalah lampu jalan yang sangat besar. Aku jadi merasa berdosa telah menaruh curiga. Tapi.. aku harus tetap waspada kan?
“Rumahmu dimana?” Tanyanya.
“Aku bisa pulang sendiri.” Itu bukan jawaban yang tepat, aku tahu. Tetapi bisa saja kan cowok –keren berambut coklat pekat– ini mengirimkan sesuatu yang mengerikan atau menggelikan ke rumahku?
“Kau gila? Aku tidak mungkin mengantarmu pulang dengan keaadaanmu yang sekarang.” Elaknya. Yah aku tahu keadaanku memalukan. “Bisa-bia aku dikira habis memperkosamu.” Dia mengucapkan kalimat terakhir itu dengan sangat pelan. Memang. Keaadaaku ini, maksduku. Rambutku sudah tidak ada bentuknya. Gaunku belepotan cream dan ada beberapa bagian yang sangat mengerikan. Heels sepatuku copot. Dan wajahku, penuh cream, air mata dan eyeliner yang luntur.
“Tapi tidak ada pemerkosa yang mengembalikan korbannya ke rumah.” Ujarku. Aku sedikit tertawa. Maksudku, itu lawakan yang lucu kan? Oke. Sepertinya aku yang konyol.
“Memang susah menggapai yang kita inginkan,” Omongannya benar-benar gila. Dia mendengarku atau tidak sih? “Tapi apa yang kita inginkan kadang bukan yang benar-benar kita inginkan.” Lanjutnya. Gila sekali dia! Apa maksdunya sih?
”Kau gila!” Ejekku dengan bangga.
“Kau ingin populer seperti sahabatmu bukan? Dan tampaknya kau menyukai Austin ya?” Orang ini konyol. Mengapa dia bisa tahu hal-hal seperti ini. Bahkan kita hampir tidak pernah sekelas. Yah, walaupun dial ah yang menggantikan Austin (pada kelas 8) untuk menjadi partner labku. Dan pada kelas 9, dia juga menjadi partner labku. Hanya sebatas itu. Cukup sudah aku dibuat gila dengan kepintarannya. Maksudku, apa kau tidak minder jika mendapat teman lab yang sangat jago, tetapi kau tidak, hanya seperti benalu padahal kau tidak ingin jadi benalu.
“Kalau ya memang kenapa?” Itu sama sekali bukan pertanyaan yang butuh jawaban. “Dan aku benar-benar menginginkannya.” Lanjutku.
“Kau akan tahu nanti.” Ada apa sih denganku? Oh bukan maksudku, ada apa sih dengannya?
“Sekarang bagaimana aku pulang? Saran?” Tanyaku dengan sinis.
“Tunggu disini,” Katanya sambil membuat aku duduk di pinggir pohon di trotoar. “Kau akan aman.”
“Kau yakin?” Jujur saja aku agak ragu. Maksudku, hello? Ini jam 1 malam!
Dia tidak mendengarkanku dan ngeloyor begitu saja. Aneh sekali, pikirku. Mengapa dia bersikap begitu manis padaku? Apa yang dia inginkan sih sebenarnya? Apakah dia menyukaiku? Oh tidak. Aku gila. Oh Callie pantas saja teman-temanmu menjulukimu Silly –si konyol. Tapi jujur, belum pernah ada cowok yang memperlakukanku semanis ini sebelumnya –kecuali Carter yah karena dia memang kakakku dan dia harus bersikap seperti itu. Itu manis kan? Membantu perempuan gila yang konyol dan menjijkan yang baru (tidak secara langsung) ditendang dari pesta pada jam 1 malam dan tidak menemukan taksi.
Taksi berwarna hitam dengan tulisan ‘hired’ diatasnya berhenti di depanku.
Aku tahu.
Dia sangat manis.
No comments:
Post a Comment