Seseorang tolong bunuh aku dong. Ih aku mau mati saja deh. Hari minggu aku habiskan dengan membusuk
di tempat tidur, merenungkan –lebih tepatnya, meratapi– apa yang
terjadi pada hari senin. Hari ini. Bahkan aku hampir tidak bisa tidur
semalaman. Lalu, pada suatu menit aku terlelap, hanya beberapa saat
saja sampai aku kembali terjaga dengan berteriak keras sekali dan
kudapati sekujur tubuhku penuh dengan butiran-butiran keringat.
Aku bermimpi buruk sekali. Aku memimpikan diriku pergi ke sekolah tanpa sehelai benang pun melekat pada tubuhku. Aku malu sekali. Maksudku, apa kau tidak malu jika kau ke sekolah tanpa busana seidkit pun? Mungkin tidak jika kau Madison Hoore. Oke, aku tahu itu hanya mimpi, tapi semua itu seperti nyata. Semua mengelilingiku dan bahkan para guru pun ikut menertawaiku dan mengatakan hal-hal yang sepatutnya-tidak-keluar-dari-mulut-guru kepadaku. Dan diantara orang-orang itu, aku melihat Austin dengan memeluk 2 perempuan disampingnya, yaitu Madison dan Morgan. Mereka memberiku tatapan yang paling menyakitkan di dunia. Dan ada Chloe. Dia memeluk Carter. Oh lebih tepatnya Carter yang memeluknya, dan mereka berdua memberiku pandangan yang sangat hina. Oh ya dan mereka juga meludah ke arahku.
Aku masih berusaha menutupi tubuhku, tetapi tidak bisa. Disana juga ada Clyte Johnson dan kawanannya yang melecehkanku secara besar-besaran tetapi anehnya, aku tidak melihat Jake disitu. Aku berusaha kabur dari kerumunan itu. Aku berhasil melarikan diri tetapi aku malah terpeleset dan jatuh ke jurang yang tidak berujung. Dan aku terbangun. Mimpi yang sangat buruk.
Dan mimpi itu hanya membuatku semakin berharap Mom megijinkan aku bolos sekolah hari ini. Aku masih meringkuk di tempat tidur dengan buku dan kertas-kertas biologi berserakan di lantai –aku tetap mengerjakan PR tentang perkembangan Monera itu untuk berjaga-jaga jika Mom tidak mau membuka hatinya untukku.
“Callie! Mau sampai jam berapa kamu disitu! Lihat! Sekarang sudah pukul 08.00!” Omelnya padaku. Aku tidak menjawab Mom dan tetap bangkit membereskan kertas-kertas Moneraku dengan lesuh sekali sehingga membuat orang yang melihatnya ingin mati saja –kuharap dengan begitu Mom megijinkanku bolos. Mom membentaku. Ampun deh Mom, pengertian sedikit dong sama anak perempuanmu yang belum pernah punya pacar.
“Demi Tuhan Call, tidak ada cowok yang mau denganmu bila kau bertingkah menjijikan seperti itu,” Dan seakan dia membaca pikiranku. Ha. Dunia ini udah gila ya? “Aku tunggu kau untuk sarapan dalam 15 menit.” Iya deh Mom, kau menang.
Aku menyiapkan tasku dan segera mandi. Kami memakai seragam di sekolah. Untung deh, pikirku. Kalau tidak, pasti akan ada masalah seperti “Bajumu murahan, wahai anak kampung tingkat dewa!” Yah tidak masalah sih denganku, aku mempunyai baju-baju yang tidak begitu buruk dan yeah bisa dibilang lumayan. Mom mempunyai butik kecil di tengah kota. Sedangkan Dad adalah pemilik salah satu perusahaan tekstil kecil di Italia. Itu yang menyebabkan Dad sering berkunjung ke sana, untuk bisnis.
Kami memakai seragam setiap hari kecuali hari kamis –well, hari itu kami memakai yang bebas. Seragam kami adalah atasan kemeja tangan pendek berwarna putih dan, bagi yang cewek, memakai rok selutut –walaupun para pemandu sorak biasa memakai rok 5 cm diatas lutut– berwarna hitam. Sangat kalsik ya? Terserah deh. Aku udah nggak peduli sama penampilan. Mau di apakan pun, tetap saja, nggak bakal sekeren Morgan.
“Callisa Nora Hylte. Kau terlambat 2 menit 39 detik,” Hei ini– “Kau akan terlambat bus jika tidak segera makan sarapanmu.” Ini gila! Apa? Bus sekolah? Pagi-pagi? Aku harus naik itu–
“Aku tidak bisa mengantarmu karena akan ada kelas yoga pagi ini di taman seberang.” Ucap Mom dengan sangat cepat sambil merapihkan dapur. Aku makan sarapanku dengan terburu-buru –karena tatapan Mom menyuruhku untuk begitu.
“Tapi– “ Tuh kan. Ada masalah apa sih dengan suaraku sehingga membuat orang-orang dengan gampangnya memotong pembicaraanku.
“Ah ya! Aku lupa satu hal. Carter sudah berangkat sejak matahari belum terbit untuk berlatih fotografi dan basket. Itu sebabnya kau harus naik bus sekolah,”Ujarnya. “Setelah yoga aku akan mengunjungi beberapa kerabatku di rumah sakit. Aku akan ada di rumah sampai pukul 2, selanjutnya aka akan berada di butik– ”
“Bagaimana dengan Dad?” Tanyaku di sela-sela acara kunyah-mengunyahku itu. Akhirnya aku memotong segala ocehan Mom. Aku paling malas deh kalau harus berangkat sekolah naik bus, kalau pulangnya sih nggak masalah.
“Oh ya! Dia ada di kamar. Maksudku, kamar mandi,” Lanjutnya. “Dia terkena diare karena terlalu banyak makan yang pedas kemarin. Aku tidak yakin dia bisa mengantarmu.”
“Aku juga.” Kataku dengan mulut penuh sandwich daging sapi.
“Dia bahkan akan tidak masuk kerja sepertinya.” Ujarnya.
“Aku bisa mengantarnya.” Suara Dad. Ya ampun.
“Robert! Kau ingin mempermalukan anak kita atau apa sih? Oh lihat kau bahkan harus balik ke WC lagi.” Cibir Mom.
“Tapi kasihan anak itu– “ Dad berusaha membelaku. Dad yang patut dikasihani, dia tidak handal dalam berdebat –dengan Mom.
“Kau terlalu memanjakan dia! Biarlah di– “
“Fine!” Teriakku. “Aku akan naik bus!” Aku mengambil tas selempangku –berusaha tidak menghiraukan mereka– dan langsung berjalan cepat ke halte bus yang berada 100 meter dari rumahku. Tidak jauh. Aku ketinggalan bus yang satu ini dan harus menunggu 10 menit lagi untuk itu. Menunggu. Hal yang terakhir kali aku ingin lakukan di dunia.
Aku menaiki bus dan memilih duduk di belakang –well, itulah tempat yang tersisa. Semua anak bercanda ria di dalam situ. Tidak satupun yang aku kenal. Kebanyakan anak SMP. Aku benar-benar murung. Untuk membalas senyuman seorang gadis yang –kelihatannya– baik saja aku tidak bisa. Perutku rasanya mau memuntahkan semua sarapan –sandwich special Mom enak juga ya– tadi jika memikirkan apa yang nanti akan terjadi di sekolah. Kepalaku pusing sekali karena yeah, jelas, aku kurang tidur. Nggak tahu deh wujudku sekarang kayak gimana. Apalagi rambutku. Aku hanya menyisirnya dengan jari dan nggak heran jika sekarang rambutku udah kayak Medusa.
Inilah daftar masalah yang 20 menit lagi akan segera terjadi. Sudah dipastikan.
1. Aku akan terlambat karena sekolahku masuk 15 menit lebih awal daripada sekolah lain disekitarya.
2. Aku akan kena hukuman. Dan Clyte Johnson akan mengejekku seperti biasa.
3. Belum cukup dengan Clyte pasti akan ditambah dengan Madison.
4. Orang-orang yang berada di pesta Austin pada jumat malam itu akan mengejekku. Salah satu ejekannya pasti ‘Perempuan bibir neraka’. Itu yang favorit.
5. Dan yang tidak tahu pun akan segera tahu karena gosip akan sangat cepat menyebar di sekolahku.
6. Morgan akan menjauhiku karena mengetahui aku menjadi bahan ejekan bulan ini –dan mungkin seterusnya jika belum ada pengganti yang lebih parah dariku. Dia tentu tidak mau berdekatan dengan orang konyol seperti aku kan?
7. Tidak ada setitik pun kesempatanku untuk berdekatan dengan Austin. Ha. Riwayatku sih sudah tamat sama dia.
8. Chloe, mantan sahabatku akan segera populer dan aku sangat bersalah karena telah menjauhinya. Dia akan balik tertawa “Mwahaha” kepadaku.
9. Aku merindukan Chloe menjadi sahabatku. Aku mengakuinya. Sangat. Aku menyesal. Sungguh. Aku bahkan tidak ingin lagi jadi populer. Lagipula, sudah tidak ada kesempatanku menjadi anak yang populer kayak para pemandu sorak (minus menjadi perempuan-perebut-hati-lelaki oh bahkan mereka lebih pantas disebut wanita jalang.)
10. Bagaimana dengan… Jake? Dia berkemungkinan besar akan mengatakan ini ke setiap orang: “Aku yang menyelamatkan cewek konyol yang gila dan belepotan cream itu. Siapa? Si bibir neraka itu loh. Dia berharap aku mengantarnya ke rumah saat malam itu. Dia pikir aku gila? Jelas dia yang gila! Hahahaha.”
Tapi, sebenarnya, aku tidak yakin pada masalah yang nomor 10. Entah kenapa aku berpikir, Jake baik padaku dengan tulus hati. Aku tahu aku harus lebih waspada, tapi.. Aku rasa dia sangat tulus membantuku malam itu. Bahkan pada hari sabtu malam dimana pesta BBQ diadakan dirumahku untuk memperigati hari jadi nenek dan kakekku dan aku terkulai di tempat tidur Carter, dia menyempatkan diri untuk menghubungiku –itu membuat “penyakit jantung”ku kambuh lagi, rasanya jantungku berdegup terlalu cepat dan pipiku merona merah (itu membuat Carter bertanya-tanya karena sebelumnya aku tidak pernah seperti itu kecuali kalau tentang Austin). Dia menanyakan keadaanku dan kami berbincang banyak hal. Tidak banyak sih. Hanya tentang Monera. Dia mengoceh, aku mencatat.
Bus berhenti tepat di halte depan sekolahku. Aku harus segera turun. Tapi aku malah berpikir bagaimana kalau aku bolos saja? Aku main di taman yang sejauh mungkin jadi tidak ada orang yang mengenaliku dan mengejekku, kan? Ah tapi bagaimana jika sekolah menghubungi Mom dan aku ketahuan bolos? Mom akan marah… ah makasih deh. Kayak masalahku dikit saja.
Tiba-tiba aku teringat kata-kata Mom. ‘Kalau memang ada masalah, hadapilah. Jangan sembunyi, karena itu tidak akan menyelesaikan masalah’ Aku tidak sembunyi kok. Hanya… menghindar. Mungkin kau berpikir itu sama tapi pikiranku beda. Atau pikiranku yang buruk? Ah pasti pikiranku yang buruk karena kakiku sudah menginjak area dalam sekolah. Tidak bisa keluar untuk bolos. Aku sudah berada di dalam sekolah dan masalah nomor 1 benar terjadi.
Oke. Tarik napas, keluarkan perlahan. Fiuh… Aku ngak biasanya terlambat dan jarang sekali murid yang terlambat. Kau tahu? Kalau ada murid yang terlambat, dia akan mendapatkan hukuman dan menjadi bahan bincangan para guru. Dan ada tambahan. Dianggap sebagai teledor oleh warga sekolah. Ha. Well, tapi entah kenapa, Madison nggak pernah dapat hukuman yang kayak gitu. Nggak adil deh!
Halaman sekolah kosong. Oh jam berapa ini? Sebegitu telatnya diriku? Lalu, hukuman apa yang aku dapat? Ya Tuhan rasanya aku mau pulang saja deh. Aku menjaga mataku agar tidak mulai basah. Cengeng banget sih aku. Benci deh.
Aku melangkah di koridor. Sunyi mencekam. Membuat setiap orang yang lewat ingin buang air. Maksudku, itu membuat bulu kudukku merinding. Kelas pertamaku adalah Matematika. Aku ketuk pintu. Tidak ada jawaban. Aku intip, tidak ada siapa pun di dalam. Apa aku salah memasuki kelas? Atau ada yang mengerjaiku? Oh itu hanya pikiran burukku saja kok. Saat aku masuk kelas, nggak ada kejadian apapun. Yang ada hanya tulisan “KE KANTIN!” di papan tulis. Apa maksudnya sih? Apa kita akan belajar di kantin. Belajar apa di kantin yang berhubungan dengan matematika? Gila banget deh. Atau mereka sudah bosen mencium aroma ruang kelas matematika yang seperti keju basi lalu ke kantin untuk mencium aroma ayam panggang?
Tapi, setahuku Mrs. Krem tidak mempermasalahkan wangi-wangian karena dia sudah tua sekali dan kami pikir indra penciumannya udah nggak oke lagi deh –dia bahkan tidak mencium aroma keju basi di ruang kelasnya.
Aku bermimpi buruk sekali. Aku memimpikan diriku pergi ke sekolah tanpa sehelai benang pun melekat pada tubuhku. Aku malu sekali. Maksudku, apa kau tidak malu jika kau ke sekolah tanpa busana seidkit pun? Mungkin tidak jika kau Madison Hoore. Oke, aku tahu itu hanya mimpi, tapi semua itu seperti nyata. Semua mengelilingiku dan bahkan para guru pun ikut menertawaiku dan mengatakan hal-hal yang sepatutnya-tidak-keluar-dari-mulut-guru kepadaku. Dan diantara orang-orang itu, aku melihat Austin dengan memeluk 2 perempuan disampingnya, yaitu Madison dan Morgan. Mereka memberiku tatapan yang paling menyakitkan di dunia. Dan ada Chloe. Dia memeluk Carter. Oh lebih tepatnya Carter yang memeluknya, dan mereka berdua memberiku pandangan yang sangat hina. Oh ya dan mereka juga meludah ke arahku.
Aku masih berusaha menutupi tubuhku, tetapi tidak bisa. Disana juga ada Clyte Johnson dan kawanannya yang melecehkanku secara besar-besaran tetapi anehnya, aku tidak melihat Jake disitu. Aku berusaha kabur dari kerumunan itu. Aku berhasil melarikan diri tetapi aku malah terpeleset dan jatuh ke jurang yang tidak berujung. Dan aku terbangun. Mimpi yang sangat buruk.
Dan mimpi itu hanya membuatku semakin berharap Mom megijinkan aku bolos sekolah hari ini. Aku masih meringkuk di tempat tidur dengan buku dan kertas-kertas biologi berserakan di lantai –aku tetap mengerjakan PR tentang perkembangan Monera itu untuk berjaga-jaga jika Mom tidak mau membuka hatinya untukku.
“Callie! Mau sampai jam berapa kamu disitu! Lihat! Sekarang sudah pukul 08.00!” Omelnya padaku. Aku tidak menjawab Mom dan tetap bangkit membereskan kertas-kertas Moneraku dengan lesuh sekali sehingga membuat orang yang melihatnya ingin mati saja –kuharap dengan begitu Mom megijinkanku bolos. Mom membentaku. Ampun deh Mom, pengertian sedikit dong sama anak perempuanmu yang belum pernah punya pacar.
“Demi Tuhan Call, tidak ada cowok yang mau denganmu bila kau bertingkah menjijikan seperti itu,” Dan seakan dia membaca pikiranku. Ha. Dunia ini udah gila ya? “Aku tunggu kau untuk sarapan dalam 15 menit.” Iya deh Mom, kau menang.
Aku menyiapkan tasku dan segera mandi. Kami memakai seragam di sekolah. Untung deh, pikirku. Kalau tidak, pasti akan ada masalah seperti “Bajumu murahan, wahai anak kampung tingkat dewa!” Yah tidak masalah sih denganku, aku mempunyai baju-baju yang tidak begitu buruk dan yeah bisa dibilang lumayan. Mom mempunyai butik kecil di tengah kota. Sedangkan Dad adalah pemilik salah satu perusahaan tekstil kecil di Italia. Itu yang menyebabkan Dad sering berkunjung ke sana, untuk bisnis.
Kami memakai seragam setiap hari kecuali hari kamis –well, hari itu kami memakai yang bebas. Seragam kami adalah atasan kemeja tangan pendek berwarna putih dan, bagi yang cewek, memakai rok selutut –walaupun para pemandu sorak biasa memakai rok 5 cm diatas lutut– berwarna hitam. Sangat kalsik ya? Terserah deh. Aku udah nggak peduli sama penampilan. Mau di apakan pun, tetap saja, nggak bakal sekeren Morgan.
“Callisa Nora Hylte. Kau terlambat 2 menit 39 detik,” Hei ini– “Kau akan terlambat bus jika tidak segera makan sarapanmu.” Ini gila! Apa? Bus sekolah? Pagi-pagi? Aku harus naik itu–
“Aku tidak bisa mengantarmu karena akan ada kelas yoga pagi ini di taman seberang.” Ucap Mom dengan sangat cepat sambil merapihkan dapur. Aku makan sarapanku dengan terburu-buru –karena tatapan Mom menyuruhku untuk begitu.
“Tapi– “ Tuh kan. Ada masalah apa sih dengan suaraku sehingga membuat orang-orang dengan gampangnya memotong pembicaraanku.
“Ah ya! Aku lupa satu hal. Carter sudah berangkat sejak matahari belum terbit untuk berlatih fotografi dan basket. Itu sebabnya kau harus naik bus sekolah,”Ujarnya. “Setelah yoga aku akan mengunjungi beberapa kerabatku di rumah sakit. Aku akan ada di rumah sampai pukul 2, selanjutnya aka akan berada di butik– ”
“Bagaimana dengan Dad?” Tanyaku di sela-sela acara kunyah-mengunyahku itu. Akhirnya aku memotong segala ocehan Mom. Aku paling malas deh kalau harus berangkat sekolah naik bus, kalau pulangnya sih nggak masalah.
“Oh ya! Dia ada di kamar. Maksudku, kamar mandi,” Lanjutnya. “Dia terkena diare karena terlalu banyak makan yang pedas kemarin. Aku tidak yakin dia bisa mengantarmu.”
“Aku juga.” Kataku dengan mulut penuh sandwich daging sapi.
“Dia bahkan akan tidak masuk kerja sepertinya.” Ujarnya.
“Aku bisa mengantarnya.” Suara Dad. Ya ampun.
“Robert! Kau ingin mempermalukan anak kita atau apa sih? Oh lihat kau bahkan harus balik ke WC lagi.” Cibir Mom.
“Tapi kasihan anak itu– “ Dad berusaha membelaku. Dad yang patut dikasihani, dia tidak handal dalam berdebat –dengan Mom.
“Kau terlalu memanjakan dia! Biarlah di– “
“Fine!” Teriakku. “Aku akan naik bus!” Aku mengambil tas selempangku –berusaha tidak menghiraukan mereka– dan langsung berjalan cepat ke halte bus yang berada 100 meter dari rumahku. Tidak jauh. Aku ketinggalan bus yang satu ini dan harus menunggu 10 menit lagi untuk itu. Menunggu. Hal yang terakhir kali aku ingin lakukan di dunia.
Aku menaiki bus dan memilih duduk di belakang –well, itulah tempat yang tersisa. Semua anak bercanda ria di dalam situ. Tidak satupun yang aku kenal. Kebanyakan anak SMP. Aku benar-benar murung. Untuk membalas senyuman seorang gadis yang –kelihatannya– baik saja aku tidak bisa. Perutku rasanya mau memuntahkan semua sarapan –sandwich special Mom enak juga ya– tadi jika memikirkan apa yang nanti akan terjadi di sekolah. Kepalaku pusing sekali karena yeah, jelas, aku kurang tidur. Nggak tahu deh wujudku sekarang kayak gimana. Apalagi rambutku. Aku hanya menyisirnya dengan jari dan nggak heran jika sekarang rambutku udah kayak Medusa.
Inilah daftar masalah yang 20 menit lagi akan segera terjadi. Sudah dipastikan.
1. Aku akan terlambat karena sekolahku masuk 15 menit lebih awal daripada sekolah lain disekitarya.
2. Aku akan kena hukuman. Dan Clyte Johnson akan mengejekku seperti biasa.
3. Belum cukup dengan Clyte pasti akan ditambah dengan Madison.
4. Orang-orang yang berada di pesta Austin pada jumat malam itu akan mengejekku. Salah satu ejekannya pasti ‘Perempuan bibir neraka’. Itu yang favorit.
5. Dan yang tidak tahu pun akan segera tahu karena gosip akan sangat cepat menyebar di sekolahku.
6. Morgan akan menjauhiku karena mengetahui aku menjadi bahan ejekan bulan ini –dan mungkin seterusnya jika belum ada pengganti yang lebih parah dariku. Dia tentu tidak mau berdekatan dengan orang konyol seperti aku kan?
7. Tidak ada setitik pun kesempatanku untuk berdekatan dengan Austin. Ha. Riwayatku sih sudah tamat sama dia.
8. Chloe, mantan sahabatku akan segera populer dan aku sangat bersalah karena telah menjauhinya. Dia akan balik tertawa “Mwahaha” kepadaku.
9. Aku merindukan Chloe menjadi sahabatku. Aku mengakuinya. Sangat. Aku menyesal. Sungguh. Aku bahkan tidak ingin lagi jadi populer. Lagipula, sudah tidak ada kesempatanku menjadi anak yang populer kayak para pemandu sorak (minus menjadi perempuan-perebut-hati-lelaki oh bahkan mereka lebih pantas disebut wanita jalang.)
10. Bagaimana dengan… Jake? Dia berkemungkinan besar akan mengatakan ini ke setiap orang: “Aku yang menyelamatkan cewek konyol yang gila dan belepotan cream itu. Siapa? Si bibir neraka itu loh. Dia berharap aku mengantarnya ke rumah saat malam itu. Dia pikir aku gila? Jelas dia yang gila! Hahahaha.”
Tapi, sebenarnya, aku tidak yakin pada masalah yang nomor 10. Entah kenapa aku berpikir, Jake baik padaku dengan tulus hati. Aku tahu aku harus lebih waspada, tapi.. Aku rasa dia sangat tulus membantuku malam itu. Bahkan pada hari sabtu malam dimana pesta BBQ diadakan dirumahku untuk memperigati hari jadi nenek dan kakekku dan aku terkulai di tempat tidur Carter, dia menyempatkan diri untuk menghubungiku –itu membuat “penyakit jantung”ku kambuh lagi, rasanya jantungku berdegup terlalu cepat dan pipiku merona merah (itu membuat Carter bertanya-tanya karena sebelumnya aku tidak pernah seperti itu kecuali kalau tentang Austin). Dia menanyakan keadaanku dan kami berbincang banyak hal. Tidak banyak sih. Hanya tentang Monera. Dia mengoceh, aku mencatat.
Bus berhenti tepat di halte depan sekolahku. Aku harus segera turun. Tapi aku malah berpikir bagaimana kalau aku bolos saja? Aku main di taman yang sejauh mungkin jadi tidak ada orang yang mengenaliku dan mengejekku, kan? Ah tapi bagaimana jika sekolah menghubungi Mom dan aku ketahuan bolos? Mom akan marah… ah makasih deh. Kayak masalahku dikit saja.
Tiba-tiba aku teringat kata-kata Mom. ‘Kalau memang ada masalah, hadapilah. Jangan sembunyi, karena itu tidak akan menyelesaikan masalah’ Aku tidak sembunyi kok. Hanya… menghindar. Mungkin kau berpikir itu sama tapi pikiranku beda. Atau pikiranku yang buruk? Ah pasti pikiranku yang buruk karena kakiku sudah menginjak area dalam sekolah. Tidak bisa keluar untuk bolos. Aku sudah berada di dalam sekolah dan masalah nomor 1 benar terjadi.
Oke. Tarik napas, keluarkan perlahan. Fiuh… Aku ngak biasanya terlambat dan jarang sekali murid yang terlambat. Kau tahu? Kalau ada murid yang terlambat, dia akan mendapatkan hukuman dan menjadi bahan bincangan para guru. Dan ada tambahan. Dianggap sebagai teledor oleh warga sekolah. Ha. Well, tapi entah kenapa, Madison nggak pernah dapat hukuman yang kayak gitu. Nggak adil deh!
Halaman sekolah kosong. Oh jam berapa ini? Sebegitu telatnya diriku? Lalu, hukuman apa yang aku dapat? Ya Tuhan rasanya aku mau pulang saja deh. Aku menjaga mataku agar tidak mulai basah. Cengeng banget sih aku. Benci deh.
Aku melangkah di koridor. Sunyi mencekam. Membuat setiap orang yang lewat ingin buang air. Maksudku, itu membuat bulu kudukku merinding. Kelas pertamaku adalah Matematika. Aku ketuk pintu. Tidak ada jawaban. Aku intip, tidak ada siapa pun di dalam. Apa aku salah memasuki kelas? Atau ada yang mengerjaiku? Oh itu hanya pikiran burukku saja kok. Saat aku masuk kelas, nggak ada kejadian apapun. Yang ada hanya tulisan “KE KANTIN!” di papan tulis. Apa maksudnya sih? Apa kita akan belajar di kantin. Belajar apa di kantin yang berhubungan dengan matematika? Gila banget deh. Atau mereka sudah bosen mencium aroma ruang kelas matematika yang seperti keju basi lalu ke kantin untuk mencium aroma ayam panggang?
Tapi, setahuku Mrs. Krem tidak mempermasalahkan wangi-wangian karena dia sudah tua sekali dan kami pikir indra penciumannya udah nggak oke lagi deh –dia bahkan tidak mencium aroma keju basi di ruang kelasnya.
No comments:
Post a Comment