Aku memutuskan untuk ke kantin. Kantin berada di bagian belakang
sekolah. Sangat luas sehingga kau bisa mengadakan pesta kematian Mr.
Jody disitu. Dia adalah guru
sejarah yang paling kejam sejagat raya –well, kami pikir. Dan perginya dia dari sekolah ini, sangat diharapkan. Walaupun mereka para pemandu sorak sangat menggemari Mr. Jody –karena dia yang selalu memuji hasil tarian gila pemandu sorak secara berlebihan. Hah, kayak aku peduli aja sama pemandu sorak. Mr. Jody pernah mempermalukan aku di kelasnya. Aku memakai seragamku dengan acak-acakan –saat itu aku belum sempat merapihkannya karena aku baru saja berganti setelah olahraga dan aku dikejar serangga semacam lebah. Dia bilang aku bodoh dan tidak sepatutnya masuk ke sekolah ini –pemandu sorak tidak pernah diomeli memkai seragam yang kesempitan atau sewaktu-waktu roknya terangkat “tidak sengaja” sampai 5 cm di atas lutut (bahkan mungkin akan lebih).
Aku mulai mendengar kebisingan. Itu berasal dari kantin. Aku memang harus benar-benar kesana.Tapi jujur saja deh, banyak kejanggalan yang tejadi selama aku berjalan di koridor. Tidak ada murid ataupun guru yang berkeliaran. Oke, sebenernya ada. Satu. Abby Cheer. Dia berlari sekuat-kuatnya dari arah kantin, dengan muka tegang dan keringat di sekujur tubuhnya. Tidak terlalu menyenangkan, pikirku. Langkahku mulai mendekati kantin dan bising itupun semakin redup dan lama-kelamaan hilang. Aku jadi semakin bingung –dan jujur, merinding. Sekarang aku benar-benar memasuki kantin dan… kosong?
“AAAA!!!.” Teriakku karena wajah yang familiar tiba-tiba berada tepat di depan wajahku.
“Mwahaha!!! Kaget ya manis?” Aku lupa siapa namanya tetapi cowok dengan memasang tampang seperti itu kuyakini jarang diminati perempuan, kecuali kalau dia punya banyak uang.
Nafasku tidak terkontrol. Aku tidak mengatakan apapun. Aku begitu lelah karena terkejut.
“Dang!” Suara dari balik meja! “Kau sudah masuk! Tidak bisa keluar! Mari lanjutkan pesta!” Dan orang yang mengeluarkan teriakan itupun bangkit dan itu adalah… umm.. siapa ya aku lupa.. dia..
“Tentukan dia masuk kelompok mana!” Ucap suara yang agak berat dari pojok kantin. Dan lalu, hampir semua murid di sekolah itu bangkit keluar dari persembunyian balik meja dengan memegang banyak sekali makanan. Dan mereka saling melempar. Perang makanan!
Aku tidak memegang makanan apapun dan aku berada diantara dua kubu. Aku tahu aku harus menghindari semua makanan itu. Karena kalau yang pakaiannya ternoda banyak, kau tahu kau akan menghadapi hukuman dari murid-murid. Lebih tepatnya kejahilan. Yang mendapatkan noda paling banyak di pakaiannya, dia akan dikerjai habis-habisan. Untukku, tidak, terimakasih deh.
Aku mengindari makanan beberapa kali. Aku menunduk dan hampir tergelincir oleh makanan yang berceceran dan…
“AAAA!” Aku tergelincir.
“Hei ini aku,” Itu suara Jake. “Aku yang menarikmu. Kita aman disini.”
Aku masih tidak berkata-kata sampai kuah kare itu mendarat di rambutku.
“Umm, nggak lagi deng.” Koreksi Jake.
“Ini gila! Konyol! Aku muak sama semua ini!” Emosiku udah nggak terkontrol. Bayangin deh! Hampir 1 tahun disini, 7 kali aku kena marah Mom karena bajuku yang tidak bisa dibersihkan. Dan rambutku, oh kuyakin ular-ular medusa di kepalaku itu semakin menjadi.
Aku bangkit dari bawah meja sambil mengumpat umpatan yang paling kasar. Aku terus berjalan melewati perang itu dan Jake mengikutiku di belakang –sambil menggerutu.
“Hei tunggu Callie! Kita nggak bisa keluar!” Teriak Jake karena kantin semakin ricuh.
Tepat setelah kata-katanya, aku melihat dari arah seberang, seseorang menriakkan “TOMAT UNTUK SEMUAAAAA!!!”
“AAA!!!” Aku berteriak sambil mencoba menghindari tomat-tomat itu –dengan Jake masih mengikuti di belakangku. Aku hampir tergelincir lagi kalau saja Jake tidak memegangiku. Lalu dia berjalan di depanku sambil menggenggam tanganku.
“Hati-hati dengan tomat itu.” Ujar Jake dengan sedikit berteriak. Kami masih mencoba menghindari acara utama, lempar tomat.
“Kita mau kemana sih?” Tanyaku. “Aww…” Tepat di mataku, satu tomat besar –yang sepertinya suah busuk– mendarat.
Kami masih berjalan menghindari tomat-tomat itu. Jake masih menggengam tanganku dengan aku memegangi mataku kesakitan. Kami berjalan ke arah pojok kantin dan Jake menarikku ke bawah meja.
“Awww… pelan-pelan dong!” Omelku padanya. Mataku sakit. Tanganku juga sakit. Jangan sampai kakiku sakit.
Kami berlindung di bawah meja bagian pojok kantin –itu membuat jantungku berdegup kencang karena meja ini mempunyai kolong yang sangat kecil sehingga memaksa kita untuk berhimpitan. Di bawah meja tidak cukup terang untuk melihat wajah Jake dengan jelas. Tapi aku dapat mendengar nafasnya –dan nafasku.
“Maaf banget ya,” Ujarnya. “Kamu nggak apa-apa kan?”
“Hem. Iya,” Jawabku. “Aku nggak apa-apa kalo saja tomat sialan itu nggak meninju mataku.”
Dia menjulurkan tagannya dan menyentuh pipiku.
“Kamu mau ngapain sih?” Ucapku refleks. Aku juga menepis tangannya dari wajahku. Dan detak jangtugku sangat kencang. Aku khawatir Jake mendengarnya.
“Maaf. Aku tidak bisa melihat dengan jelas di mana matamu,” Katanya. Lalu, dia seperti mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah sapu tangan. Dia mengusapkan sapu tangannya itu ke mataku. “Lebih baik?” Aku nggak mengira Jake adalah tipe cowok yang suka membawa sapu tangan kemana-mana.
“Umm.. lumayan,” Aku harus akui itu. Sekarang cairan tomat –yang kurasa busuk– sudah tidak ada di mataku lagi dan berpindah ke sapu tangannya. “Terimakasih banget deh. Bagaimana dengan sapu tanganmu?”
“Ah tenang aja. Ini bukan sapu tanganku. Ini punya Clyte.” Jawabnya dengan enteng. APA?! CLYTE?!
“Kamu mau apasih? Itu kan punya Clyte! Aku– “ Protesku. Lagi-lagi ucapanku di potong. Aku harus berlatih vokal kurasa. Ada yang salah dengan suaraku?
“Aku tahu kok. Tenang aja, aku yang bersihkan.”
“Tapi– “
“Sssttt,” Dia menempelkan jari telunjuknya di bibirku. “Ada yang lewat.” Suara langkah kaki itu menghentikan omelanku padanya.
Dia itu sebenernya mau ngancurin hidup aku atau apa sih? Dia bertingkah seolah pahlawan bagiku dan kadang menjadi sangat brengsek. Oh mungkin itu istilah yang kejam tapi dia pantas karena telah mengusapka sapu tangan CLYTE JOHNSON ke mataku. Apa kata orang nanti?!
Suara langkah kaki itu berlalu dan aku dapat merasakan bahwa Jake tersenyum. Lalu, dia mengacak-ngacak rambutku dengan lembut. Aku menahan nafas. Maksudku, itu sangat manis seperti di novel-novel bagaimana seorang cowok mengacak-ngacak rambut seorang cewek dengan lembut, tapi bagimana kalau rambut cewek itu dipenuhi kuah kare?
Perang makanan berakhir dan kami memutuskan keluar dari persembunyian. Aku tidak melihat Morgan. Tapi sebelum mencarinya aku lebih baik mengganti pakaianku.
“Kau mau kemana?” Tanya Jake.
“Aku mau mengambil baju ke loker,” Jawabku. “Dan langsung ke ruang ganti.”
“Kalau begitu, sampai jumpa.” Dia manis. Ditambah dengan senyumannya membuatku hampir tidak ingin beranjak dari tempatku berdiri menatapnya. Matanya biru. Rambut coklatnya membuat semua wanita – well, aku tidak yakin, mungkin aku saja– ingin mengelusnya. Tidak seperti bagaimana kita ingin mengelus anjing kita, tapi terlebih seperti… aku nggak sanggup bayangin. Dia lumayan keren sih –ternyata.
Saat mataku menjelajahi loker-loker di lorong untuk mencari loker bernomor 153 –lokerku terletak tepat di depan ruang kelas sejarah– aku melihat wajah Morgan Frenngison.
“Oh Morgan. Hai.” Sapaku. Aku berusaha bertingkah seperti biasa.
Dia sibuk membereskan lokernya –tidak untuk mencari baju ganti. Aku rasa dia tidak terjebak dalam perang makanan sialan itu.
“Morgan,” Aku menghela nafas. “Kau baik-baik saja?” Tanyaku hati-hati
“Ya.” Jawabnya –sangat– singkat
.
“Morgan, kau ini kenapa sih? Hello? Ms.Frenngison?”
“Tinggalkan aku. Kau bukan siapa-siapaku lagi.” Jawabannya memang sudah kutebak. Walau sudah kuperkirakan, tapi kalimat itu masih menusuk hatikku. Sangat dalam.
“Kau bicara apa sih? Kita bersahabat,” Tarik nafas yang dalam dan keluarkan perlahan dan katakan. “Aku tahu kau pasti tidak mau berteman dengan perempuan bibir neraka, kan?”
“Kau bicara apa sih? Bibir neraka? Apa?”
“Kau pasti malu mempunyai sahabat seperti aku tapi– “ Ya Tuhan. Baru saja aku ingin meminta maaf.
“Ya! Aku malu punya sahabat, bahkan teman, seperti kau! Seseorang yang tidak menghargai kejujuran dalam persahabatan!” Katanya sinis dan sedikit berteriak. Walau hanya itu yang ia katakan, itu membuat mataku basah.
Morgan ingin beranjak pergi tetapi aku menarik tangannya.
“Biar aku jelaskan. Dengar– “
“Kau meyukai Austin kan? Kenapa kau tidak bilang dari dulu?” Pertanyaannya membuatku kehabisan kata-kata. “Kau masuk klub majalah sekolah kan?” Ya.. sebenarnya.. “Kenapa kau tidak bercerita padaku? Kau mewawancarai Mark Honson?” Itu adalah model yang sangat ia kagumi. “Kenapa kau tidak cerita dan mengajakku? Kau tahu aku sangat mengaguminya kan? Callie, kau menganggapku apa? Sahabatmu bukan? Aku rasa sama sekali tidak.”
sejarah yang paling kejam sejagat raya –well, kami pikir. Dan perginya dia dari sekolah ini, sangat diharapkan. Walaupun mereka para pemandu sorak sangat menggemari Mr. Jody –karena dia yang selalu memuji hasil tarian gila pemandu sorak secara berlebihan. Hah, kayak aku peduli aja sama pemandu sorak. Mr. Jody pernah mempermalukan aku di kelasnya. Aku memakai seragamku dengan acak-acakan –saat itu aku belum sempat merapihkannya karena aku baru saja berganti setelah olahraga dan aku dikejar serangga semacam lebah. Dia bilang aku bodoh dan tidak sepatutnya masuk ke sekolah ini –pemandu sorak tidak pernah diomeli memkai seragam yang kesempitan atau sewaktu-waktu roknya terangkat “tidak sengaja” sampai 5 cm di atas lutut (bahkan mungkin akan lebih).
Aku mulai mendengar kebisingan. Itu berasal dari kantin. Aku memang harus benar-benar kesana.Tapi jujur saja deh, banyak kejanggalan yang tejadi selama aku berjalan di koridor. Tidak ada murid ataupun guru yang berkeliaran. Oke, sebenernya ada. Satu. Abby Cheer. Dia berlari sekuat-kuatnya dari arah kantin, dengan muka tegang dan keringat di sekujur tubuhnya. Tidak terlalu menyenangkan, pikirku. Langkahku mulai mendekati kantin dan bising itupun semakin redup dan lama-kelamaan hilang. Aku jadi semakin bingung –dan jujur, merinding. Sekarang aku benar-benar memasuki kantin dan… kosong?
“AAAA!!!.” Teriakku karena wajah yang familiar tiba-tiba berada tepat di depan wajahku.
“Mwahaha!!! Kaget ya manis?” Aku lupa siapa namanya tetapi cowok dengan memasang tampang seperti itu kuyakini jarang diminati perempuan, kecuali kalau dia punya banyak uang.
Nafasku tidak terkontrol. Aku tidak mengatakan apapun. Aku begitu lelah karena terkejut.
“Dang!” Suara dari balik meja! “Kau sudah masuk! Tidak bisa keluar! Mari lanjutkan pesta!” Dan orang yang mengeluarkan teriakan itupun bangkit dan itu adalah… umm.. siapa ya aku lupa.. dia..
“Tentukan dia masuk kelompok mana!” Ucap suara yang agak berat dari pojok kantin. Dan lalu, hampir semua murid di sekolah itu bangkit keluar dari persembunyian balik meja dengan memegang banyak sekali makanan. Dan mereka saling melempar. Perang makanan!
Aku tidak memegang makanan apapun dan aku berada diantara dua kubu. Aku tahu aku harus menghindari semua makanan itu. Karena kalau yang pakaiannya ternoda banyak, kau tahu kau akan menghadapi hukuman dari murid-murid. Lebih tepatnya kejahilan. Yang mendapatkan noda paling banyak di pakaiannya, dia akan dikerjai habis-habisan. Untukku, tidak, terimakasih deh.
Aku mengindari makanan beberapa kali. Aku menunduk dan hampir tergelincir oleh makanan yang berceceran dan…
“AAAA!” Aku tergelincir.
“Hei ini aku,” Itu suara Jake. “Aku yang menarikmu. Kita aman disini.”
Aku masih tidak berkata-kata sampai kuah kare itu mendarat di rambutku.
“Umm, nggak lagi deng.” Koreksi Jake.
“Ini gila! Konyol! Aku muak sama semua ini!” Emosiku udah nggak terkontrol. Bayangin deh! Hampir 1 tahun disini, 7 kali aku kena marah Mom karena bajuku yang tidak bisa dibersihkan. Dan rambutku, oh kuyakin ular-ular medusa di kepalaku itu semakin menjadi.
Aku bangkit dari bawah meja sambil mengumpat umpatan yang paling kasar. Aku terus berjalan melewati perang itu dan Jake mengikutiku di belakang –sambil menggerutu.
“Hei tunggu Callie! Kita nggak bisa keluar!” Teriak Jake karena kantin semakin ricuh.
Tepat setelah kata-katanya, aku melihat dari arah seberang, seseorang menriakkan “TOMAT UNTUK SEMUAAAAA!!!”
“AAA!!!” Aku berteriak sambil mencoba menghindari tomat-tomat itu –dengan Jake masih mengikuti di belakangku. Aku hampir tergelincir lagi kalau saja Jake tidak memegangiku. Lalu dia berjalan di depanku sambil menggenggam tanganku.
“Hati-hati dengan tomat itu.” Ujar Jake dengan sedikit berteriak. Kami masih mencoba menghindari acara utama, lempar tomat.
“Kita mau kemana sih?” Tanyaku. “Aww…” Tepat di mataku, satu tomat besar –yang sepertinya suah busuk– mendarat.
Kami masih berjalan menghindari tomat-tomat itu. Jake masih menggengam tanganku dengan aku memegangi mataku kesakitan. Kami berjalan ke arah pojok kantin dan Jake menarikku ke bawah meja.
“Awww… pelan-pelan dong!” Omelku padanya. Mataku sakit. Tanganku juga sakit. Jangan sampai kakiku sakit.
Kami berlindung di bawah meja bagian pojok kantin –itu membuat jantungku berdegup kencang karena meja ini mempunyai kolong yang sangat kecil sehingga memaksa kita untuk berhimpitan. Di bawah meja tidak cukup terang untuk melihat wajah Jake dengan jelas. Tapi aku dapat mendengar nafasnya –dan nafasku.
“Maaf banget ya,” Ujarnya. “Kamu nggak apa-apa kan?”
“Hem. Iya,” Jawabku. “Aku nggak apa-apa kalo saja tomat sialan itu nggak meninju mataku.”
Dia menjulurkan tagannya dan menyentuh pipiku.
“Kamu mau ngapain sih?” Ucapku refleks. Aku juga menepis tangannya dari wajahku. Dan detak jangtugku sangat kencang. Aku khawatir Jake mendengarnya.
“Maaf. Aku tidak bisa melihat dengan jelas di mana matamu,” Katanya. Lalu, dia seperti mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah sapu tangan. Dia mengusapkan sapu tangannya itu ke mataku. “Lebih baik?” Aku nggak mengira Jake adalah tipe cowok yang suka membawa sapu tangan kemana-mana.
“Umm.. lumayan,” Aku harus akui itu. Sekarang cairan tomat –yang kurasa busuk– sudah tidak ada di mataku lagi dan berpindah ke sapu tangannya. “Terimakasih banget deh. Bagaimana dengan sapu tanganmu?”
“Ah tenang aja. Ini bukan sapu tanganku. Ini punya Clyte.” Jawabnya dengan enteng. APA?! CLYTE?!
“Kamu mau apasih? Itu kan punya Clyte! Aku– “ Protesku. Lagi-lagi ucapanku di potong. Aku harus berlatih vokal kurasa. Ada yang salah dengan suaraku?
“Aku tahu kok. Tenang aja, aku yang bersihkan.”
“Tapi– “
“Sssttt,” Dia menempelkan jari telunjuknya di bibirku. “Ada yang lewat.” Suara langkah kaki itu menghentikan omelanku padanya.
Dia itu sebenernya mau ngancurin hidup aku atau apa sih? Dia bertingkah seolah pahlawan bagiku dan kadang menjadi sangat brengsek. Oh mungkin itu istilah yang kejam tapi dia pantas karena telah mengusapka sapu tangan CLYTE JOHNSON ke mataku. Apa kata orang nanti?!
Suara langkah kaki itu berlalu dan aku dapat merasakan bahwa Jake tersenyum. Lalu, dia mengacak-ngacak rambutku dengan lembut. Aku menahan nafas. Maksudku, itu sangat manis seperti di novel-novel bagaimana seorang cowok mengacak-ngacak rambut seorang cewek dengan lembut, tapi bagimana kalau rambut cewek itu dipenuhi kuah kare?
Perang makanan berakhir dan kami memutuskan keluar dari persembunyian. Aku tidak melihat Morgan. Tapi sebelum mencarinya aku lebih baik mengganti pakaianku.
“Kau mau kemana?” Tanya Jake.
“Aku mau mengambil baju ke loker,” Jawabku. “Dan langsung ke ruang ganti.”
“Kalau begitu, sampai jumpa.” Dia manis. Ditambah dengan senyumannya membuatku hampir tidak ingin beranjak dari tempatku berdiri menatapnya. Matanya biru. Rambut coklatnya membuat semua wanita – well, aku tidak yakin, mungkin aku saja– ingin mengelusnya. Tidak seperti bagaimana kita ingin mengelus anjing kita, tapi terlebih seperti… aku nggak sanggup bayangin. Dia lumayan keren sih –ternyata.
Saat mataku menjelajahi loker-loker di lorong untuk mencari loker bernomor 153 –lokerku terletak tepat di depan ruang kelas sejarah– aku melihat wajah Morgan Frenngison.
“Oh Morgan. Hai.” Sapaku. Aku berusaha bertingkah seperti biasa.
Dia sibuk membereskan lokernya –tidak untuk mencari baju ganti. Aku rasa dia tidak terjebak dalam perang makanan sialan itu.
“Morgan,” Aku menghela nafas. “Kau baik-baik saja?” Tanyaku hati-hati
“Ya.” Jawabnya –sangat– singkat
.
“Morgan, kau ini kenapa sih? Hello? Ms.Frenngison?”
“Tinggalkan aku. Kau bukan siapa-siapaku lagi.” Jawabannya memang sudah kutebak. Walau sudah kuperkirakan, tapi kalimat itu masih menusuk hatikku. Sangat dalam.
“Kau bicara apa sih? Kita bersahabat,” Tarik nafas yang dalam dan keluarkan perlahan dan katakan. “Aku tahu kau pasti tidak mau berteman dengan perempuan bibir neraka, kan?”
“Kau bicara apa sih? Bibir neraka? Apa?”
“Kau pasti malu mempunyai sahabat seperti aku tapi– “ Ya Tuhan. Baru saja aku ingin meminta maaf.
“Ya! Aku malu punya sahabat, bahkan teman, seperti kau! Seseorang yang tidak menghargai kejujuran dalam persahabatan!” Katanya sinis dan sedikit berteriak. Walau hanya itu yang ia katakan, itu membuat mataku basah.
Morgan ingin beranjak pergi tetapi aku menarik tangannya.
“Biar aku jelaskan. Dengar– “
“Kau meyukai Austin kan? Kenapa kau tidak bilang dari dulu?” Pertanyaannya membuatku kehabisan kata-kata. “Kau masuk klub majalah sekolah kan?” Ya.. sebenarnya.. “Kenapa kau tidak bercerita padaku? Kau mewawancarai Mark Honson?” Itu adalah model yang sangat ia kagumi. “Kenapa kau tidak cerita dan mengajakku? Kau tahu aku sangat mengaguminya kan? Callie, kau menganggapku apa? Sahabatmu bukan? Aku rasa sama sekali tidak.”
No comments:
Post a Comment