Aku bangun telat. Yah, tidak apa sih. Hari ini sabtu.
APA?
SABTU?
OH TUHAN
AKU PELUPA
Seharusnya aku tidak ada di rumah ini. Mengapa aku bisa lupa? Oke.Tenang. Jadi, begini. Hari ini Dad pulang. Yeay! Dad pulang dari Italia. Bisnis. Hai itu Italia. Negara yang indah. Penuh seni. Walaupun para penduduk asli disana malah mengeluh tinggal disana karena terlalu banyak turis. Menurutku mereka tidak mensyukuri itu. Maksudku, hei disana banyak turis berarti banyak orang, bukan? Mana mungkin dari sebegitu banyak orang tidak ada yang tampan?
Aku agak takut keluar kamar. Mungkin saja Mom akan memarahiku karena kebiasaan burukku pada sabtu pagi. Bangun telat. Tapi mengapa Mom tidak membangunkanku saja. Yah, hari ini memang lumayan spesial. Karena hari ini juga hari ulang tahun pernikahan grandpa dan grandma –kakek dan nenekku yang tercinta (agak dipertanyakan sih rasa cintaku ini). Dan mereka akan merayakannya disini. Di rumahku yang bertingkat 2 dan tidak terlalu besar. Lebih mirip apartemen. Tapi aku bersyukur. Karena anggota keluarga kami hanya ada 4 dan rumah kami tidak terlalu besar. Bayangkan saja jika rumahku sangat besar, aku pasti akan membujuk Mom menemaniku tidur tiap malam –mungkin Dad dan Carter juga akan menjadi ‘penunggu’ malamku juga kalau Mom sudah bosan.
Aku mengecek kamar Carter. Dia seperti manusia yang tidak tidur selama berabad-abad.
“Bangun.” Teriakku pada kakak laki-lakiku yang kadang menjadi sangat malas.
Dia hanya mengerang dan kembali ke alam mimpinya. Kadang jika dia seperti itu, aku suka jahil mencabuti bulu kakinya. Lalu, kita akan berdebat. Tapi aku sedang tidak ingin berdebat dengannya, karena aku juga masih mengantuk sebenarnya. Tunggu. Tadi malam itu BENAR terjadi ya? Dan Jake...
Ponsel Carter bordering, tetapi dia tidak bangun juga. Aku iseng melihatnya.
Satu pesan baru dari: Branson
Kukira kau slh memilih perempuan, bung! C tdk bgitu cocok dgnmu.
Aku tidak peduli siapa pacarnya sekarang.
Ruang tamu dan ruang keluarga sudah rapih dihias. Karena mungkin malam ini seluruh keluargaku akan berkumpul untuk merayakan ulangtahun pernikahan granma dan grandpa. Aku sadar diri, aku segera mandi dan berdandan rapih sebelum Mom menceramahiku tentang perempuan kasar dan jorok yang susah mendapat suami. Agak ekstrim sih. Maksudku, se-jorok dan se-kasar itukah diriku?
Aku membantu Mom menyiapkan makanan. Menu: Kalkun
raksasa bakar spesial, Kue tart, dan berlusin-lusin steak sapi. Jelas saja di rumah, Mom tidak mungkin menyimpan bahan-bahan untuk membuat segudang makanan itu. Dia memintaku membeli beberapa bahan di Daily-Mart. Seorang diri. Carter bodoh. Dia hanya mengantarku tetapi tidak ikut berbelanja. Baiklah. Untunglah dia mau mengantarku. Cuaca di luar semakin tidak bersahabat sepertinya.
Aku kembali memikirkan Jake. Apakah itu semua hanya mimpi? Tapi sepertinya tidak, karena baru kuketahui tadi bahwa alasan Mom tidak membangunkanku tadi pagi. Dia bangga akhirnya anak perempuannya yang konyol ini pergi ke pesta. Bahkan tadi dia menanyakan bagaimana pesta itu berlangsung. Ha. Apakah dia sedang mengejekku? Pesta itu kacau –kecuali saat Austin mengajakku berbicara, tapi pada akhirnya, bibirku hanya bibir menjijikan baginya (tentu saja! Itu karena cewek sialan! Pesan yang aku dapat: Jangan memakai gaun yang terlalu panjang ke pesta atau kau akan menghancurkan momen berciuman seorang gadis konyol).
Di perjalanan, Carter agak gila. Dia bertanya-tanya dimana aku tadi malam.
“Kau kemana saja sih? Aku khawatir sekali.” Wow. Dia benar-benar kakak laki-laki yang perhatian dan manis.
“Kemana? Aku yang seharusnya menanyakan itu.” Aku gak kuat deh harus mengingat semua momen itu.
Akhirnya aku menceritakan semua itu ke Carter. Dan Carter membantu memberikan banyak tisu kepadaku, agar air mata, air liur dan ingusku tidak mengotori jok mobilnya. Aku masih gak habis pikir tentang kejadian semalam. Aku menyesal ikut ke pesta itu. Dan karena itu juga, aku jadi memikirkan Jake. Untuk apa aku memikirkannya? Oh ya tidak untuk apa-apa. Hanya karena aku konyol.
“Padahal aku ingin menunjukkan sebuah kejutan untukmu. Tapi aku tidak dapat menemukanmu kemarin.” Dia menunjukkan muka kecewanya. Dan, sudah sampai tujuan. Aku terlalu terburu-buru karena waktu telah menunjukkan pukul 3 –kebakaran rumah yang brengsek itu membuat kemacetan. Aku tidak sempat menanyakan apa kejutan itu.
HA.
Penyesalanku ke supermarket ini benar-benar hebat:
1. Saat aku memasuki toko, aku melihat Madison Hoore dan dia langsung mengejekku. “Hai silly –konyol. Sedang berbelanja ya?” Sebenernya aku gak yakin itu sebuah pertanyaan yang harus dijawab. Toko itu punya orangtuanya. Orangtuanya seorang pengusaha. Mereka mempunyai beberapa toko terkenal di Manhattan ini.
2. Aku berusaha mendebat Madison. “Hai buta. Tidak, aku tidak ingin belanja. Aku ingin spa! Mwahahaha.” Bonus ketawa setan. Aku tahu dia mengalami itu. Speechless –tidak tahu mau ngomong apa lagi. Tapi tiba-tiba seorang cowok –entah siapa aku-nggak –peduli– datang dan berciuman mesra dengannya. Itu menjijikan karena, hello?! Ini publik!
3. “Kalau pulang dari spa jangan lupa bawa cowok keren ya.” Dia membaca hatiku. Karena, ya, sebenarnya ada perasaan iri juga. Maksudku, hei aku 15 tahun dan kau belum pernah pacaran atau berciuman!
4. Aku salah menyapa orang.
5. Ternyata orang itu Jake. JAKE?!!
“Hai John.” Benar-benar menyesal aku mengatakan itu kepadanya. Jelas saja aku kira dia John. Dia memakai jaket kulit hitam yang sama dengan John –John mendapatkan banyak jaket kulit keren dalam berbagai warna, dia menawarkan satu kepadaku. Aku memilih yang oranye. Dan model jaket itu sangat langka dan keren. Terimakasih John.
“Hai Callie. Kau salah orang.” Dia sedang memilih beberapa kotak coklat saat aku mengatakan kalimat sialan itu –“Hai John.” Dan di samping Jake berdiri seorang bapak yang sepertinya bernama John karena dia langsung menengok ke arahku. Ha. Memalukan.
“Kau tidak perlu mengatakan itu. Aku tahu. Maaf.” Kataku singkat dan langsung beranjak pergi meninggalkannya.
“Maaf untuk apa? Konyol.” Ternyata dia mencoba berubah menjadi Madison. Aku-nggak-terima.
“Maaf karena aku salah menyapamu.” Aku menunjukkan muka jengkelku dan langsung benar-benar meninggalkannya.
Aku di bagian buah-buahan sekarang. Dan berusaha tidak memikirkannya. Jackson Dann. Nama itu lucu. Oh tidak. Itu nama yang konyol. Jelas saja nama yang paling bagus adalah Austin Philps. Tapi kenapa aku memikirkan Jake? Ah ya karena aku belum mendapatkan dimana buah melon berada dan dia menunjukannya dimana buah itu berada. Gila kan? Dia seperti bisa membaca pikiranku.
“Kau… Kau.... Kau baca pikiranku!”
“Oh ayolah Callie. Jangan begitu. Kau menjatuhkan ini.” Dia memberiku itu. Lembar daftar belanjaan. Ya ampun. Kau bodoh sekali Callie. Tapi…. Darimana dia tahu kalau yang sedang aku cari adalah buah melon?
“Tahu darimana kau kalau yang sedang aku cari adalah melon?” tanyaku dengan sinis. Seharusnya aku tidak seperti itu karena dialah yang menyelamatkanku tadi malam. Tapi… entah kenapa.
“Boleh kan aku lihat daftar belanjaanmu? Aku hanya menyocokkannya dengan barang yang ada di keranjangmu.” Dia tersenyum. Sebenarnya aku merasakan itu. Aku meleleh karena senyumannya. Oh pasti hormonku mengalami gangguan!
“Terimakasih. Urusi saja masalahmu dan pulanglah karena hari akan semakin buruk.” Sebenarnya ingin aku bonusi ketawa setan “Mwahaha”ku tapi aku takut nanti dia mengejekku –karena kau tahu lah, dia temannya Clyte Johnson, cowok paling jahil seantero sekolah.
“Aku tidak berpikir begitu. Aku kira akan sebaliknya.” ujarnya. Aku tidak memperhatikannya dan langsung berjalan ke arah kasir. Untung saja antriannya tidak panjang. Oh Tuhan. Jake itu sebenarnya mau apa sih? Mengapa dia mengikuti aku terus? Karena dia gila –jelas saja, buat apa dia mengikuti cewek konyol seperti aku ini?
APA?
SABTU?
OH TUHAN
AKU PELUPA
Seharusnya aku tidak ada di rumah ini. Mengapa aku bisa lupa? Oke.Tenang. Jadi, begini. Hari ini Dad pulang. Yeay! Dad pulang dari Italia. Bisnis. Hai itu Italia. Negara yang indah. Penuh seni. Walaupun para penduduk asli disana malah mengeluh tinggal disana karena terlalu banyak turis. Menurutku mereka tidak mensyukuri itu. Maksudku, hei disana banyak turis berarti banyak orang, bukan? Mana mungkin dari sebegitu banyak orang tidak ada yang tampan?
Aku agak takut keluar kamar. Mungkin saja Mom akan memarahiku karena kebiasaan burukku pada sabtu pagi. Bangun telat. Tapi mengapa Mom tidak membangunkanku saja. Yah, hari ini memang lumayan spesial. Karena hari ini juga hari ulang tahun pernikahan grandpa dan grandma –kakek dan nenekku yang tercinta (agak dipertanyakan sih rasa cintaku ini). Dan mereka akan merayakannya disini. Di rumahku yang bertingkat 2 dan tidak terlalu besar. Lebih mirip apartemen. Tapi aku bersyukur. Karena anggota keluarga kami hanya ada 4 dan rumah kami tidak terlalu besar. Bayangkan saja jika rumahku sangat besar, aku pasti akan membujuk Mom menemaniku tidur tiap malam –mungkin Dad dan Carter juga akan menjadi ‘penunggu’ malamku juga kalau Mom sudah bosan.
Aku mengecek kamar Carter. Dia seperti manusia yang tidak tidur selama berabad-abad.
“Bangun.” Teriakku pada kakak laki-lakiku yang kadang menjadi sangat malas.
Dia hanya mengerang dan kembali ke alam mimpinya. Kadang jika dia seperti itu, aku suka jahil mencabuti bulu kakinya. Lalu, kita akan berdebat. Tapi aku sedang tidak ingin berdebat dengannya, karena aku juga masih mengantuk sebenarnya. Tunggu. Tadi malam itu BENAR terjadi ya? Dan Jake...
Ponsel Carter bordering, tetapi dia tidak bangun juga. Aku iseng melihatnya.
Satu pesan baru dari: Branson
Kukira kau slh memilih perempuan, bung! C tdk bgitu cocok dgnmu.
Aku tidak peduli siapa pacarnya sekarang.
Ruang tamu dan ruang keluarga sudah rapih dihias. Karena mungkin malam ini seluruh keluargaku akan berkumpul untuk merayakan ulangtahun pernikahan granma dan grandpa. Aku sadar diri, aku segera mandi dan berdandan rapih sebelum Mom menceramahiku tentang perempuan kasar dan jorok yang susah mendapat suami. Agak ekstrim sih. Maksudku, se-jorok dan se-kasar itukah diriku?
Aku membantu Mom menyiapkan makanan. Menu: Kalkun
raksasa bakar spesial, Kue tart, dan berlusin-lusin steak sapi. Jelas saja di rumah, Mom tidak mungkin menyimpan bahan-bahan untuk membuat segudang makanan itu. Dia memintaku membeli beberapa bahan di Daily-Mart. Seorang diri. Carter bodoh. Dia hanya mengantarku tetapi tidak ikut berbelanja. Baiklah. Untunglah dia mau mengantarku. Cuaca di luar semakin tidak bersahabat sepertinya.
Aku kembali memikirkan Jake. Apakah itu semua hanya mimpi? Tapi sepertinya tidak, karena baru kuketahui tadi bahwa alasan Mom tidak membangunkanku tadi pagi. Dia bangga akhirnya anak perempuannya yang konyol ini pergi ke pesta. Bahkan tadi dia menanyakan bagaimana pesta itu berlangsung. Ha. Apakah dia sedang mengejekku? Pesta itu kacau –kecuali saat Austin mengajakku berbicara, tapi pada akhirnya, bibirku hanya bibir menjijikan baginya (tentu saja! Itu karena cewek sialan! Pesan yang aku dapat: Jangan memakai gaun yang terlalu panjang ke pesta atau kau akan menghancurkan momen berciuman seorang gadis konyol).
Di perjalanan, Carter agak gila. Dia bertanya-tanya dimana aku tadi malam.
“Kau kemana saja sih? Aku khawatir sekali.” Wow. Dia benar-benar kakak laki-laki yang perhatian dan manis.
“Kemana? Aku yang seharusnya menanyakan itu.” Aku gak kuat deh harus mengingat semua momen itu.
Akhirnya aku menceritakan semua itu ke Carter. Dan Carter membantu memberikan banyak tisu kepadaku, agar air mata, air liur dan ingusku tidak mengotori jok mobilnya. Aku masih gak habis pikir tentang kejadian semalam. Aku menyesal ikut ke pesta itu. Dan karena itu juga, aku jadi memikirkan Jake. Untuk apa aku memikirkannya? Oh ya tidak untuk apa-apa. Hanya karena aku konyol.
“Padahal aku ingin menunjukkan sebuah kejutan untukmu. Tapi aku tidak dapat menemukanmu kemarin.” Dia menunjukkan muka kecewanya. Dan, sudah sampai tujuan. Aku terlalu terburu-buru karena waktu telah menunjukkan pukul 3 –kebakaran rumah yang brengsek itu membuat kemacetan. Aku tidak sempat menanyakan apa kejutan itu.
HA.
Penyesalanku ke supermarket ini benar-benar hebat:
1. Saat aku memasuki toko, aku melihat Madison Hoore dan dia langsung mengejekku. “Hai silly –konyol. Sedang berbelanja ya?” Sebenernya aku gak yakin itu sebuah pertanyaan yang harus dijawab. Toko itu punya orangtuanya. Orangtuanya seorang pengusaha. Mereka mempunyai beberapa toko terkenal di Manhattan ini.
2. Aku berusaha mendebat Madison. “Hai buta. Tidak, aku tidak ingin belanja. Aku ingin spa! Mwahahaha.” Bonus ketawa setan. Aku tahu dia mengalami itu. Speechless –tidak tahu mau ngomong apa lagi. Tapi tiba-tiba seorang cowok –entah siapa aku-nggak –peduli– datang dan berciuman mesra dengannya. Itu menjijikan karena, hello?! Ini publik!
3. “Kalau pulang dari spa jangan lupa bawa cowok keren ya.” Dia membaca hatiku. Karena, ya, sebenarnya ada perasaan iri juga. Maksudku, hei aku 15 tahun dan kau belum pernah pacaran atau berciuman!
4. Aku salah menyapa orang.
5. Ternyata orang itu Jake. JAKE?!!
“Hai John.” Benar-benar menyesal aku mengatakan itu kepadanya. Jelas saja aku kira dia John. Dia memakai jaket kulit hitam yang sama dengan John –John mendapatkan banyak jaket kulit keren dalam berbagai warna, dia menawarkan satu kepadaku. Aku memilih yang oranye. Dan model jaket itu sangat langka dan keren. Terimakasih John.
“Hai Callie. Kau salah orang.” Dia sedang memilih beberapa kotak coklat saat aku mengatakan kalimat sialan itu –“Hai John.” Dan di samping Jake berdiri seorang bapak yang sepertinya bernama John karena dia langsung menengok ke arahku. Ha. Memalukan.
“Kau tidak perlu mengatakan itu. Aku tahu. Maaf.” Kataku singkat dan langsung beranjak pergi meninggalkannya.
“Maaf untuk apa? Konyol.” Ternyata dia mencoba berubah menjadi Madison. Aku-nggak-terima.
“Maaf karena aku salah menyapamu.” Aku menunjukkan muka jengkelku dan langsung benar-benar meninggalkannya.
Aku di bagian buah-buahan sekarang. Dan berusaha tidak memikirkannya. Jackson Dann. Nama itu lucu. Oh tidak. Itu nama yang konyol. Jelas saja nama yang paling bagus adalah Austin Philps. Tapi kenapa aku memikirkan Jake? Ah ya karena aku belum mendapatkan dimana buah melon berada dan dia menunjukannya dimana buah itu berada. Gila kan? Dia seperti bisa membaca pikiranku.
“Kau… Kau.... Kau baca pikiranku!”
“Oh ayolah Callie. Jangan begitu. Kau menjatuhkan ini.” Dia memberiku itu. Lembar daftar belanjaan. Ya ampun. Kau bodoh sekali Callie. Tapi…. Darimana dia tahu kalau yang sedang aku cari adalah buah melon?
“Tahu darimana kau kalau yang sedang aku cari adalah melon?” tanyaku dengan sinis. Seharusnya aku tidak seperti itu karena dialah yang menyelamatkanku tadi malam. Tapi… entah kenapa.
“Boleh kan aku lihat daftar belanjaanmu? Aku hanya menyocokkannya dengan barang yang ada di keranjangmu.” Dia tersenyum. Sebenarnya aku merasakan itu. Aku meleleh karena senyumannya. Oh pasti hormonku mengalami gangguan!
“Terimakasih. Urusi saja masalahmu dan pulanglah karena hari akan semakin buruk.” Sebenarnya ingin aku bonusi ketawa setan “Mwahaha”ku tapi aku takut nanti dia mengejekku –karena kau tahu lah, dia temannya Clyte Johnson, cowok paling jahil seantero sekolah.
“Aku tidak berpikir begitu. Aku kira akan sebaliknya.” ujarnya. Aku tidak memperhatikannya dan langsung berjalan ke arah kasir. Untung saja antriannya tidak panjang. Oh Tuhan. Jake itu sebenarnya mau apa sih? Mengapa dia mengikuti aku terus? Karena dia gila –jelas saja, buat apa dia mengikuti cewek konyol seperti aku ini?
No comments:
Post a Comment