Tuesday, April 17, 2012

Untitled (6)

Selesai berbelanja aku menunggu Carter di depan toko. Dia belum juga datang. Oh Tuhan. Cowok ini lagi.

“Mau ke seberang sebentar? Udara sangat dingin kurasa.” Aku tahu dia sangat manis. Aku tahu dia baik sekali ingin membantu cewek konyol yang malang ini tadi malam. Tapi entah kenapa, diriku tidak ingin menerimanya –kalau dia sangat manis sehingga aku ingin meninju diriku sendiri karena sangat tidak tahu bagaimana caranya berterimakasih.

“Umm,” Aku harus jawab apa? Aku bahkan tidak pernah ke café bersama cowok –kecuali carter, Dad dan sepupu-sepupuku yang gila dan konyol. Tapi kupikir lebih baik aku menerimanya karena aku memang terlalu cepat berbelanjanya dan kurasa Carter masih lama untuk menjemput dan.. yeah, udara disini cukup dingin –dan hujan mulai turun. Ha. “Yeah, Kurasa.”

Aku ke seberang bersamanya. Sedikit berlari karena hujan mulai turun perlahan seperti halnya aku akan membunuh diriku secara perlahan karena telah menerima ajakan orang yang tidak dikenal. Yeah, well, aku mengenalnya.Dia bahkan adalah partner lab ku saat di kelas 8. Tapi itu dulu. Dua tahun yang lalu. Dan dia datang tiba-tiba menyelamatkanku dari malam yang sangat hina dan sekarang kami bertemu di supermarket dan dia mengajakku ke café. Hei Callie, kau gila! Dia hanya mengajakmu karena dia iba melihatmu menunggu di pinggir jalan, kedinginan, dan tampak sangat konyol. Yah, mungkin dia berniat berbuat baik dengan mengajak gadis-gadis konyol di pinggir jalan untuk pergi makan ke café dan mentraktirnya. Ya! Kuharap dia mentraktirku –paling tidak coklat panas. Jujur saja, aku tidak ada uang lagi nih. Semoga dia berbuat yang manis-manis lagi.

“Kau mau pesan apa?” Tawarannya sangat menggoda karena jelas aku ingin sekali coklat panas.
Tapi aku mau bayar pakai apa?

“Tenang. Aku yang bayar.” Terimakasih banget deh Jake. Kau benar-benar penyelamat.
“Umm.. Aku pesan hot-chocholate. Terimakasih banyak.” Aku tersenyum dan dia tersenyum. TERSENYUM. HA. SENYUM. SENYUMAN JACKSON DANN.

Yah, aku yakin pasti tidak lebih manis dari senyuman Austin philps, tapi jujur, itu membuatku salah tingkah. Itu yang aku hindari selama ini.

Aku merasakan kejanggalan selama kami mengobrol di café. Aku tahu, beberapa orang disini adalah tamu pesta tadi malam. Dan mereka berbisik-bisik! Ha! Mereka bahkan menunjuk-nunjuk diriku. Ya Tuhan, seakan tidak ada banyak masalah saja di hidupku.

“Hei! Itu kan cewek bibir neraka! Hahahaha.” Itulah kalimat yang kudengar. Ha-ha lucu sekali jika bukan akulah orangnya. Ya ampun aku malu sekali. Bahkan aku tidak enak sama Jake –karena dia tertangkap basah sedang mengobrol dengan seorang cewek bibir neraka di café yang gak jelek ini. Rasanya aku mau mati saat itu juga. Gila aja, kan? Tapi Jake membelaku. Oke, sebenernya itu bukan pembelaan, dia hanya berbicara beberapa patah kata kepada mereka seperti “Jangan ganggu dia!” atau “Kau ini berpendidikan tidak sih?” (aku suka yang ini) dan langsung mengajakku pergi keluar. Baguslah. Artinya dia tidak ingin mempermalukanku lebih lama. Tuh kan. Jantungku selalu saja berdegup keras akhir-akhir ini. Apa jangan-jangan.. aku mengalami penyakit jantung?!

Oh tentu saja tidak. Dan akhir-akhir ini aku bersama Jake dan aku mengalami itu dan mungkin aku… oh lupakan saja. Hanya anggapan bodoh yang konyol. Ha. Carter telah datang menjemputku, tepat saat Jake mengajakku keluar café –awalnya berniat pergi ke lain café sebenarnya itu tidak penting sekali. Dan Jake membisikkanku sesuatu: “Jangan perdulikan ucapan bokong-bokong gila.” Itu membuat Carter bertanya-tanya mengapa aku senyum-senyum menahan tawa seperti orang gila di sepanjang perjalanan pulang.

Sampai rumah, aku mengetahui beberapa fakta yang membuatku benar-benar gila.

1. Carter ingin menunjukkan kejutannya segera

2. Kejutannya itu adalah pacar barunya

3. Pacar barunya itu adalah Chloe. CHLOE????!!!

Aku sebenernya masih gak terima deh. Bayangin! Chloe! Oke, aku akan mulai pelan-pelan. Jadi, dulu Chloe adalah sahabatku. Sayangnya, dulu. Sebenernya aku mau banget sahabatan lagi sama dia. Tapi ngak bisa. Dia nggak populer, dia terlalu kuper. Dia anak yang baik, asyik. Sungguh. Tapi aku nggak akan populer kalau sama dia. Dan aku beralih ke Morgan. Dan Morgan sekarang telah mencampakkan aku karena akulah sang perempuan bibir neraka mwahahahaha. Ha. Itu lucu kalau bukan aku sasarannya. Oke, jadi sekarang Chloe menjadi pacar kakakku dan Carter populer dan tunggu saja hari senin dan hari selanjutnya Chloe akan menggantika posisi Madison. Mungkin tidak. Hanya saja urutannya begini:

1. Madison
2. Morgan
3. Chloe

Itu untuk perempuannya. Ha. Bisa saja aku ada diurutan ke-empat karena hal-hal tentang bibir neraka itu. Sejak pesta itu aku mendapat banyak sekali masalah.

1. Perempuan bibir neraka akan sangat populer. Ha.

2. Jake gila yang well, sebenernya aku sedikit menyukainya. Umm, tidak terlalu sih tapi umm lumayan juga sih tapi ummm...

3. Chloe adalah pacar Carter.

4. Morgan menjauhiku.

5. Madison sangat menyebalkan

6. Dengan siapa aku akan berteman?!

Aku tidak mengurutkannya dengan benar, ya? Ah aku nggak peduli deh sekarang. Oke, sebenarnya aku peduli tetapi berusaha tidak peduli karena itu akan terasa lebih ringan jika kau berusaha tidak terlalu peduli. Ah ya! Ternyata pergi ke pesta bukan ide yang baik sama sekali. Menyeramkan, menurutku.

Rasanya aku nggak mau kemana-mana. Hanya ingin meringkuk di dalam selimut kamar Carter –karena kamarku sekarang sudah dijarahi oleh sepupu-sepupu perempuanku. Ya, saudara-saudaraku sudah datang semua. Pesta sudah dimulai sejak tadi tetapi aku tidak mau beranjak. Aku bilang ke Mom, kalau aku tidak enak badan dan Mom mengira itu karena dia menyuruhku berbelanja. Ampun deh Mom, kau ini. Bukan karena itu sih tapi lebih banyak karena Chloe dan Carter. Aku merasa menyesal dan sedih sekali telah mencampakkan Chloe, sebenernya aku merindukannya. Dia benar-benar sahabat yang baik dibandingkan Morgan. Aduh semuanya sudah terlambat Callie. Kau jahat. Kau akan segera merasakan karmanya sebentar lagi. Sebenernya sih bukan karena itu juga aku menjadi sangat bodoh meringkuk di tempat tidur Carter yang aku nggak yakin akan kebersihannya, tetapi banyak masalah. Terlalu banyak dan terlalu cepat. Oh bahkan aku belum mengerjakan PR Biologiku padahal dikumpulkan hari senin dan PRnya adalah menulis essai tentang perkembangan Monera.

Mom datang ke kamar dengan membawakanku makan malam dan mengecek suhu tubuhku. Aku sangat lemas. Kepalaku pusing, perutku mual dan suhu tubuhku meningkat. Aku kira, aku tidak akan masuk sekolah pada hari senin. Kondisiku tidak memungkinkan. Aku butuh istirahat. Itu lebih baik sih. Maksudku, menunda satu hari untuk mendengarkan ejekan.

“Mom, aku rasa, hari senin aku bolos saja ya.” Aku mohon Mom, please. Apakah kau tega melihat anakmu dengan kondisi seperti ini harus masuk sekolah di hari senin?

Dan, yeah, Mom memang tega. Dia tidak mengijinkanku bolos. Tidak sama sekali.
“Callie, kau ini kenapa? Tidak biasanya kau meminta bolos,” Ujarnya sambil mengelus rambutku. Yeah, rambut coklat sama sekali gak aku harapkan. Aku lebih suka berambut pirang atau merah atau hitam daripada coklat seperti tikus ini. “Kau sama sekali tidak sakit. Suhu tubuhmu normal kok.”

“Aku yakin aku sakit Mom. Aku lemas sekali.” Aku membuat suaraku selemas mungkin dan ditambahkan beberapa batukan kecil yang aku buat-buat agar tampak lebih meyakinkan.

“Kau hanya membuat-buatnya. Demi Tuhan, ada apa sih di hari senin? Ceritakanlah sayang.” Matanya yang biru. Sebiru laut. Benar-benar biru indah. Itu yang aku harapkan. Bukan mata coklat yang biasa-biasa-saja ini. Mom mempunyai tatapan mata yang lembut tapi tajam. Susah dijelaskan. Mata Mom akan menyihir kita menurutinya dan jika kita tidak menurutinya atau berbohong padanya –Mom hampir tahu setiap kali aku dan Carter berbohong– mata itu akan seolah-olah berubah dari mata biru yang lembut menjadi mata merah yang tajam. Tidak benar-benar. Hanya seolah-olah.

Aku hampir saja ingin menceritakan semuanya pada Mom. Untung saja Dad masuk untuk mengecek kondisiku. Mata Dad coklat dan rambutnya berwarna coklat juga. Benar-benar keluarga coklat. Aku benci itu. Sebenarnya tubuh Dad pada masa mudanya keren juga. Lengannya berotot dan tubuhnya menunjukkan kegagahan dan kewibawaan. Tapi seiring umurnya bertambah tua, otot-otot itu menghilang. Kasian Dad.

“Silahkan saja nak jika kau tidak kuat masuk pada hari senin. Kondisimu sangat memprihatinkan.” Ucap Dad. Yeay! Itu lebih baik! Jujur deh, aku masih belum siap menerima semua masalah di hari senin kalau aku masuk, bahkan aku tidak yakin masuk sekolah pada hari selasa juga pilihan yang baik.

“Robert! Jangan manjakan dia! Dia baik-baik saja. Dia akan masuk sekolah pada hari senin.” Mom tetap memaksaku masuk pada hari senin. Dad tetap membelaku, Mom terus menekannya. Dad kalah, Mom menang, dan aku akan tetap masuk pada hari senin. Sial. Aku ulangi, s-i-a-l.

“Kalau memang ada masalah, hadapilah. Jangan sembunyi karena itu tidak akan menyelesaikan masalah,” Ujarnya. “Aku tidak bisa membantumu banyak, dirimulah yang tau sebenarnya. Aku mencintaimu.” Mom kau sangat manis deh, tapi tolong ya bolehkan aku bolos di hari senin? Please? Oke. Aku tahu itu akan sia-sia.

No comments:

Post a Comment